Senin, 07 Juni 2010

Indosat Luncurkan HSPA+ di Surabaya

INDOSAT terus memperkuat bisnis layanan datanya. Setelah meluncurkan layanan internet berkecepatan 42 Mbps di Jakarta, Indosat menghadirkannya di Surabaya.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) Indosat Harry Sasongko mengatakan, layanan internet supercepat yang berteknologi HSPA ini merupakan yang pertama di Asia. Bahkan, Indosat adalah operator kedua di dunia setelah Telstra Australia yang menghadirkan teknologi internet dengan kecepatan hingga 42 megabit per detik (Mbps).

"Akselerasi layanan ini menjadik bukti bahwa kita sangat serius menggarap bisnis layanan data yang merupakan salah satu pilar pokok masa depan industri telekomunikasi," ujar Harry Sasongko dalam peluncuran layanan HSPA+ di Surabaya, akhir pekan lalu.

Peluncuran layanan internet HSPA+ berkecepatan 42 Mbps itu didukung oleh teknologi Nokia Siemens Network (NSN). Harry mengatakan, selain resmi merilis layanan internet tersebut, Indosat juga telah memodernisasi jaringannya di Surabaya.

Modernisasi jaringan, menurut Harry, mampu mendukung penciptaan teknologi telekomunikasi yang ramah lingkungan karena mampu mengurangi penggunaan daya listrik sebesar 50%. Kebutuhan ruang juga semakin efisien hingga 50%.

Hal ini juga merupakan upaya Indosat mendukung pencipaan 'Green Telco' di industri telekomunikasi, yang sebelumnya sudah dimulai Indosat dengan memelopori penggunaan energi alternatif bagi BTS seluler.

"Ke depan, setelah HSPA+ 42 Mbps, kami siap mengembangkan layanan data ke arah LTE atau 4G," kata Harry.

Harry menambahkan, pengoperasian layanan HSPA+42 Mbps ini juga sebagai bentuk pemanfaatan tambahan frekuensi 3G yang baru saja didapatkan Indosat. Sampai akhir 2010, Indosat menargetkan 90 kota terlayani jaringan internet tercepat dengan menggunakan teknologi DC-HSPA+.

Upaya Indosat menghadirkan teknologi dual carrier HSPA+ dengan kecepatan akses hingga 42 Mpbs secara komersial memanfaatkan tambahan frekuensi 3G (second carrier) yang belum lama ini diperoleh dari pemerintah.

Sementara itu, Group Head Value Added Services Indosat Teguh Prasetya mengatakan, setelah Jakarta dan Surabaya, layanan Dual Carrier (DC) HSPA+ akan dikembangkan ke kota-kota besar lain. Hal ini menunjukkan keseriusan Indosat mengelola tambahan frekuensi 3G yang dibutuhkan pelanggan mendapatkan kapasitas lebih besar dan kecepatan lebih tinggi bagi akses broadband.

Penerapan HSDPA, HSUPA hingga HSPA+, kata Teguh, adalah komitmen Indosat untuk terus memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus memantapkan posisinya sebagai innovation leader melalui product development dan new technology update.

"Sekarang ini layanan DC-HSPA ada di 62 titik di daerah Jakarta. Sementara itu, daerah-daerah lain seperti Surabaya dan kota-kota besar lainnya segera menyusul," jelasnya.

Teguh menambahkan, kendati sudah dioperasikan di daerah Jakarta. Kecepatan DC-HSPA bisa dipakai di semua brand Indosat. Harapannya melalui semua brand itu konstribusi pelanggan yang menggunakan akses data bisa ditingkatkan lagi. Selama ini konstribusi pelanggan Indosat yang menggunakan akses data mencapai 1,5 juta secara nasional.

Dengan diluncurkannya secara komersial akses internet tercepat menggunakan teknologi Dual Carrier HSPA (DC-HSPA+) yang menghasilkan kecepatan download data hingga 42 Mbps per user. Kecepatan akses dan kapasitas data yang jauh lebih besar yang dihadirkan Indosat ini akan segera dapat dinikmati oleh masyarakat terutama untuk pelanggan mobile broadband Indosat dan IM2.

"Kecepatannya 10 kali lipat dibanding modem biasa. Ke depan, keberadaan DC-HSPA ini bisa memberi konstribusi lebih bagi pengguna akses data. Kecepatan DC-HSPA 21 Mbps dan sudah ready," tuturnya.

