Senin, 05 Juli 2010

XL Fokus Jangkau Pelosok

PT XL Axiata Tbk (XL) terus memperluas jangkauan layanannya ke wilayah terpencil Indonesia. Prioritas tersebut diikutsertakan dalam target pembangunan 1.500-2.000 base transceiver station (BTS) sepanjang tahun ini.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan sebagian besar BTS akan dibangun di daerah-daerah terpencil. Hingga pertengahan tahun ini, XL telah membangun sekitar 1.000 BTS. Investasi untuk BTS tersebut dapat lebih efisien melalui strategi infrastructure sharing yang diyakini dapat menekan biaya hingga 40%.

“Dari setiap BTS yang dibangun dengan biaya sekitar Rp2 miliar, operator, rata-rata XL menghasilkan Rp70 juta/bulan,” jelas Hasnul di sela peresmian infrastruktur jaringan XL di Maluku dan Pulau Gersik-Belitung, di Ambon, Jumat (2/7).

Hasnul mengatakan, penghasilan rata-rata BTS dapat berlipat hingga Rp125-150 juta jika belum ada kompetitor yang menggelar layanan seluler di daerah yang sama. Namun, nilai tersebut biasanya akan turun secara perlahan seiring masuknya operator lain.

XL kian gencar menggarap potensi ekonomi di luar zona padat melalui perluasan jaringan. “Kalau di wilayah Jawa-Bali-Lombok kami melakukan penambahan kapasitas, sedangkan di pelosok kami membangun coverage,” kata Hasnul.

Sementara itu, Plt Dirjen Postel Kemenkominfo Muhammad Budi Setiawan menyambut baik upaya operator untuk memperluas jangkauan layanan ke pelosok. “Kami sangat mengapresiasi operator yang terus membangun akses telekomunikasi kepada masyarakat di daerah-daerah terpencil,” kata dia.

Upaya ini, kata Dirjen yang akrab disapa Iwan ini, diharapkan dapat mengimbangi program akselerasi akses telekomunikasi di seluruh perdesaan di Tanah Air dalam proyek desa berdering dalam rangka universal service obligation (USO). Proyek desa berdering dalam rangka USO bagi 31.824 desa itu dikerjakan oleh Telkomsel (25 ribu desa lebih) dan sisanya digarap PT Indonesia Comnet Plus (Icon+) ini.

Perluas Jangkauan

Operator yang mayoritas sahamnya dikuasai Axiata Group ini juga meresmikan base station controllers (BSC) di Ambon serta BTS pertama di Pulau Gersik, Bangka Belitung. XL menggandeng vendor jaringan Huawei sebagai penyedia BTS di wilayah Maluku dan Bangka Belitung.

“Secara bertahap, kami akan terus memperluas jangkauan di Kepulauan Maluku, termasuk propinsi Maluku Utara yang saat ini tengah dalam tahap pembangunan infrastruktur,” kata Hasnul.

BSC merupakan perangkat yang berfungsi menjaga sekaligus memaksimalkan kualitas jaringan seiring terus meningkatnya jumlah pelanggan. Saat ini, XL telah mengoperasikan satu BSC di Ambon dengan 20 BTS yang tersebar di pulau-pulau kecil seperti Saparua, Masohi, Seram, Buano, Haruku, serta Banda. XL telah melayani hampir 21 ribu pelanggan di Maluku sejak kehadiran operator tiga besar ini tiga tahun silam.

XL pun menempatkan mobile switching centre soft (MSCs) sebagai pusat koneksi trafik pelanggan di Ambon dengan kapasitas hingga 500 ribu pelanggan. “Kami berharap jaringan XL di daerah ini dapat mendukung penyelenggaraan Sail Banda 2010 sekaligus dunia pariwisata Maluku dan Indonesia Timur,” kata Hasnul.

