Selasa, 29 Juni 2010

First Media Gelar Wimax 4G

MASYARAKAT di kawasan Jadebotabek dan Banten tak lama lagi akan menikmati akses internet berkecepatan. PT First Media Tbk, perusahaan dalam payung Group Lippo, mulai membangun jaringan internet kecepatan tinggi berteknologi Wimax generasi keempat (4G) dengan investasi US$ 350 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun.

First Media adalah pemegang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) untuk zona Jadebotabek dan Banten, serta zona Aceh dan Sumatera bagian Utara. Untuk mendapatkan lisensi di dua zona itu, perusahaan ini telah membayar kewajiban berupa upfront fee dan biaya hak penggunaan (BHP) kepada pemerintah sekitar Rp 236 miliar. Kini, operator BWA itu mulai mengimplementasikan Wimax 4G di dua zona itu sebagai tahap uji coba.

Dirjen Postel Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Muhammad Budi Setiawan menilai, jaringan Wimax yang digelar First Media telah memenuhi syarat, termauk syarat penggunaan perangkat Wimax dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimum sebesar 35%.

“Kami juga sudah melakukan uji laik operasi (ULO) dua minggu yang lalu dan berharap Sitra cepat mengejar implementasinya di zona 1,” kata Muhammad Budi Setiawan di Karawaci, Banten, Senin (28/6).

Lampu hijau dari Dirjen Postel Kemenkominfo itu membuat Presiden Direktur First Media Hengkie Liwanto makin bersemangat untuk segera menghadirkan layanan akses internet berkecepatan tinggi kepada masyarakat, terutama di dua wilayah ‘kekuasaan’ First Media itu, yakni zona Jadebotabek dan Banten, serta zona Aceh dan Sumatera bagian utara. Produk layanan data berkecepatan tinggi yang ditawarkan First Media itu adalah Sitra.

“Secara populasi, di dua zona itu ada 41 juta penduduk. Dan, kami berkomintmen untuk menghadirkan layanan internet yang terjangkau bagi masyarakat,” kata Hengkie Liwanto.

Layanan akses internet kecepatan tinggi tersebut menggunakan teknologi Wimax 16d, seperti yang disaratkan pemerintah. Yakni, menggunakan perangkat Wimax yang memenuhi kandungan lokal 35%. Perangkat jaringan yang digunakan akan produk buatan lokal, PT Teknologi Riset Group (TRG).

Selain menggunakan perangkat Wimax buatan TRG, First Media juga mengandalkan infrastruktur jaringan serat optik miliknya yang sudah membentang sepanjang 5.000 kilometer (km), yang menghubungkan 600 titik penghubung (node) dengan point of presence (PoP).

Wimax, menurut Hengkie, telah terbukti kesuksesannya di banyak negara. Ini berbeda dengan teknologi 4G GSM atau yang dikenal dengan Long Term Evolution (LTE) yang hingga kini masih wacana. “Kalaupun jadi, LTE dikomersialkan paling cepat tiga tahun lagi. Dan kami bangga menghadirkan teknologi Wimax pertama di Indonesia,” kata dia.

Target 1 Juta Pelanggan

Hengkie mengatakan, sebagai operator Wimax 4G pertama, First Media ingin mengikuti sukses operator Wimax di Amerika Serikat (AS), yakni Clearwire. “Jika di Amerika, Clearwire bisa menjaring satu juta pelanggan dalam 18 bulan, tapi kami ingin lebih dari itu,” kata Hengkie.

Mendengar target itu, Presiden Sitra Kumaran Singaram mengerutkan dahi. Namun Kumaran menjelaskan bahwa ia amat optimistis dalam tahun pertama, Sitra bisa mengakuisisi 100-150 ribu pelanggan dengan komposisi 80% pelanggan di zona Jadebotabek dan Banten, serta 20% di zona Aceh dan Sumatera bagian Utara. Target tersebut akan terus ditingkatkan menjadi 500 ribu pelanggan dalam tiga tahun hingga 1 juta pelanggan Sitra pada tahun 2015.

“Untuk penggelaran tiga bulan pertama, kami masih akan fokus di wilayah Jabodetabek,” kata Singaram. Sitra akan meluncurkan layanannya di zona 1 menjelang akhir tahun ini.