Kepala Indosat cabang East Java Bali Nusra (EJBN) Bayu Hanantasena menuturkan, jika tidak ada kendala, jaringan teknologi DC-HSPA bisa dinikmati pada awal Juni 2010. "Target kami nantinya adalah kota-kota besar yang sudah ada 3G siap ditambah kecepatannya," tuturnya.

Kota-kota besar di Jawa Timur yang menjadi bidikan Indosat, lanjut dia, di antaranya Malang, Jember, dan Madiun. Untuk sementara layanan DC-HSPA yang ada jaringan 3G. Sedangkan untuk jaringan yang belum ada 3G baru bisa menikmati layanan internet dengan kecepatan dibawah 21 Mbps.



Lanjut ah...

Indonesia Segera Gunakan IPv6

KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mulai mengantisipasi kelangkaan slot protokol internet versi 4 (IPv4) di dunia. Para operator telekomunikasi siap mendeklarasikan penggunaan versi baru IPv6 sebagai solusi krisis versi lama.

“Sesuai dengan prediksi akurat dari berbagai pemangku kepentingan, IPv4 hanya akan tersisa 6% dari persediaan IPv4 di seluruh dunia. Kondisi krisis diperkirakan terjadi pada tahun 2012,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto dalam keterangan resminya akhir pekan lalu.

Alokasi tersebut diperkirakan habis terdistribusi pada akhir tahun 2011. “Memang masyarakat internasional belum merasakan langsung dampaknya karena masih akan tersisa kira-kira waktu satu tahun,” jelas Gatot.

Strategi IP private masih menjadi solusi sementara untuk mengantisipasi kelangkaan jalur internet. Namun, dalam periode 2011-2012 diperkirakan terdapat tiga miliar pengguna internet dengan komposisi seimbang antara pengguna komputer (PC) dan ponsel.

Kondisi terburuk diprediksi terjadi pada tahun 2012 di mana para penyelenggara internet di seluruh dunia kesulitan menjual layanannya. Para operator kehabisan jatah IPv4 untuk layanannya yang berbasis IP. Akibatnya, konsumen akan merasakan dampak buruk dari kelangkaan layanan internet.

“Kekurangan IPv4 di tingkat infrastruktur juga berakibat terhadap kesulitan pengembangan layanan-layanan baru, karena setiap server baru yang diinstal akan membutuhkan pengalaman berbasis IP,” kata Gatot.

Dia menyebutkan pentingnya strategi yang optimal untuk mempersiapkan serta momentum yang tepat untuk mengimplementasikan versi lanjutan IPv6. Waktu dua tahun yang tersisa ini akan digunakan seluruh pemangku kepentingan industri internet Indonesia untuk mempersiapkan diri secara maksimal.

Menkominfo Tifatul Sembiring direncanakan akan membuka secara resmi IPv6 Summit di Bali pada 9 Juni 2010. Acara tesebut akan dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari dalam dan luar negeri, serta menjadi deklarasi seluruh penyelenggara telekomunikasi untuk mengadopsi IPv6.

“Sejauh ini, jaringan Telkomsel, Indosat dan IM2 sudah siap dengan IPv6. Sedangkan Telkom, XL Axiata, Bakrie Telecom, CBN, Icon+, Cyber Access, dan Radnet siap mengadopsinya pada akhir tahun ini. Sementara itu, DNet akan siap pada 2011,” ujar Gatot.

Secara teknis, IPv6 memiliki keunggulan dengan jumlah total 2.128, yang dapat memberikan alamat kepada 3,4 x 10 38 (10 pangkat 38) pengguna. Selain itu, versi ini menyediakan fitur jumbogram yang menyediakan jalur blok-blok data yang melewati jalur-jalur internet masa kini.

"Waktu dua tahun tersisa ini mesti dapat digunakan sebagai waktu persiapan yang maksimal, dan menjadi tanggung jawab bersama seluruh stakeholder industri internet Indonesia untuk membuat rencana aksi yang optimal dan tepat waktu sehingga diharapkan para pengguna internet di Indonesia pun dapat melewati masa krisis IPv4 pada 2012," kata Gatot.

Kemkominfo menyadari, jumlah penduduk Indonesia yang besar, disertai terus tumbuhnya penggunaan layanan telekomunikasi khususnya internet, terus membutuhkan dukungan dari infrastruktur telekomunikasi yang di era next generation network (NGN) ini tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan IP. Maka kebutuhan dukungan IP ini, perlu disikapi dengan rencana aksi implementasi IPv6 yang secara umum di seluruh dunia diketahui merupakan solusi dari menipisnya ketersediaan IPv4.