Berdirinya BTS di Pulau Gersik itu merupakan BTS XL yang ke-20.705 sehingga menjadikan operator ini sebagai satu-satunya penyedia jasa seluler di pulau yang memiliki 2.500 keluarga tersebut. Peresmian layanan XL ini juga dihadiri Bupati Belitung Darmansyah Husein melalui konperensi video.

Secara total, XL telah melayani lebih dari 450 ribu pelanggan di Bangka Belitung dengan komposisi 143 ribu pelanggan di Belitung dan 307 ribu pelanggan yang berdomisili di Bangka. XL didukung infrastruktur 275 BTS (2G/3G) di propinsi tersebut.

Hasnul mengklaim infrastruktur XL telah mencakup sekitar 90% populasi di seluruh Indonesia. Jangkauan tersebut juga menjadi dasar target yang dicanangkan XL untuk meraih 38 juta pelanggan pada akhir 2010.

Hingga semester I 2010, XL telah melayani sekitar 35 juta pelanggan. Pendapatan XL juga tumbuh 42% dibanding periode yang sama tahun lalu dengan nilai Rp4,2 triliun. Dengan belanja modal yang disiapkan tahun ini sebesar US$400 juta, XL menargetkan pendapatan 2010 sebesar Rp15,99 triliun atau meningkat 15% dibanding tahun lalu.

Lanjut ah...

Operator BWA Boleh Gelar Wimax Mobile

OPERATOR broadband wireless access (BWA) kemungkinan akan diperkenankan menggelar jaringan Wimax mobile atau Wimax standar 802.176e. Untuk itu, Ditjen Postel Kemenkominfo segera mengeluarkan Surat Keputusan untuk memastikan penggelaran jaringan Wimax mobile itu.

Demikian dikatakan Dirjen Postel Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Muhammad Budi Setiawan di sela peresmian Base Station Controller (BSC) operator seluler XL Axiata di Ambon, Maluku Selatan, Jumat (2/7).

Pernyataan Dirjen Postel itu mendapat sambutan positif dari operator BWA. Selama ini, para pemenang tender BWA memang berharap bisa menggelar jaringan Wimax mobile atau Wimax standar 16e, bukan Wimax nomadic atau standar 16d, seperti yang disyaratkan dalam Peraturan Menkominfo.

"Sebenarnya dalam aturan itu tidak disebutkan secara eksplisit soal 16d atau 16e. Hanya saja ada klausul yang akhirnya mengarah pada 16d," ujar kata Dirjen Postel yang akrab disapa Iwan itu.

Klausul dalam Peraturan Menkomimfo No 5 hingga 9 Tahun 2009 itu pun, lanjut dia, bisa dibenahi dengan Surat Keputusan Dirjen atau semacamnya. "Kita harapkan kalau memang bisa diubah menjadi 16e, ini akan ramai lagi," ujar dia.

Tentunya, lanjut Iwan, ada syarat yang harus dipenuhi agar Wimax standar 16e bisa dipakai. Salah satunya adalah kesiapan produsen dalam negeri untuk membuat perangkat berbasis standar 16e. Yakni, menyangkut kandungan lokal dari produk tersebut Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Sebab, dalam aturan itu disebutkan mengenai syarat kandungan lokal yang minimal 35%.

Saat ini, ujar Iwan, baru satu vendor Wimax lokal yang dilaporkan sudah bisa membuat perangkat Wimax standar 16e. Produsen itu adalah Xirka milik mantan ketua umum Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Sylvia Sumarlin. Sedangkan, vendor perangkat Wimax lokal, PT Teknologi Riset Group (TRG) dan PT Hariff Daya Tunggal Engineering saat ini masih fokus memproduksi Wimax standar 16d.

Sementara itu, Direktur PT Berca Hardaya Perkasa Duta S Sarosa menyambut positif pernyataan Dirjen Postel yang akan memberi peluang penggunaan Wimax mobile kepada operator BWA. Penggunaan Wimax mobile itu berarti menempatkan Indonesia dalam ekosistem perkembangan teknologi Wimax di dunia.