“Kami mengincar segmen pasar dari kalangan pelajar, consumer, serta small-medium business (SMB),” kata Singaram. Sitra mengklaim tarif maksimum untuk layanan Wimax produknya hanya mencapai Rp400 ribu/bulan.

“Optimalisasi pasar dapat dicapai jika harga bisa terjangkau. Saat ini, biaya untuk membangun infrastruktur Wimax masih sangat tinggi, tapi kami tetap akan memberikan harga konsumen di bawah rata-rata tarif broadband,” kata Hengki.

First Media berharap Sitra dapat memberikan kontribusi yang signifikan kepada perseroan. Perseroan menargetkan meraup pendapatan Rp900 miliar-1 triliun pada tahun ini. Target tersebut meningkat sekitar 15% dari pendapatan tahun lalu yang mencapai Rp720 miliar. Hingga Mei 2010, First Media telah melayani sekitar 300 ribu pelanggan yang mencakup 60% pelanggan internet kabel dan 30% pelanggan televisi berbayar.

Bangun Pasar Wimax

Hengki menjelaskan potensi pasar bisnis Wimax masih sangat prematur karena di Indonesia belum ada pemain yang berani meluncurkan layanan berkecepatan unduh maksimum 144 Mbps tersebut. Dukungan ekosistem Wimax seperti infrastruktur jaringan hingga perangkat untuk pengguna layanan masih minim.

Meskipun demikian, dia menganggap layanan ini cukup menggiurkan mengingat potensi pasar yang dapat dirambah masih sangat besar. Data yang dikutip dari International Telecommunication Union (ITU) mencatat penetrasi internet di Indonesia baru mencapai 13% dari 240 juta populasi, atau sekitar 30 juta pengguna. Dari 30 juta pengguna tersebut, hanya sekitar 4 juta pengguna yang kebagian akses internet berkecepatan tinggi.

Sekjen Masyarakat Telematika (Mstel) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan langkah pionir First Media dapat dijadikan acuan kepada pemerintah untuk memberikan peluang teknologi selanjutnya yaitu 16e (Wimax Mobile).

“First Media sudah menunjukkan komitmennya kepada pemerintah dengan implementasi layanan Wimax 16d. Apa yang dilakukan perusahaan ini dapat dijadikan best practice bagi pemerintah untuk mencapai sebuah win-win solution,” papar Mas Wigrantoro.

Dia mengatakan, bisnis layanan data dengan teknologi 16d atau fixed Wimax dapat berjalan optimal bila dikombinasikan dengan layanan mobile 16e. “Operator dapat memenuhi kebutuhan pasar yang menginginkan layanan fixed maupun permintaan dari pasar yang membutuhkan layanan data bergerak,” jelas dia.

Selama ini, kebutuhan layanan data bergerak masih dipenuhi oleh para operator seluler yang mulai mempersiapkan diri menyongsong teknologi teknologi long term evolution (LTE). Ketua Komite Tetap bidang Teknologi dan Informasi (TI) Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sylvia Sumarlin mengatakan layanan Wimax dapat berjalan beriringan dengan LTE di masa datang.

“Wimax mempunyai keandalan dalam menghantar data karena spektrumnya hanya digunakan untuk melakukan transfer Internet Protocol (IP), berbeda denga LTE yang landasan teknologinya berangkat dari voice dengan penyepurnaan untuk akses data,” jelas Sylvia. Selain itu, landasan arsitektur Wimax memiliki fitur dasar yang terbuka, sehingga teknologi ini dapat dikembangkan oleh siapapun.

Sylvia berharap pemerintah menetapkan netralitas penggunaan teknologi 16d dan 16e dengan tetap mementingkan unsur TKDN. “Kalau pemerintah memegang prinsip technology neutral, industri Wimax bisa menjadi raja di negeri sendiri,” tegasnya.

Hengki juga mengungkapkan keinginan pihaknya untuk mengimplementasi teknologi 16e untuk memaksimalkan penggunaan teknologi Wimax di Indonesia.

Wimax Masih Tersendat

Pasca penggelaran tender BWA Wimax untuk frekuensi 2,3 GHz tahun lalu, pemerintah cukup menaruh harapan terhadap kelima operator pemenang untuk meningkatkan peentrasi internet di Indonesia.