Kemkominfo menyatakan dukungan terhadap rencana implementasi IPv6 secara menyeluruh di Indonesia, melalui tahapan yang tepat dengan rencana yang matang, sehingga menghasilkan kemanfaatan yang maksimal untuk perkembangan telekomunikasi, khususnya internet di negeri ini.



Lanjut ah...

Sabtu, 05 Juni 2010

Operator Berebut Jadi Penguasa Broadband

PERANG tarif bukan lagi tema persaingan, karena tarif operator semua murah. Pertarungan telah beralih ke data. Operator pun berlomba adu gengsi menghadirkan internet kecepatan tinggi, meski potensinya masih kecil.

PT XL Axiata Tbk, PT Indosat Tbk dan Telkomsel bersaing ingin menjadi penguasa broadband. Telkomsel yang sudah unggul dalam basis pelanggan tak mau terlibas pada layanan data. Operator dengan jumlah pelanggan lebih dari 83 juta ini ingin melanjutkan kedigdayaannya sebagai penguasa broadband.

Telkomsel adalah operator pertama yang menghadirkan layanan data berteknologi high speed packet access (HSPA)+ dengan kecepatan akses hingga 21 megabit per detik (Mbps). Telkomsel akan menghadirkan teknologi generasi 3,5 (3,5G) itu di 24 kota besar di seluruh Indonesia.

Namun, Indosat tak mau kalah. Setelah menyusul menghadirkan HSPA+ berkecepatan 21 Mbps pada tahun lalu, pada awal 2010 Indosat berani menghadirkan HSPA+ berkecepatan hingga 42 Mbps. Indosat mengklaim sebagai operator pertama di Asia dan operator kedua di dunia (setelah Telstra) yang berani menghadirkan HSPA+ 42 Mbps. Bahkan, Indosat berniat menghadirkan HSPA+ ini di 90 kota besar di Tanah Air.

"Sementara ini, HSPA+ Indosat berkecepatan 42 Mbps ini masih di Jakarta dan Surabaya. Nanti menyusul kota besar lainnya," kata Presiden Direktur dan CEO Indosat Harry Sasongko di Surabaya belum lama ini.

Operator XL masih tertinggal dengan teknologi HSPA. Namun, operator terbesar ketiga di Indonesia bertekad untuk menguji coba layanan data berteknologi generasi keempat (4G) pada akhir tahun ini. "Kami tidak main teknologi yang hanya ditambah plus (+) saja. Itu hanya gimmick-marketing. Kami ingin LTE, dan kami ingin segera menguji cobanya,” ujar Presdir PT XL Axiata Tbk Hasnul Suhaimi.

Padahal, Telkomsel sejatinya sudah lebih dulu menguji coba teknologi Long Term Evolution (LTE) bersama induk usahanya di Singapura, Singtel.

Inilah peta persaingan layanan telekomunikasi saat ini. “Wajar operator bersaing sampai 4G. Tapi jangan lupakan kualitas jaringan dan layanan,” ujar Sekjen Indonesia Telecommunications User Group (IdTUG) Muhamad Jumadi beberapa waktu lalu.

Sebagai pengguna layanan telekomunikasi, Jumadi amat berkepentingan dengan kualitas jaringan dan layanan. Ia tak ingin operator berlomba ke LTE, tapi melupakan kualitas. “Lebih baik, operator memaksimalkan 3G. Operator jangan cuma untuk jaga gengsi atau demi bersaing dengan operator Wimax,” kata dia.

Pengamat telekomunikasi dari Surabaya Oki Tri Utomo mengatakan, masyarakat Indonesia saat ini belum memerlukan layanan 4G. Oleh karena itu, operator sebaiknya memaksimalkan teknologi layanan data yang ada, baik 3G, 3,5G atau pun Wimax. Selain itu, ekosistem aplikasi, konten, komunitas, permintaan dan regulasi masih membatasi.

“Jika melihat ekosistem yang ada, Indonesia masih butuh waktu 2-3 tahun lagi jika memang aspek pendukungnya sudah siap,” jelas Oki. Negara yang sudah menerapkan LTE antara lain Norwegia, Swedia dan Amerika Serikat. Singapura satu-satunya negara yang sudah melakukan uji coba LTE secara resmi.