“Data lembaga riset independen Operator di negara lain hampir tak ada lagi yang menggunakan Wimax 16d (nomadic), tapi Wimax mobile. Bahkan sekarang sudah mengarah ke Wimax 16m,” kata Duta, tadi malam.

Selain itu, lanjut Duta, penggunaan Wimax mobile itu berarti sejalan dengan upaya pemerintah menghadirkan akses internet murah bagi masyarakat. “Kalau kita menggunakan teknologi 16d, perangkat modem (CPE)-nya akan mencapai US$ 300 atau sekitar Rp 2,7 juta. Sedangkan kalau 16e, modemnya hanya Rp 500 ribu,” kata Duta.

Duta mengatakan, perangkat modem Wimax 16d ditaruh di luar ruangan sehingga rawan dicuri orang. Perangkat modem itu sebesar piring. Selain tidak efisien, CPE Wimax 16d juga mahal. Sedangkan perangkat modem Wimax 16e, selain sebesar USB atau dongle, harganya juga relatif murah.

Penyedia perangkat Wimax 16d maupun 16e, menurut Duta, sama-sama sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Produsen Wimax 16d adalah PT TRG dan PT Hariff, sedangkan produsen Wimax 16e adalah PT Xirka Silicon Technology yang bekerja sama dengan Huawei – Tiongkok dan PT Pangung Elektronik (pabrikan JVC dan Akira di Surabaya) yang bekerja sama dengan Saewon-Korea Selatan.

Hanya saja, Duta menyatakan, Berca yang mendapat 14 lisensi BWA di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi hingga kini belum menggelar jaringan Wimax. “Kami masih menunggu kepastian dari pemerintah tentang penggunaan Wimax mobile,” kata dia.

Wimax Lokal Siap

Sementara itu, Ketua Wimax Forum Chapter Indonesia Sylvia Sumarlin menyambut baik sinyal yang diberikan Dirjen Postel itu. “Saya mengapreasiasi pernyataan Dirjen Postel yang tidak menutup peluang penggunaan teknologi Wimax standar 16e. Ini kabar yang cukup baik,” kata dia.

Menurut pemilik Xirka ini, implementasi broadband Wimax dengan standar 802.16e lebih hemat ketimbang Wimax dengan standar 16d. Selain itu, teknologi 16d dinilai sebagian kalangan telah usang dan ketinggalan zaman. “Industri mengharapkan kehadiran teknologi Wimax 16e yang lebih menguntungkan secara bisnis, karena perusahaan manapun pasti mengharapkan return of investment yang cepat,” kata dia.

Menurut Sylvia, bila pemerintah membuka peluang untuk teknologi 16e, banyak perusahaan dalam negeri yang siap menyediakan perangkatnya. Salah satunya, PT Xirka Darma Persada, perusahaan miliknya, yang telah berpartner Huawei Technology telah memiliki kemampuan untuk membuat Wimax base station dan subscriber station.

Selain itu, lanjut dia, PT Astra Graphia Information Technology (AGIT) juga telah berpartner dengan Airspan dan PT LEN yang berpartner Runcomm memiliki kemampuan membuat base station. “Produk mereka sudah memenuhi TKDN seperti yang dipersyaratkan Departemen Perindustrian, dan mereka sudah mendapat sertifikat. Jadi kalau memang teknologi 16e dibolehkan maka industri dalam negeri sudah siap memenuhinya,” kata Silvia.

Dia optimistis, kandungan lokal bisa ditingkatkan secara bertahap, sehingga pemerintah tidak perlu mengkuatirkan pemain lokal akan jadi penonton saja. “Semuanya mengalir secara alamiah, TKDN akan terpenuhi secara sendirinya,” kata Sylvia.

Namun demikian, bila pemerintah tetap bersikukuh pada teknologi 16d, dia menyarankan menambahkan kanalisasi baru sehingga bisa mengakomodasi kedua teknologi itu. Dengan begitu, pengguna dibiarkan menentukan sendiri teknologi Wimax mana yang akan dipakai sesuai kebutuhannya.