Akhir Juni 2010, First Media mengambil langkah cepat dengan melakukan komersialisasi layanan Wimax yang pertama di Indonesia. “Regulator memegang peranan yang sangat penting dalam mendukung implementasi Wimax di Indonesia,” papar Singaram.

Namun, penggelaran layanan berbasis tetap dengan sertifikasi 16d ini tidak berjalan mulus. Dari delapan pemegang lisensi, Kemenkominfo telah mencoret tiga pemain, yaitu PT Internux, Konsorsium WTU, Konsorsium PT Comtronics Systems dan PT Adiwarta Perdania serta Konsorsium PT Konsorsium Wireless Telecom Universal (WTU) karena menunggak kewajibannya.

Akibatnya, pemerintah ‘terpaksa’ melakukan tender ulang untuk tujuh zona yang ditinggal pemiliknya. Pemerintah akan membuka lelang untuk zona 4 (Jabodetabek dan Banten), zona 5 (Jawa barat minus Botabek), zona 6 (Jawa bagian Tengah), zona 7 (Jawa bagian Timur), zona 9 (Papua), zona 10 (Maluku dan Maluku Utara), serta zona 15 (Kepulauan Riau termasuk Batam dan Bintan).

Setelah First Media meluncurkan Sitra, beberapa operator masih belum berani meluncurkan layanannya. “Karena ini akan menjadi layanan jangka panjang, kami masih perlu mempertimbangkan beberapa hal terkait implementasi Wimax,” kata Vice President Public & Marketing Communication PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom).

Saat ini, Telkom masih memetakan pasar Wimax untuk dapat berjalan beriringan dengan produk layanan data kabel lainnya, yaitu Speedy. “Kami juga belum mengajukan ULO karena masih harus melakukan crosscheck untuk semua hal,” tambah Eddy.



Lanjut ah...

Acer Garap Komunitas Mahasiswa

ACER, vendor komputer dari Taiwan, makin gencar melakukan penetrasi pasar di Indonesia, terutama untuk ke komunitas kampus. Langkah ini tak lain untuk memenuhi tingginya pertumbuhan pengguna internet dewasa ini, khususnya untuk kalangan mahasiswa.

Head of Marketing Communications Acer Group Indonesia Helmy Anam menyatakan, berdasarkan riset Gartner, pertumbuhan teknologi informasi (TI) sebesar 20% tiap tahun. Sedangkan pertumbuhan penjualan produk komputer (PC) Acer mencapai 50% pada tahun lalu. Ia optimistis tetap menjadi market leader di Indonesia.

"Acer sudah lima tahun menjadi market leader di pasar PC Indonesia. Tahun lalu pertumbuhan penjualan PC versi riset Gartner mencapai 60,90% dengan market share 25%. Untuk notebook tumbuh 75,6% dan market share-nya 36%," kata Helmy usai acara Go Faster Roadshow di STIE Perbanas Surabaya, Senin (28/6).

“Dengan melihat pertumbuhan di awal tahun dan dengan diluncurkannya prosesor Intel Core I, pertumbuhan Acer 2010 diprediksikan mencapai lebih dari 50% dari itu," tegas Helmy.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, pertumbuhan notebook Acer pada 2009 mencapai 75,6%. Sementara pertumbuhan penjualan komputer jenis dekstop mencapai 60-70% dengan market share sebesar 26%, notebook naik sebesar 75% dengan share sebesar 36,3%.

Helmy mengakui, dipilihnya komunitas kampus karena selama ini pengguna internet menunjukkan tren yang cukup signifikan. Khusus untuk komunitas kampus, Acer memberikan harga yang berkisar Rp 5-6 juta. Harga ini berbeda dengan segmen pasar ritel.

"Untuk yang satu ini kami telah mengeluarkan jenis prosessor baru, Intel Core I, prosesor yang memiliki keunggulan dalam kecepatan dankepandaian," jelasnya.

Sementara itu, Public Specialis Commercial Acer Group Indonesia Munir Werlin mengatakan, pengguna internet saat ini menunjukkan tren yang cukup signifikan khususnya kalangan muda termasuk mahasiswa.

