Rabu, 23 Juni 2010

Gaet Flexi, ZTE JoyGo Garap Musik Digital

ZTE JoyGo Info Tech meluncurkan layanan musik digital di Indonesia. Anak perusahaan ZTE dari Tiongkok ini akan memberikan lebih dari satu juta lebih konten musik ke operator telekomunikasi lokal, Telkom Flexi dan para provider kontennya.

Peluncuran ini akan memperluas jangkauan layanan ZTE JoyGo’s Music di Asia, dan menjadikan layanan ini salah satu distributor musik terbesar di dunia. Saat ini, layanan ZTE JoyGo telah melayani lebih dari satu miliar pengguna nirkabel di seluruh dunia.

“Di Indonesia, para pengguna TELKOM Flexi dapat mengunduh musik melalui telepon genggam ataupun situs Telkom Flexi (www.telkomflexi.com),” kata General Manager Value-added Services (VAS) ZTE JoyGo Regan Lee dalam siaran pers, Senin (21/6).

Dia menjelaskan, bisnis musik digital hanya salah satu bagian dari layanan VAS. ZTE JoyGo adalah salah satu penyedia konten VAS, baik melalui jaringan ataupun nirkabel. “Kami berdedikasi untuk menciptakan segala bentuk layanan VAS baik di internet ataupun nirkabel kepada para rekanan dan konsumen kami,” kata Lee.

Di masa yang akan datang, JoyGo akan mengintegrasikan layanan VAS langsung ke perangkat telepon genggam ZTE sehingga bisa lebih mudah diakses dan nyaman bagi para pengguna.


Lanjut ah...

Google Rambah Bisnis di Indonesia

GOOGLE Inc serius menggarap pasar web mobile advertising di Indonesia. Jumlah populasi penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa menjadi pertimbangan penting perusahaan pengembang teknologi mesin pencari ini dalam mengembangkan bisnisnya.

“Indonesia memiliki potensi pasar yang mesti dianggap serius oleh perusahaan multinasional manapun di dunia,” kata Head of Marketing Google Asia Tenggara Derek Callow di sela peluncuran Google Chrome di Jakarta, Selasa (22/6).

Pengguna Google di Indonesia, kata Derek, memiliki karakteristik yang sangat unik dalam memanfaatkan mesin pencari. Pencarian paling banyak yang dilakukan pengguna di Indonesia meliputi gambar, jejaring sosial, dan orang.

Sedangkan Lead Product Manager Google Asia Tenggara Andrew McGlinchey mengatakan, pertumbuhan layanan Google di Indonesia pada 2009 melalui komputer mengalami peningkatan dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, penggunaan mesin pencari Google di ponsel juga meningkat, meskipun tidak sebanyak komputer.

Meskipun demikian, belanja iklan melalui media online masih jauh dari harapan. Lembaga survei Nielsen pada 2009 mencatat pembelanjaan iklan melalui media online masih di bawah 1% dari total belanja iklan sebesar Rp 48,5 triliun.

“Tetapi kami tetap optimistis karena semakin banyak masyarakat yang online, maka semakin besar potensi pasar untuk mobile advertising. Kita akan lihat dalam enam sampai 12 bulan ke depan,” tegas Derek.

Google Chrome

Google, lanjut dia, akan tetap fokus menawarkan produk-produk yang inovatif kepada pengguna. Untuk melanjutkan inovasinya, perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini meluncurkan Google Chrome sebagai perambah web versi terbaru berbahasa Indonesia yang disertai beragam fitur lokal.

“Kami bersama dengan mitra-mitra lokal menghadirkan pengalaman berinteraksi dengan cepat, mudah, dan aman bagi 45 juta pengguna internet di Indonesia,” kata Andrew. Saat ini, Google Chrome yang diluncurkan dua tahun lalu telah digunakan secara global oleh sekitar 70 juta pengguna internet.

Tampilan aplikasi browser versi terbaru ini diklaim 200% lebih cepat dibandingkan versi beta pertama yang dirilis satu setengah tahun lalu. Google Chrome kini menyertakan fitur-fitur intuitif yang membuat pengguna tetap fokus kepada konten web, dan bukan kepada peramban.

Selain itu, Google menggandeng sejumlah mitra lokal dalam fitur Ekstensi Google Chrome, di antaranya Detik.com, Kompas.com, Kapanlagi.com, Cinema 21, dan Kaskus. Untuk mengunduh browser ini bisa dilakukan lewat www.google.co.id/chrome

Chrome versi 5 ini juga dilengkapi dengan mesin pembaca JavaScript, V8, yang mampu membaca aplikasi jauh lebih cepat. "Google bisa mengatakan dengan fitur tersebut, Chrome akan 200 kali lebih cepat dari Chrome versi beta pertama yang dihadirkan satu setengah tahun lalu," tandasnya.

Mitra Lokal

Kerja sama dengan mitra lokal tersebut sebelumnya pernah dilakukan antara pesaing Google, yaitu Yahoo. Bahkan, Yahoo berani mengakuisisi pengembang lokal Koprol.com, sebuah aplikasi jejaring sosial lokal yang berbasis lokasi.