Masih Dikaji

Pernyataan Iwan ini agar bertolak belakang dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring sebelumnya, ketika meresmikan uji coba teknologi generasi keempat (4G) Long Term Evolusion milik Telkomsel, Juni lalu. Ia mengatakan, pemerintah masih mengandalkan lisensi mobile broadband pada lisensi BWA yang telah diberikan kepada depalan perusahaan untuk 30 zona.

Tifatul berharap, operator BWA segera menggelar layanan Wimax bagi konsumen di Tanah Air dengan teknologi Wimax 16d. “Bagi yang ingin mengimplementasikan Wimax 16e, lebih baik ke LTE saja nanti. Tapi dua tahun lagi,” kata Tifatul.

Sementara itu, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, keputusan untuk mengizinkan operator BWA menggunakan perangkat Wimax standar 16e belum final. “Ini masih kami bahas, termasuk masalah TKDN-nya,” kata Nonot.

Nonot menjelaskan, dua pekan lalu, BRTI telah melakukan pengkajian mengenai perangkat Wimax buatan dalam negeri, terutama menyangkut masalah TKDN. Penyedia perangkat Wimax 16d adalah TRG dan Hariff, sedangkan penyedia perangkat Wimax 16e adalah Xirka. “Namun, bagaimana hasil pengkajian itu masih kami rumuskan sambil mendiskusikannya dengan operator,” kata dia.

Dia mengakui, penyedia perangkat Wimax standar 16e atau mobile itu memang sudah ada di Indonesia, yakni Xirka. Secara bisnis, Wimax mobile memang menguntungkan mengingat modemnya sudah berukuran USB atau dongle, bukan sebesar piring seperti pada Wimax 16d (nomadic).

“Bagi operator BWA, lebih menguntungkan memasarkan Wimax mobile daripada nomadic. Selain itu, harga modem Wimax 16e juga lebih murah dibanding Wimax 16d,” kata Nonot.

Sedangkan, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Demokrat Roy Suryo meminta, pemerintah tidak terburu-buru menerapkan penggunaan teknologi baru Wimax 16e, sebelum memenuhi syarat kandungan lokal. Apalagi, penerapan perangkat berbasis standar 16d belum diimplementasikan secara baik. “Saya menekankan agar industri dalam negeri harus bisa membuatnya sebelum teknologi itu diterapkan. Kita tidak boleh hanya jadi penonton saja,” kata Roy.

Selain itu, pemerintah juga harus mempertimbangkan, perusahaan-perusahaan pemenang tender BWA yang sudah menginvestasikan teknologi Wimax 16d. Bila ada perubahan secara cepat, perusahaan yang menggunakan teknologi itu harus mengganti dengan perangkat yang baru.

“Teknologi 16e memang baru, tetapi kalau terlalu terburu-buru menerapkannya nanti kasihan perusahaan yang sudah terlanjut investasi,” kata dia.



Lanjut ah...

Telkomsel Targetkan Gaet 1.000 CP

TELKOMSEL berupaya untuk mengembangkan bisnis value added services (VAS) untuk mengimbangi bisnis dasar telekomunikasi, yakni suara dan SMS. Oleh karena itu, operator terbesar di Indonesia dengan 87 juta pelanggan ini membidik 1.000 content provider (CP) hingga akhir tahun ini.

“Saat ini Telkomsel memiliki sekitar 450-500 konten partner. Tahun ini kami targetkan menjadi 1.000 CP,” kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono saat penyerahan Rekor Muri di Jakarta, akhir pekan lalu.

Herfini mengatakan, kontribusi pendapatan Telkomsel dari layanan VAS saat ini masih sekitar 7% dan diharapkan bisa di atas 10% pada akhir tahun ini. "Kontribusi terbesar masih dari NSP (nada sambung pribadi). Selain itu kami juga memiliki Langit Musik yang bisa diunduh pelanggan," kata dia.

Selain itu, konten hiburan dan konten religi juga diminati pelanggan. Sebagai contoh, konten muslim saat ini digunakan sekitar 30 juta pelanggan.