"Untuk mereka, kami telah mengeluarkan jenis prosessor baru, Intel Core I, prosesor yang memiliki keunggulan dalam kecepatan dan kepandaian," kata dia.

Munir mengatakan, prosesor Intel Core I ini dinamakan prosesor yang pintar karena prosesor ini secara otomatis akan menyesuaikan pada kebutuhan pengguna yang berbeda-beda. Dan hal ini akan menyebabkan kecepatan aksesnya cukup tinggi.



Lanjut ah...

Senin, 28 Juni 2010

HP Kuasai 70% Pasar Printer Laser

HEWLETT-PACHARD (HP), pabrikan produk-produk berbasis teknologi informasi, menargetkan mampu menguasai 70% pasar printer laser di Indonesia. Posisi HP bersaing dengan Samsung yang juga merilis produk printer untuk semua segmen pasar termasuk printer laser.

Manajer Pengembangan Pasar Imaging and Printing Group HP Indonesia Lydia Budianto mengatakan, per kuartal I/2010, HP telah menguasai 54,5% pasar printer laser di Tanah Air. Adapun di kawasan Asia Pasifik, HP menguasai market share sebesar 31%.

"Hingga akhir tahun, kami menargetkan menguasai 70% pasar. Kami yakin bisa mencapainya karena ada beberapa produk baru yang jadi andalan untuk menggenjot pasar di semua segmen printer laser. Persaingan sangat ketat," ujar Lydia dalam paparan produk di Hotel JW Marriott, Surabaya, Kamis (24/6).

Lydia mengemukakan, HP masih terus berinovasi untuk mengembangkan produk-produk printer laser yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Mulai dari pasar high-end hingga menengah, semuanya kami bidik untuk mengembangkan pasar.

Pengembangan teknologi dari HP, kata dia, juga sekaligus dimaksudkan untuk mengedukasi pasar tentang pentingnya efisiensi melalui penggunaan alat-alat berbasis teknologi. Dengan teknologi yang memang dikhususkan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha, produk HP akan mampu mengefisienkan ongkos, khususnya dalam hal cetak-mencetak dokumen.

"Kondisi ekonomi saat ini terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Tentu saja pasar juga makin berkembang. Ini akan kami manfaatkan untuk menguatkan penetrasi pasar," jelasnya.



Lanjut ah...

BRTI Kaji Konsolidasi Flexi-Esia

BADAN Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan melakukan kajian regulasi terkait konsolidasi Flexi sebagai unit usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dengan PT Bakrie Telecom Tbk (Btel). Saat ini, rencana konsolidasi kedua operator penguasa pasar Fixed Wireless Access (FWA) tersebut masih terus dibahas dan belum mencapai final.

“Kami akan melakukan kajian komprehensif kepada kedua perusahaan tersebut,” kata Heru Sutadi, anggota BRTI, di Jakarta akhir pekan lalu. Sebagai pengawas kompetisi telekomunikasi, BRTI akan mengaji dampak teknis konsolidasi Flexi-Btel terhadap pasar.

Seperti diketahui, Flexi yang memiliki sekitar 15 juta pelanggan akan bersinergi dengan Esia milik Btel yang telah menghimpun hampir 11 juta pelanggan. Konsolidasi ini berpotensi melahirkan raksasa FWA yang merengkuh sekitar 76% pangsa pasar. “BRTI sedang membuat regulasi terkait dengan merger dan akuisisi antar perusahaan telekomunikasi,” kata Heru.

Dia mengatakan, kajian tersebut juga akan membahas penerapan aturan Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi berbasis pita dimana tidak ada lagi pembeda antara lisensi FWA dan seluler di masa datang. “Untuk saat ini, tarif FWA masih terproteksi karena mengikuti aturan telepon tetap,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto menambahkan, pemerintah juga akan mengkaji kembali izin penggunaan frekuensi dan jaringan kedua operator tersebut. Kedua operator Code Division Multiple Access (CDMA) tersebut sama-sama menggunakan jalur frekuensi 800 MHz.

Belum Tentukan Format

VP Public & Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengakui saat ini proses negosiasi sedang berlangsung antara Telkom dan Btel. “Sampai sekarang masih dalam tahapan proses. Untuk mencapai kesepakatan masih membutuhkan waktu karena beberapa hal penting harus menjadi pertimbangan,” jelas dia.