“Kami akan berinvestasi dalam mengembangkan produk, sumber daya manusia, penjualan. Salah satu investasi kami yaitu melalui akuisisi,” jelas Country Manager Yahoo Indonesia Pontus Sonnerstedt dalam kesempatan terpisah baru-baru ini.

Yahoo menilai akuisisi ini sebagai salah satu cara untuk menambah nilai jual produk serta meningkatkan jumlah audiens. “Strategi ini sangat penting untuk menawarkan produk-produk kami kepada pasar,” kata Pontus.



Lanjut ah...

Selasa, 22 Juni 2010

Retender BWA, DPR Minta Kemenkominfo Cermat

DPR RI meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) lebih selektif dalam menentukan pemenang tender ulang Broadband Wireless Access (BWA) pita 2,3 GHz. Dengan demikian, komersialisasi jaringan Wimax di Indonesia diharapkan dapat terealisasi tepat waktu.

Demikian dikatakan anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Jeffrie Geovanie dalam wawancara dengan Investor Daily belum lama ini.

Sementara itu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, meski ada pemenang tender BWA yang dibatalkan, pemerintah tetap yakin, layanan BWA pada pita frekuensi 2,3 GHz akan memasuki tahap komersialisasi pada tahun ini.

“Dalam izin yang mereka pegang, ada ketentuan waktu penggelaran layanan,” kata Gatot kepada Investor Daily, belum lama ini.

Dia menjelaskan, hingga saat ini, pemegang lisensi BWA ita 2,3 GHz yang sudah siap menggelar layanan BWA adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Mega Media (IM2), dan PT First Media.

Regulasi Tender BWA

Sementara itu, mengenai tender ulang atas lisensi BWA yang diambil kembali oleh pemerintah, menurut Gatot, juga sedang disiapkan. Pasca pencabutan lisensi BWA itu, regulator segera menyusun aturan-aturan tender yang tertuang dalam peraturan menteri (permen).

“Regulasi mulai kami susun, dan saya yakin proses retender akan lebih cepat dari masa lalu. Juni ini baru kick-off rencana retender,” kata Gatot.

Pernyataan Gatot ini sekaligus menegaskan tentang pastinya pencabutan izin lisensi BWA pita 2,3 GHz yang dipegang PT Internux, Konsorsium PT Comtronics dan PT Adiwarta Perdania, serta Konsorsium Wireless Telecom Universal (WTU). Setelah pencabutan izin, pemerintah kini melangkah pada tahap selanjutnya, yakni penyusunan regulasi berupa Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo).

Jika aturan Permenkominfo itu rampung, kata Gatot, pemerintah akan beranjak ke penyusunan personil tim panitia lelang dan seleksi dokumen. Sebagai gambaran, saat tender BWA pada tahun lalu, pemerintah membutuhkan waktu sekitar enam bulan sejak permen dan keputusan menteri disahkan. “Dulu, permen keluar pada Januari 2009 dan lelang baru dilaksanakan pada Juli 2010,” kata Gatot.

Setelah regulasi tender ulang rampung, pemerintah akan menyusun tim lelang serta menyeleksi dokumen peserta lelang. “Untuk besaran harga dasar (reserved price) lisensi pada zona-zona yang tersedia akan kami bicarakan dengan Kementerian Keuangan. Sebab ini terkait dengan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP),” jelas Gatot.

Sedangkan sejumlah operator yang telah mengantungi lisensi BWA pita 2,3 GHz, seperti Telkom, IM2 dan First Media, menurut Gatot, akan mendapat hak istimewa (privilege). "Tetap akan ada privilege untuk mereka. Jangan sampai mereka memegang lisensi tapi tidak ada eksekusi. Jadi intinya operator yang telah mengkomersialisasi hal ini tetap jalan," katanya.

Azas Kehati-hatian

Anggota Komisi I DPR Jeffrie Geovanie meminta Kemenkominfo mempertimbangkan aspek kemampuan finansial di samping aspek teknis dalam menentukan pemenang tender. Kehati-hatian dalam memilih pemenang tersebut bertujuan untuk menghindari kejadian gagal bayar (default) agar tidak terulang lagi.

Pada tender tahun lalu, ada 30 lisensi BWA yang dimenangi delapan perusahaan. Tiga perusahaan akhirnya tidak bisa melunasi kewajibannya tepat waktu sehingga izin lisensi BWA itu dicabut. Ketiga pemenang tender lisensinya diambil lagi oleh pemerintah adalah PT Internux, Konsorsium PT Comtronics dan PT Adiwarta Perdania, serta Konsorsium Wireless Telecom Universal (WTU). Bahkan, Konsorsium Comtronics mengundurkan diri sebelum batas waktu pembayaran berakhir.

Zona yang ditinggalkan tiga pemenang tender itu adalah zona 4 (Jabodetabek dan Banten), zona 5 (Jawa Barat minus Botabek), zona 6 (Jawa bagian Tengah), zona 7 (Jawa bagian Timur), zona 9 (Papua), zona 10 (Maluku dan Maluku Utara), serta zona 15 (Kepulauan Riau termasuk Batam dan Bintan).