Tantangan Market Leader

Para pemain di industri telekomunikasi menyadari, ini adalah era layanan data. Oleh karena itu, operator berlomba ingin menjadi yang pertama dalam menerapkan teknologi termutakhir. Inilah tantangan bagi Telkomsel, penguasa pasar telekomunikasi seluler di Indonesia.

Akhir tahun lalu, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menegaskan tentang komitmennya untuk membangun layanan data berteknologi HSPA+ berkecepatan hingga 21 Mbps di 24 kota. Selain itu, Telkomsel juga ‘ngebut’ mempersiapkan pengoperasian LTE secara komersial pada 2012.

"Kami terus mematangkan akses internet supercepat sampai 100 Mbps. Itulah LTE,” ujar Sarwoto.

Operator dengan pelanggan Flash (layanan data) 2,4 juta dan didukung 5.000 BTS 3G (dari 27.200 BTS) ini mengalokasikan 10% dana belanja modalnya (capex) untuk meningkatkan kualitas layanan data ke HSPA+ itu. Total dana capex 2010 adalah US$ 1,5 miliar atau Rp 13 triliun, yang berarti dana yang dialokasikan untuk data sekitar Rp 1,3 triliun.

Peta jalan perkembangan teknologi GSM memang mengarah ke LTE, dan jenjangnya memang harus melewati HSPA+. Oleh karena itu, Telkomsel mulai menguji coba LTE pada frekuensi yang ada dan dengan memanfaatkan jaringan yang ada. "Kami tidak mungkin membuang aset jaringan existing, karena cost-nya sangat mahal. Yang ada saat ini HSPA+ tinggal di-update saja. Begitu seterusnya,” jelasnya.

Secara prinsip, kata Sarwoto, LTE sebenarnya sama dengan HSPA+ atau bahkan 3G. ”Bedanya cuma akses, lebih cepat. Sesungguhnya HSPA+ kan sudah sangat cepat. Jadi ini kita lakukan bertahap dengan persiapan matang, dan tak perlu terburu-buru,” kata dia.

Selain itu, lanjut Sarwoto, para penyedia konten (content provider) di Tanah Air harus pula bersiap. "Pipa sudah dibuka, silakan content provider berlomba mengisi. Kami menyediakan infrastruktur yang mudah dan murah bagi content provider. Anak-anak muda, para kreator bisa terfasilitasi, termasuk usaha kecil dan menengah," jelasnya.

Sarwoto yang juga ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), mengatakan, teknologi LTE membutuhkan biaya investasi besar. Pengoperasiannya perlu dukungan pemerintah. "Infrastrukturnya luar biasa besar. Backbone harus disiapkan, ready IP, metro internet. Tidak semua operator siap menerapkannya,” ujar Sarwoto.


Lanjut ah...

Jumat, 04 Juni 2010

Tri Tawarkan Diskon Belanja Hingga 50%

PT HUTCHISON CP Telecommunication (HCPT), operator Tri, menghadirkan layanan Zona Belanja 3. Layanan ini memberikan diskon khusus hingga 50% berbelanja di beberapa outlet pakaian, resto, pusat kebugaran, spa, hotel dan agen perjalanan di lima kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya dan Bali.

“Zona Belanja 3 merupakan layanan diskon yang kami hadirkan bagi pelanggan Tri. Program ini sebagai upaya kami memberikan nilai lebih kepada pelanggan. Kartu Tri tidak sekadar untuk komunikasi, juga bisa memberikan manfaat lebih bagi pelanggan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya,” ujar Chief Commercial Officer PT HCPT Suresh Reddy dalam siaran pers, Kamis (3/6).

Layanan Zona Belanja 3 telah tersedia sejak pertengahan 2009 dan terus dikembangkan guna memberikan banyak manfaat bagi pelanggan. Cara mudah untuk mendapatkan diskon ini adalah isi ulang minimal 10.000 dan ketik ZONABELANJA lalu kirim ke nomor 628 (SMS Gratis). Pelanggan akan dikenakan tarif Rp 500 – Rp 1,000 ketika menerima konfirmasi diskon yang akan diambil.

Dengan menunjukkan SMS balasan ke resto, pusat kebugaran, hotel, spa, agen perjalanan atau outlet pakaian yang dituju untuk mendapatkan diskon belanja yang bervariasi hingga 50%. Di antara mitra yang memberikan diskon adalah Poke Sushi, Lee Cooper, Mbok Berek, Martha Tilaar salon dan spa dan lain lain.