Eddy mengatakan, pihaknya akan melakukan kajian regulasi bersama Bappepam-LK, Kemenkominfo, BRTI, maupun KPPU. Telkom juga akan melakukan uji tuntas (due diligence) hingga konsultasi untuk menentukan besaran harga transakasi korporasi. Telkom telah menunjuk UBS Group sebagai konsultan keuangan atas rencana sinergi ini.

Kedua perusahaan masih belum menentukan pilihan format konsolidasi yang meliputi akuisisi, kemitraan, atau kerja sama bisnis. “Dalam tahapan ini, kami belum menentukan opsi konsolidasi. Kami harus memutuskan format yang tepat secara hati-hati karena ini adalah langkah strategis yang akan berdampak besar kepada seluruh aspek bisnis,” papar Eddy.

Presiden Direktur Btel Anindya Bakrie pun mengungkapkan hal senada. “Pembicaraan ini masih dalam proses, tetapi kami belum bisa mengutarakan detil teknisnya,” kata Anindya.

Beberapa waktu lalu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar memberikan sinyal positif terkait rencana sinergi kedua penguasa layanan FWA ini. Sebelumnya, konsolidasi antar operator CDMA pernah terjalin antara PT Sinar Mas Telecom (Smart) dan PT Mobile-8 Telecom (Mobile-8) melalui skema penggabungan usaha.

Saat ini, terdapat enam operator di Indonesia yang mengakomodasi teknologi CDMA, antara lain, Btel, Telkom Flexi, Mobile-8, Smart, PT Indosat (StarOne), dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (Ceria).

Data yang dikutip dari Cellular Information Service (WCIS+) menyebutkan jumlah pelanggan CDMA pada tahun 2009 mencapai 35 juta dan diperkirakan akan meningkat menjadi 41 juta pelanggan pada akhir tahun ini.

Lanjut ah...

BSA Soroti Perusahaan Besar Pembajak Software

BUSINESS Software Alliance (BSA) terus menyoroti penggunaan piranti lunak (software) ilegal yang dilakukan sejumlah perusahaan besar di Indonesia. Edukasi terhadap pentingnya software berlisensi masih menjadi misi perwakilan perusahaan pengembang software dunia ini di Indonesia.

“Kami sebenarnya tidak menginginkan adanya tindakan seperti sweeping di perusahaan yang ketahuan menggunakan software bajakan. Kami masih akan mengupayakan edukasi untuk memberi kesadaran akan pentingnya penggunaan lisensi pada software,” kata Kepala Perwakilan BSA di Indonesia Donny A Sheyoputra di Jakarta, Senin (21/6).

Tindakan seperti razia menjadi salah satu jurus terakhir yang digunakan BSA untuk melindungi sekitar 80 perusahaan software global yang menjadi anggotanya. Beberapa nama yang menjadi anggota BSA di antaranya Microsoft, Adobe, Corel, hingga Symantec. Sedangkan pemain software lokal yang menjadi anggota BSA sebanyak delapan perusahaan, antara lain Zahir, Bambu Media, Andal, dan Pesona Edu.

Baru-baru ini, BSA bersama kepolisian telah merazia penggunaan piranti lunak tanpa lisensi di lima kota, yaitu Palembang, Bali, Yogyakarta, Malang, dan Jakarta. Hasil razia itu akan diumumkan pada akhir bulan ini juga.

Donny mengungkapkan, beberapa di antara perusahaan tersebut merupakan pemain besar di industri properti dan jaringan perhotelan internasional. “Perusahaan-perusahaan tersebut sama-sama memanfaatkan software tanpa lisensi untuk meraup keuntungan,” jelas dia.

Donny menegaskan, razia penggunaan software di perusahana-perusahaan itu merupakan kewenangan aparat, dan BSA tidak ikut-ikutan. Namun, BSA ikut dalam pemaparan hasil razia kepolisian itu. Ini merupakan jalan terakhir dari proses edukasi kepada publik demi memberikan kesadaran tentang pentingnya menghargai hak dan kekayaan intelektual (Haki).