Raih Rekor Muri

Pada kesempatan itu, Telkomsel meraih tiga rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk program Telkomsel Ibadah, yakni program loyalitas bagi pelanggan Telkomsel yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Penghargaan ini diserahkan langsung pendiri Muri, Jaya Suprana.

Selain itu, Telkomsel juga menjadi operator telekomunikasi pertama yang menyediakan layanan international roaming ke Saudi Arabia, yakni sejak 1997, dan membuka Posko Layanan Haji pada 2006 di Mekkah dan Madinah. Bahkan, sejak 2002, Telkomsel juga menyediakan layanan SMS Infaq.

Telkomsel Ibadah juga memberikan apresiasi kepada pelanggan Telkomsel untuk ibadah Haji dan Umroh bagi pelanggan yang beragama Islam. Telkomsel juga mengadakan Holy Land Trip ke Mesir dan Yerusalem bagi pelanggan beragama Kristen dan Katolik, serta Tirta Yatra dan Dharma Widya ke Nepal, India, dan Thailand masing-masing bagi pelanggan beragama Hindu dan Buddha.

“Penghargaan rekor Muri untuk program Telkomsel Ibadah ini semakin mendorong kami memberikan apresiasi yang lebih baik kepada seluruh pelanggan setia Telkomsel dengan berbagai program ibadah sehingga dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan,” kata Herfini.



Lanjut ah...

Telkom Hadirkan Portal Game Baru

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akan meluncurkan sebuah portal game baru pada Oktober 2010. Hal ini tidak lepas dari pertumbuhan jumlah pemain game (gamer) yang tiap tahun sebesar 33%.

Senior Manager Content Aggregation and Incubation Telkom Divisi Multimedia Komang Budi Aryasa mengatakan, sebanyak 400 game bakal tersedia di portal tersebut, dan sebagian besar adalah konten game lokal. Telkom akan berusaha menyeleksi game yang boleh masuk ke portal game itu, terutama game-game yang memiliki unsur mendididik.

“Portal game itu akan diluncurkan Telkom Oktober ini. Saat ini sudah ada 138 game yang tersedia di portal game internet Speedy dan akhir tahun ini kami harapkan ada tambahan 262 game, yang sebagian besar adalah game lokal,” kata Komang Budi Aryasa di Kelapa Gading, Jakarta, akhir pekan lalu.

Komang menjelaskan, industri game di Indonesia berkembang pesat. "Menurut catatan kami, dari pengguna game lewat Speedy, jumlah gamer di Indonesia tumbuh 33% setiap tahunnya. Prospeknya sangat besar bagi industri," kata Komang.

Game merupakan salah satu konten industri kreatif yang tengah dikembangkan Telkom. Lewat game, BUMN telekomunikasi ini berharap bisa menggaet pelanggan baru akses internet Speedy sekaligus menumbuhkan wirausaha industri kreatif dalam negeri.

Dia menjelaskan, pelanggan Speedy saat ini berjumlah 1,2 juta lebih. Speedy Games kini memiliki sekitar 480 anggota yang aktif menggunakan layanan Speedy. Hanya dengan Rp25 ribu per bulan para pengguna Speedy bebas memainkan game yang ada di portal games Speedy.

Pengembang Lokal

Maraknya industri game di Tanah Air sudah berlangsung sejak Telkom meluncurkan layanan akses internet kecepatan tinggi, Speedy pada era 90-an. Tidak hanya jumlah penikmat game yang bertumbuh pesat, juga para pengembang game di Tanah Air juga banyak bermunculan.

Komang mengakui, hingga saat ini game buatan lokal masih sangat minim. Oleh karena itu, Telkom mendorong pengembang game lokal untuk terus mengembangkan permainan baru.

"Saat ini, kami tengah mengembangkan Nusantara Online bersama pengembang game lokal. Kami mengharapkan ada pengembang lainnya yang ikut bergabung. Kami akan bantu jadi publisher game," kata Komang.