“Untuk sementara Zona Belanja 3 baru melayani pelanggan Tri di lima kota besar. Dalam waktu dekat cakupan Zona Belanja 3 akan kami kembangkan ke kota kota lainnya,” kata Suresh.



Lanjut ah...

Kamis, 03 Juni 2010

Internet Mobile Lebih Populer di Indonesia

SITUS jejaring sosial masih menjadi pemicu utama pertumbuhan penggunaan layanan internet bergerak di Indonesia. Selain itu, pengakses internet melalui telepon seluler (ponsel) atau layar kecil (small screen) makin banyak.

Penelitian yang dilakukan PT Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia pada awal 2010 membuktikan, penggunaan ponsel untuk mengakses internet lebih tinggi dibandingkan melalui komputer (PC).

Survei yang didukung Yahoo Indonesia ini dilakukan terhadap 1.500 pengguna internet di tujuh kota urban di Indonesia. TNS mencatan 48% responden mengakses internet melalui ponsel, sedangkan tahun lalu hanya 26%.

Survei International Data Corporation (IDC) dalam New Media Market Model juga mencatat penetrasi internet mobile di Indonesia meningkat dari 63,4% pada 2009 menjadi 69% pada 2010. IDC juga memperkirakan, penetrasi internet mobile akan mencapai 73,2% pada 2011. Saat ini, pengguna internet di Indonesia mencapai 25,4 juta.

“Pengguna internet di Indonesia lebih memilih berselancar menggunakan ponsel karena lebih terjangkau dengan dukungan paket data unlimited,” kata Business Director TNS Indonesia Khartik Venkatakrishnan di Jakarta, belum lama ini.

Sebanyak 77% responden terbukti memanfaatkan internet untuk membuka situs jejaring sosial, meningkat 19% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Akses jejaring sosial telah menggeser penggunaan email serta instant messaging sebagai media berinteraksi. Facebook menjadi situs yang paling diminati dengan populasi sekitar 24 juta akun di Indonesia saat ini.

Popularitas penggunaan akses jejaring sosial di Indonesia melalui ponsel menjadi fenomena yang unik. “Di negara-negara lain, orang menggunakan PC untuk mengakses internet sebelum akhirnya menggunakan ponsel. Tetapi, di sini terbalik,” ungkap Karthik.

Kurangnya infrastruktur sambungan internet jaringan tetap (fixed-line) dan harga PC yang lebih tinggi dibandingkan harga ponsel menjadi penyebab fenomena tersebut, khususnya di daerah-daerah terpencil.

Temuan-temuan dalam Net Index TNS ini memastikan peluang-peluang bisnis dapat diraih dari komunitas online yang semakin berkembang dan aktif. “Kami percaya Indonesia merupakan pasar yang bertumbuh paling cepat utuk internet dan berharap dapat lebih mendalami interaksi dengan orang-orang Indonesia melalui media online dan pengiklan lokal,” papar Budi Putra, Country Editor Yahoo Indonesia.

Dia mengatakan, temuan yang disajikan melalui kajian Net Index memungkinkan merek-merek serta pengiklan untuk menjangkau jutaan orang di Yahoo setiap bulan.

Yahoo juga telah mengakuisisi portal jejaring sosial berbasis lokasi geografis Koprol baru-baru ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperbesar audiens serta peluang bisnis Yahoo di area lokal. Koprol saat ini telah menjaring sebanyak 75 ribu akun pengguna.

Meskipun penetrasi internet mobile meningkat, ceruk bisnis iklan melalui media online di Indonesia terbilang masih kecil. Survei lembaga riset Nielsen sepanjang tahun 2009 menunjukkan belanja iklan pada media online masih kurang dari 1% dari total belanja iklan sebesar Rp48,5 triliun.


Lanjut ah...

Telkom Hadirkan Solusi ERP Gratis buat UKM

JAKARTA - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) meluncurkan Bonastoco, sebuah aplikasi akutansi terintegrasi yang gratis buat usaha kecil dan menengah (UKM). Speedy ERP Bonastoco ini adalah solusi Enterprise Resources Planning (ERP) yang meliputi modul Point of Sales (POS), pengelolaan persediaan (inventory) dan modul akunting.