“BSA tidak bisa fokus memerangi sumbernya, tetapi kami lebih fokus terhadap tindakan ke perusahaan besar yang menggunakan software bajakan,” tegasnya.

Indonesia masih menjadi sorotan dunia dengan tingginya tingkat pembajakan berbagai produk dan lemahnya kesadaran masyarakat terhadap Haki. Penelitian firma riset International Data Corporation (IDC) yang didukung BSA mencatat tingkat instalasi software ilegal di Indonesia pada 2009 mencapai 86% dengan nilai kerugian mencapai US$886 juta. Tingkat pembajakan ini meningkat 1% dibanding tahun sebelumnya.

Tingginya penetrasi komputer (PC) dianggap sebagai salah satu penyebab meningkatnya angka pembajakan software di Indonesia. Pembajakan software ini mencakup sistem operasi, software sistem, dan software aplikasi pada PC konsumer maupun korporat.

“Penetrasi PC di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Semakin banyak PC terjual, semakin meningkat kebutuhan software, dan ini menjadi peluang untuk pembajakan” kata Donny.

Total pengapalan PC di Indonesia pada 2009 mencapai 3,3 juta unit. Jumlah ini mengalami peningkatan 72% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 2,4 juta unit.

Baru-baru ini, IDC juga memprediksi pengapalan PC di Indonesia pada 2010 akan melonjak menjadi 5,1 juta unit. Meskipun tingkat pembajakan menurun, nilai bisnis ilegal tersebut dapat terus meningkat.

Saat ini, sebagian besar masyarakat masih menganggap software sebagai pengeluaran, bukan sebagai aset pendukung produktivitas. “Pemerintah harus memberi contoh kepada masyarakat, salah satunya dengan melakukan legalisasi penggunaan software berlisensi secara bertahap,” saran Donny.

Dalam kesempatan terpisah, Staf Ahli bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Engkos Koswara mengungkapkan kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa masyarakat, termasuk sektor publik, belum menganggap software sebagai aset.

“Kenyataan yang kami temukan di lapangan menunjukkan banyak pemda yang menganggarkan belanja hardware, tetapi tidak menganggarkan belanja software. Itu artinya ada pembajakan software,” papar Engkos Koswara.

Lanjut ah...

Jumat, 25 Juni 2010

Telkom Bidik Sejuta Pelanggan Baru Flexinet

PT TELEKOMUNIKASI Indonesia Tbk (Telkom) Divisi Flexi membidik tambahan sejuta pelanggan layanan internet FlexiNet Unlimited dalam rentang tiga bulan ke depan. Guna mencapai tujuan tersebut, Telkom Divisi Flexi menyiapkan sejuta modem murah dalam kegiatan Gebyar Sejuta FlexiNet (Jufe) di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

“Sejak diluncurkan pada Agustus 2009 sampai pertengahan Juni 2010, pelanggan aktif FlexiNet sudah mencapai 200 ribu. Jika target tiga bulan ini tercapai, total pengguna FlexiNet mencapai 1,2 juta nomor,” kata Deputy Executive General Manager Business dan Development Telkom Flexi Judi Achmadi dalam siaran pers, Rabu (23/6).

Dia menjelaskan, Gebyar Jufe yang berlangsung mulai Juni 2010 hingga Akhir September 2010 menawarkan modem-modem ternama seperti ZTE, Ivio, Huawei, Olive, Data Card dan lain-lain. Modem itu ditawarkan dengan harga Rp 275 ribu dan masyarakat sudah dapat memiliki modem mobile internet dan menikmati layanan akses internet tanpa batas FlexiNet Unlimited.

FlexiNet Unlimited yang tarifnya dikenal paling murah di kelasnya, lanjut Judi, kini menyediakan paket yang lebih irit, yakni paket triwulan, semester dan tahunan. Dengan paket yang baru ini, biaya internetan sepuasnya semakin murah. Biaya untuk berlangganan FlexiNet Unlimited selama tiga bulan hanya Rp 135 ribu. Untuk enam bulan hanya Rp 255 ribu dan untuk setahun penuh hanya Rp 450 ribu.