Tingginya pertumbuhan jumlah gamer di Indonesia, menurut dia, menjadi bidikan negara lain untuk memasarkan game-game buatan mereka. "Sebut saja Korea Selatan, pertumbuhan gamer di sana sudah stagnan, tapi pasar Indonesia masih akan terus tumbuh,” kata Komang.

Komang mengatakan, untuk membantu pengembangan industri kreatif, termasuk game di Indonesia, Telkom akan membangun 10 creative center. Digital Lounge di Mall of Indonesia, Kelapa Gading, Jakarta adalah salah satu creative centre. Namun, Telkom tak hanya mengembangkannya di Jakarta, tapi juga di Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan Medan.

"Untuk membangun Digital Lounge di Jakarta, kami menggandeng Megindo. Investasinya Rp 3,8 miliar. Mungkin untuk 10 creative center yang kami bangun tahun ini biaya yang kami investasikan bisa sampai Rp 400 miliar," kata Komang.



Lanjut ah...

Axis di Sumatera Dapat Tarif Rp 5 Per Detik

PT Natrindo Telepon Seluler (NTS), operator Axis, meluncurkan promosi unik bagi pelanggan di wilayah Sumatera. Hanya dengan tarif tetap sebesar Rp 5 per detik, para pelanggan Axis di Sumatera dapat menelepon ke pelanggan dari operator mana pun di Indonesia. Promosi ini melengkapi promosi Axis sebelumnya yang memberikan gratis 10 ribu SMS ke semua operator di seluruh Indonesia.

Chief Marketing Officer PT NTS Eric Mallia mengatakan, Axis terus berkomitmen menyediakan layanan dan produk yang sederhana dan terjangkau dengan tarif yang kompetitif. Tarif menelepon Rp 5 per detik ini bisa dinikmati setelah pelanggan menelepon selama 100 detik dengan tarif Rp10 per detik.

“Penawaran tarif telepon Rp 5 per detik ini terbaru kami mudah dimengerti dan lebih terjangkau bagi para pelanggan. Pelanggan tak perlu memikirkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan ketika berkomunikasi dengan anggota keluarga dan teman mereka,” kata Eric di Jakarta, akhir pekan lalu.


Lanjut ah...

Jumat, 02 Juli 2010

Perang Tarif Layanan Data Dimulai

KEHADIRAN PT Bakrie Connectivity (BConnect) makin menegaskan ketatnya persaingan layanan data di Tanah Air. Anak usaha PT Bakrie Telecom ini siap bersaing dengan sesama operator CDMA, juga GSM atau bahkan Wimax. Persaingan itu bukan tidak mungkin akan mengakibatkan perang tarif pada layanan data.

BConnect yang baru meluncurkan layanan data (internet broadband) dengan merek dagang AHA masih mengandalkan teknologi EVDO Rev-A. Namun, layanan AHA diklaim bisa menghadirkan layanan data berkecepatan hingga 3,8 Mbps untuk unduh/download dan 1,8 Mbps untuk unggah/upload. AHA akan bersaing dengan operator CDMA yang menyediakan layanan EVDO sejenis, seperti Jump dari PT Smart Telecom, dan Mobi dari PT Mobile-8 Telecom Tbk.

“Untungnya sudah ada operator yang menggunakan teknologi yang sama. Jadi sudah ada bukti bahwa teknologi EVDO lebih bagus dari 3G-nya GSM,” ujar Dirut Bconnect Erik Meijer kepada Investor Daily, Rabu (30/6).

Dengan mengandalkan satu kanal sebesar 1,25 MHz, BConnect ingin memasarkan produknya, AHA, di Tanah Air dan dimulai dari wilayah timur, seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Malang. Daerah-daerah itu memiliki potensi pasar lebih luas dibanding wilayah pusat da, belum digarap serius oleh para pesaingnya, seperti Jump dan Mobi.