Direktur IT & Supply Telkom Indra Utoyo mengatakan, untuk mendapatkan solusi ERP tersebut secara gratis, UKM cukup berlangganan akses internet Speedy. Saat ini Telkom menyediakan dua paket layanan, yakni Speedy Bonastoco Standar untuk tiga pengguna (users) dengan biaya Rp265 ribu per bulan, dan paket Speedy Bonastoco Premium untuk enam pengguna (users) dengan tarif Rp 365 ribu per bulan.

"Saat ini sudah ada 20-an komunitas yang mengunakan layanan terbaru Telkom ini. Kami targetkan, ada 60 ribu pelanggan sampai akhir tahun ini," kata Indra Utoyo di Jakarta, Rabu (2/6).

Indra menjelaskan, solusi ERP gratis yang ditawarkan Telkom itu merupakan hasil kerja sama dengan PT Iforsys. Dalam kerja sama itu, setiap pelanggan Speedy Bonastoco disisihkan Rp 70 ribu untuk solusi yang dipotong dari biaya langganan. "Dari Rp 70 ribu itu, 75% untuk Iforsys dan 25% untuk Telkom, yang digunakan untuk services dan lain-lain," kata dia.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menambahkan, solusi ERP lengkap itu hanya ditawarkan gratis bagi UKM di seluruh Indonesia. Sedangkan bagi pengusaha besar, solusi itu bisa diperoleh dengan harga tak kurang dari Rp 75 juta per lisensi.

Eddy mengatakan, solusi Bonastoco itu amat berguna bagi UKM untuk memonitor stok kapan saja dan di mana saja, bahkan lewat handphone. "Nantinya fitur Bonastoco ini akan dilengkapi dengan fitur untuk memantau penjualan," kata Eddy.

Solusi aplikasi Bonastoco terutama ditujukan, tak terkecuali untuk supermarket, minimarket atau jaringan toko. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat melihat laporan operasional seperti penjualan (sales) dan persediaan (stock) di setiap cabang. Pemantauan bisa dilakukan melalui handphone atau laptop di mana saja. "Untuk memantaunya, pengguna cukup mencari hotspot atau WiFi Speedy di mana saja," kata dia.

Eddy menambahkan, sebagai perkakas ERP, Bonastoco dapat menyeimbangkan persediaan dan permintaan perusahaan secara menyeluruh, berkemampuan untuk menghubungkan pelanggan dan pemasok dalam satu kesatuan rantai ketersediaan. Solusi ini mengadopsi proses-proses bisnis yang telah terbukti dalam pengambilan keputusan, dan mengintegrasikan seluruh bagian fungsional perusahaan (penjualan, pemasaran, manufacturing, operations, logistik, pembelian, keuangan, pengembangan produk baru, dan sumberdaya manusia).

Dengan solusi ini, lanjut Eddy, bisnis dapat berjalan dengan tingkat pelayanan pelanggan dan produktifitas yang tinggi, biaya dan inventory yang lebih rendah, dan menyediakan dasar untuk e-commerce yang efektif. Keunikan produk ini dapat menghubungkan sesama pemakai Bonastoco untuk saling berbagi informasi produk, profil perusahaan, dalam menu searching berbasis web. Sesama member atau pengguna Bonastoco dapat saling bertukar data bisnis atau mengeluarkan Pesanan Pembelian (PO, Purchase Order) secara online. ”Melalui aplikasi ini pengguna dapat mempromosikan produk di pasar internet Bonastoco semudah klik, tanpa persiapan teknis dan tanpa biaya,” terang Eddy.


Lanjut ah...

Rabu, 02 Juni 2010

XL Alokasikan Rp 1 Triliun untuk Data

OPERATOR seluler berlomba meningkatkan investasi untuk memperkuat dan meningkatkan layanan data. Setelah Telkomsel mengumumkan alokasi dana sebesar Rp 1,3 triliun untuk perkuatan layanan data, XL juga mengalokasikan Rp 1 triliun untuk meningkatkan layanan data.

Head of Mobile Data Services PT XL Axiata Tbk Budi Harjono mengatakan, manajemen PT XL Axiata Tbk telah berkeputusan untuk menyisihkan dana sebesar 25% dari total belanja modal (capex) 2010 yang sebesar US$ 450 juta untuk meningkatkan layanan data. Langkah ini sejalan dengan makin meningkatnya kontribusi pendapatan dari layanan data terhadap total pendapatan XL.