Khusus bagi kalangan pendidikan (siswa, mahasiswa, guru dan dosen) Flexi memberikan perhatian khusus dengan menyediakan paket FlexiNet Unlimited Sekolahan. Dengan paket ini, para guru dan siswa dapat berinternetan sepuasnya dengan biaya sangat murah, yakni hanya Rp 35 ribu per bulan atau tidak lebih dari Rp 1.200 per hari.

“Biaya tersebut jauh lebih murah bila dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk mengakses internet dengan menggunakan akses mobile internet lain,” jelas Judi.

Sebelumnya Flexi telah memiliki paket-paket irit internet harian, mingguan dan bulanan dengan tarif yang sangat murah. Tarif untuk mengakses internet dengan paket irit itu adalah Rp 2.500 per hari, Rp 15.000 per minggu dan Rp 50.000 per bulan.

Cara berlangganan FlexiNet Unlimited sangat mudah. Pengguna Flexi cukup mengirimkan SMS ke 2255. Khusus paket FlexiNet Unlimited Sekolahan, siswa atau guru dapat mendaftar di Plasa Telkom dengan menyerahkan foto copy kartu pelajar/mahasiswa atau kartu identitas guru/dosen.

Berkaitan dengan kualitas dari akses internet yang diberikan FlexiNet, Judi menyakinkan, layanan tersebut mampu memberikan kecepatan broadband karena telah dipasang perangkat akselerator.

“Kami mengalokasikan 30% kapasitas untuk layanan data. Hal ini karena kami berharap, kontribusi layanan data mampu naik dari 10% menjadi 15% dari total pendapatan akhir tahun nanti,” kata dia.



Lanjut ah...

LG Indonesia Fokus Garap Ponsel

MANAJEMEN PT LG Electronics Indonesia (LGEIN) fokus mengerahkan Divisi Mobile Communication untuk menggarap pasar ponsel di Indonesia pada tahun ini. Perusahaan elektronik yang berbasis di Korea Selatan ini masih mengandalkan jajaran ponsel Qwerty serta menambah jajaran ponsel layar sentuh (touchscreen) untuk segmen menengah-bawah.

"Pasar Qwerty memang menjanjikan. Di sisi lain kami melihat peluang pasar untuk ponsel touchscreen yang belum banyak digarap vendor," kata Product Marketing Mobile Communication Division LGEIN Richard Susilo di sela peluncuran seri ponsel LG Cookie di Jakarta, Kamis (24/6). LG masih tetap mengandalkan jajaran ponsel Qwerty yang menyumbangkan sekitar 40-50% dari total penjualan.

Dia menjelaskan, para vendor global harus bersaing dengan para vendor lokal yang mendominasi etalase ponsel Qwerty dengan harga di bawah Rp1 juta. Saat ini, para vendor lokal telah menguasai hampir 30% pangsa pasar ponsel di Indonesia. Berdasarkan data pangsa pasar ponsel di Indonesia yang dikutip dari lembaga survei GFK per Maret 2010, LG baru menguasai pangsa di bawah 5%.

Para vendor lokal masih enggan menjual ponsel touchscreen karena biaya produksinya yang masih tinggi. "Kami melihat peluang tersebut dengan meluncurkan seri ponsel touchscreen dengan harga yang cukup terjangkau," ungkap Richard.

LGEIN menargetkan penjualan ponsel layar sentuh dapat menyumbang 20% penjualan ponsel tahun ini. "LG akan memasarkan total enam model produk ponsel touchscreen di Indonesia tahun 2010," papar Richard.

Tiga model produk touchscreen yang baru diluncurkan LG antara lain LG Cookie Pop, LG Cookie Fresh, dan LG Cookie WiFi. Sedangkan, tiga produk berikutnya akan beredar pada kuartal III 2010 (satu model) dan kuartal IV 2010 (dua model).

Meskipun optimis menggaet pasar, Richard mengakui tren ponsel dalam dua tahun ke depan masih akan didominasi oleh keluarga Qwerty.

Dia memperkirakan, penjualan rata-rata industri ponsel di Indonesia setiap bulan mencapai 1,7 juta unit. Ponsel Qwerty masih laris di pasar dengan penjualan sekitar 850 ribu unit per bulan, sedangkan ponsel touchscreen terjual sekitar 300-400 ribu.


Lanjut ah...