“Kami memang sengaja mengambil daerah-daerah tersebut karena belum banyak pemain data yang merambah ke sana,” jelas Erik. BConnect menargetkan layanan internet AHA dapat menjangkau lebih dari 10 kota di Indonesia hingga akhir 2010.

Sementara itu, Head of Core Product & Branding PT Smart Telecom Ruby Hermanto menyambut positif kehadiran pemain baru layanan EVDO. “Kami sekarang bisa sama-sama mengedukasi pasar untuk melawan teknologi High Speed Packet Access (HSPA) dari operator GSM,” kata Ruby.

Ruby mengatakan, kehadiran BConnect belum dianggap sebagai ancaman karena penyerapan pasar akan ditentukan oleh kualitas layanan. “Kalau hanya memiliki satu kanal, itu lumayan berisiko karena mereka harus siap menghadapi lonjakan trafik di wilayah padat populasi,” kata dia.

Perang Tarif Data

Sedangkan General Manager Direct Sales PT XL Axiata Tbk (XL) Handono Warih mengatakan, keseriusan Bakrie Telecom masuk ke bisnis layanan data dengan membentuk anak usaha sendiri, BConnect, menegaskan bahwa layanan ini memiliki masa depan bagi pendapatan operator. “Kemunculan operator-operator data ditengarai akan menyulut perang tarif layanan. Sebabnya, para operator baru akan agresif mengakuisisi pasar,” kata dia.

Namun, operator CDMA harus berjuang keras untuk merebut pelanggan mengingat operator GSM sudah lebih dulu menawarkan layanan data. Bahkan, Telkomsel dan Indosat sudah menawarkan layanan data berteknologi HSPA+ yang mampu mengantarkan data berkecepatan 42 Mbps. Dari sisi pelanggan, operator GSM sudah memiliki banyak pelanggan. Pelanggan data Telkomsel sebanyak 16 juta, XL 13,4 juta, dan Indosat juga belasan juta.

Selain itu, tantangan operator CDMA juga akan datang dari operator Wimax. Akhir tahun lalu, pemerintah memberikan 30 lisensi broadband wireless access (BWA) pada frekuensi 2,3 GHz kepada delapan perusahaan. Salah satu pemegang lisensi BWA yang telah memulai penggelaran jaringan Wimax adalah PT First Media Tbk. Operator Wimax ini menawarkan Wimax generasi keempat (4G) dengan merek dagang Sitra. Dengan investasi US$350 juta, First Media menargetkan pelanggan sebanyak satu juta dalam tiga tahun ke depan.

Sementara itu, operator CDMA yang menawarkan layanan data berteknologi EVDO masih terseok-seok mengakuisi pelanggan. Jump dari Smart, misalnya, kini memiliki 600 ribu pelanggan. Layanan data yang diklaim bisa menyajikan kecepatan hingga 9,3 Mbps (unduh) dan 5,4 Mbps (unggah) ini telah hadir di 32 kota di Tanah Air. Sedangkan Mobi dari Mobile-8, hingga akhir 2009 baru memiliki 150 ribu pelanggan.

BConnect Investasi Rp 900 Miliar

Sementara itu, Wakil Dirut PT Bakrie Telecom Tbk bidang Jaringan Muhammad Buldansyah memaparkan, investasi awal untuk pengembangan jaringan kabel dan infrastruktur menara bagi BConnect di wilayah Jawa dan Sumatera sebesar US$100 atau sekitar Rp 900 miliar.

Investasi tersebut dicurahkan untuk menambah modul teknologi Rev-A pada base transceiver station (BTS) sebesar US$30 juta, US$30 juta untuk membangun backhaul, serta sisanya digunakan untuk membangun backbone dan sistem Internet Protocol (IP). “Begitu kami menambah kanal untuk BConnect, kami mulai fokus menggarap layanan data karena peluangnya sangat bagus,” kata Buldansyah.

Dia mengakui, BConnect masih akan menggunakan satu kanal tambahan sebesar 1,25 MHz untuk mengeksploitasi EVDO Rev-A. Sedangkan, dua sampai tiga kanal lainnya masih digunakan Bakrie Telecom untuk layanan suara dan SMS bagi Esia.