Pada kuartal I-2010, kata Budi, kontribusi pendapatan layanan data telah mencapai 12,5% dari total pendapatan perseroan yang sebesar Rp 4,2 triliun. Total pendapatan kuartal I-2010 itu naik 42% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan kontribusi pendapatan layanan data pada kuartal I-2010 itu naik 349% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu.

“Kami optimistis kontribusi layanan data dan value added service (VAS) terhadap pendapatan perseroan dapat mencapai dua digit pada tahun ini,” kata Head of Mobile Data Services PT XL Axiata Tbk Budi Harjono di sela peluncuran XL Konten Gila di Jakarta, Selasa (1/6).

Budi mengatakan, salah satu yang mendukung optimisme itu tak lain adalah peningkatan jumlah pelanggan data XL yang kini telah mencapai 12,4 juta atau meningkat 35% dibanding periode yang sama tahun lalu. Itu berarti, pelanggan data XL mencapai 38% dari total pelanggan XL yang kini mencapai 32,6 juta.

Selain itu, optimisme itu juga didukung manajemen dengan mengalokasikan seperempat capex 2010 untuk meningkatkan kualitas layanan data XL. Capex XL 2010 sebesar US$ 450 juta, dan untuk layanan data sebesar US$ 112,5 juta atau sekitar Rp 1 triliun.

Masih Harus Berjuang

Namun demikian, XL masih harus berjuang untuk menyamai dua kompetitor utamanya, Telkomsel dan Indosat yang sudah memiliki tambahan kanal frekuensi 3G. Pada tahun lalu, Telkomsel dan Indosat berani membayar tambahan kanal 3G masing-masing sebesar Rp 160 miliar. Sedangkan XL tak berani mengambil frekuensi 3G tambahan (second carrier) itu.

Selain itu, Indosat dan Telkomsel juga sama-sama telah mengumumkan kesiapan jaringan mereka memberikan layanan high speed packet access (HSPA) plus. Pelanggan Telkomsel kini bisa mengakses data dengan kecepatan 21 megabit per detik (Mbps) dengan teknologi HSPA+. Sedangkan Indosat baru-baru ini mengumumkan telah menyediakan layanan data dengan kecepatan hingga 42 Mbps.

Selain itu, dana yang disisihkan XL untuk memperkuat layanan data itu sedikit di bawah Telkomsel yang menyisihkan dana untuk memperkuat layanan data sebesar Rp 1,3 triliun atau 10% dari total capex Telkomsel 2010 yang mencapai US$ 1,5 miliar atau Rp 13 triliun.

Beberapa waktu lalu, Vice President Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengatakan, total pelanggan data Telkomsel saat ini telah mencapai 14 juta dan ditargetkan menjadi 20 juta pada akhir tahun ini. Sedangkan total pelanggan Flash saat ini 2,4 juta dan ditargetkan menjadi lima juta pada akhir tahun ini.

“Saat ini kontribusi layanan data sekitar 8% dan kami harapkan bisa menjadi di atas 10% pada tahun ini,” kata Gideon saat peluncuran kartu perdana Flash Unlimited di Jakarta belum lama ini. Peluncuran kartu perdana Flash Unlimited merupakan langkah untuk mencapai target itu.

Sedangkan, Indosat belum mengumumkan berapa alokasi dana capex yang dikhususkan untuk memperkuat layanan data. Dari total capex tahun ini yang diperkirakan sekitar US$ 550-700 juta, sebagian besar (US$ 385-490 juta) akan digunakan untuk memodernisasi jaringan dan peralatan telekomunikasi.

Presiden Direktur dan CEO Indosat Harry Sasongko, bulan lalu, mengatakan, perseroan akan fokus untuk meningkatkan kualitas jaringan dan berupaya mengejar pertumbuhan layanan data.

Pada kesempatan lain, Regional Head Ericsson Wilayah Asia Tenggara dan Oseania Arun Bansal mengatakan, layanan data akan menjadi tumpuan operator dalam menjaring pemasukan. Namun, hal tersebut bergantung kepada strategi bisnis masing-masing operator.

“Pertumbuhan revenue layanan data operator menjadi dua digit sangat mungkin terealisasi. Itu tergantung strategi operator. Selain itu, investasi jaringan sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis data,” kata Arun.

Survei ConsumerLab mencatat, penggunaan layanan data pada kurun 2005-2009 naik dua kali lipat dari 4% menjadi 8%. Namun layanan tradisional (suara dan SMS) masih mendominasi, yakni di atas 95%.



Lanjut ah...