Kanal yang dimiliki BConnect per BTS mampu melayani 50-60 pengguna data dengan pembagian akses downlink sekitar 500-600 Kbps per pengguna. Teknologi EVDO Rev-A secara umum mampu memberikan akses data berkecepatan unduh maksimum 3,1 Mbps.

Saat demonstrasi, layanan data AHA yang menggunakan modem Huawei VME-110 mampu mengakses data dengan kecepatan hingga 2,6 Mbps. Menurut Erik, pihaknya menyiapkan sebanyak 100 ribu unit modem untuk tahap awal.


Lanjut ah...

Datacraft Restrukrisasi Jaringan Backbone Icon+

PT IndoComnet Plus (Icon+) telah mengontrak Datacraft untuk merestrukturisasi jaringan backbone-nya guna menghubungkan 14 lokasi di sepanjang kepulauan Indonesia. Backbone baru dengan kapasitas besar tersebut akan meningkatkan scope penawaran Icon+ yang meliputi pengiriman data dan suara berkecepatan tinggi, kebutuhan internet broadband dan video.

Direktur Perencanaan dan Operasional Icon+ Ritme Aulia Jaffar mengatakan, jaringannya harus terus beroperasi sepanjang hari. Pihaknya tidak bisa mentoleransi terjadinya downtime mengingat karakter bisnis yang digelutinya, dan persaingan di industri telekomunikasi di Indonesia yang sangat ketat.

“Kami memerlukan rekanan yang sangat kompeten di bidang telekomunikasi untuk mengatasi situasi tersebut dengan cepat tanpa berimbas pada operasional harian kami. Karena itu kami memilih Datacraft,” kata Ritme di Jakarta, Kamis (1/7).

Icon+ adalah anak perusahaan PT PLN (Persero) yang menawarkan layanan jaringan berbasis transmisi data protokol independen bagi banyak perusahaan, seperti Clear Channel. Jaringan internet protocol virtual private network (IP VPN) Icon+ terbentang sejauh lebih dari 27.300 km di sepanjang pulau Jawa, Bali, dan Sumatera dengan memanfaatkan jalur bebas PLN. Mengingat makin meningkatnya permintaan akan jaringan, Icon+ segera menaikkan tingkatan availabilitas, stabilitas, dan kemanannya.

Dia menjelaskan, tim Datacraft memulai pekerjaan konsultasi dengan mengevaluasi infrastruktur teknologi informasi (TI) Icon+. Berdasarkan temuan dan analisis tersebut, tim kemudian mengusulkan hal-hal yang perlu dilakukan guna merestrukturisasi jaringan. Desain jaringan dan perangkat yang diperlukan juga termaktub dalam proposal tersebut.

“Icon+ kemudian menerima rekomendasi itu dan menunjuk Datacraft untuk mengeola dan menjalankan project ini. Ini meliputi pembelian seluruh perangkat, pemasangan dan konfigurasi, uji kinerja siap operasi dan dokumentasi,” kata dia.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Datacraft Indonesia Bambang Patrap Yakin mengatakan, dalam proposal, Datacraft merekomendasikan pemasangan router backbone seri Cisco CRS-1 dan segregasi router P/PE di dalam jaringan inti IP untuk kapasitas, skalabilitas dan penggunaan bandwidth yang lebih efisien.

“Dengan skala proyek yang besar seperti ini, penting bagi tim integrasi untuk dapat mengelola seluruh aspek pengerjaan proyek dan mentransisi ke backbone baru dengan lancar,” ujar Bambang.

Beruntung, kata dia, Datacraft memiliki rekam jejak yang baik dalam menangani berbagai proyek perusahaan telekomunikasi dalam melakukan integrasi jaringan yang rumit. “Terlebih, layanan dukungan uptime kami sangat menarik bagi Icon+ untuk menjamin operasional backbone Icon+,” kata Bambang.


Lanjut ah...