Kejadian ini menimbulkan dugaan ketidakcermatan pemerintah dalam menentukan pemenang tender. Selain itu, sikap para pemenang tender dianggap meremehkan ketentuan yang digariskan regulator.

“Kalau terjadi kegagalan lagi, kerugian tidak hanya menimpa perusahaan pemenang dan pemerintah, tapi juga masyarakat yang menginginkan layanan internet murah,” kata Jeffrie.


Lanjut ah...

Wimax Dulu, Baru LTE

MENKOMINFO Tifatul Sembiring mengatakan, tidak ada masalah dengan uji coba LTE oleh Telkomsel. Sedangkan penerapannya secara komersial diperkirakan masih sekitar dua tahun lagi. Pada tahap sekarang, pemerintah masih mengharapkan penggelaran teknologi Wimax yang juga menjanjikan akses data berkecepatan hingga 100 Mbps.

“Ini hanya uji coba. Masa berlaku izin uji coba ini juga cuma seminggu, yakni dari 21 - 27 Juni 2010. Untuk lisensi mobile broadband, kami masih mengandalkan broadband wireless access(BWA). Pokoknya Wimax yang stasioner (16d) jalan dulu, baru setelah itu LTE,” kata Tifatul di Jakarta, Senin (21/6).

Tifatul menegaskan, untuk saat ini, pemerintah masih berharap pada Wimax untuk menyediakan layanan internet supercepat di Tanah Air. Akhir tahun lalu, pemerintah telah mengeluarkan 30 lisensi BWA kepada delapan perusahaan. “Dalam waktu dekat, operator BWA akan men-deploy teknologi Wimax, dan diuji kelayakannya untuk kemudian dipasarkan secara komersial,” kata Tifatul.

Pemerintah, kata Tifatul, telah memutuskan bahwa lisensi BWA itu hanya akan menggunakan teknologi Wimax nomadik atau 16d. “Bagi yang ingin mengimplementasikan Wimax 16e, lebih baik ke LTE saja nanti. Tapi dua tahun lagi,” kata Tifatul.

Sementara itu, Plt Dirjen Postel Muhammad Budi Setiawan mengatakan, pemerintah mengharapkan para pemilik lisensi BWA segera membangun jaringan Wimax-nya. “Kita harapkan tak lama lagi Wimax sudah digelar oleh operator BWA,” kata Plt Dirjen Postel yang akrab disapa Iwan itu.

Iwan mengatakan, pekan lalu Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengunjungi industri perangkat Wimax lokal, yakni PT Teknologi Riset Group (TRG), PT Hariff Daya Tunggal Engineering (Hariff), PT LEN Industri dan PT Xirka. “Hasilnya nanti kami diskusikan dengan operator BWA. Mudah-mudahan minggu ini atau minggu depan sudah ada hasilnya,” kata dia.



Lanjut ah...

Telkomsel Uji Coba LTE di Tiga Kota

TELKOMSEL menguji coba implementasi teknologi Long Term Evolution (LTE) di tiga kota, Jakarta, Denpasar dan Medan. Namun, pemerintah menegaskan, teknologi akses internet supercepat ini baru bisa diterapkan secara komersial dua atau tiga tahun lagi.

Demikian ditegaskan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring usai menyaksikan Demo Research and Development LTE Telkomsel di Jakarta, Senin (21/6). Hadir pada acara itu Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Herfini Haryono, dan Direktur PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Ermady Dahlan.

"Implementasi LTE itu masih panjang karena perlu riset-riset lebih dalam. Kami juga perlu menyiapkan regulasi dan tender lisensinya. Untuk tender saja butuh waktu delapan bulan. Jadi, mungkin dua tahun lagi LTE akan fully commercial," kata Tifatul.

Sebagai tahap awal, pada uji coba LTE di Jakarta, Telkomsel menggandeng mitra vendor jaringan asal Tiongkok, Huawei. Sedangkan untuk uji coba Dual Carrier HSPA+ di Medan, Telkomsel bekerja sama dengan Ericsson dan dengan Nokia Siemens Networks (NSN) di Denpasar. Ke depan, seluruh mitra Telkomsel (Huawei, Ericsson, NSN, dan ZTE) akan menggelar uji coba LTE dan Dual Carrier HSPA+.

Uji coba LTE di Jakarta dilakukan di Hotel Grand Melia ke kantor R&D Telkomsel di Buaran. Frekuensi yang digunakan 1800 MHz selebar 10 MHz dan hasilnya adalah kecepatan akses internet hingga 69,5 megabit per detik (Mbps). Hasil ini masih jauh dari kemampuan yang bisa diberikan LTE, yang bisa menghadirkan akses internet berkecepatan 172 Mbps.

Dalam uji coba di Denpasar, Telkomsel mengadakannya di Hotel Hard Rock yang diteruskan ke kantor Telkomsel di Renon. Uji coba itu menggunakan frekuensi 2100 MHz, dan hasilnya adalah kecepatan akses internet hingga 41,9 Mbps. Uji coba di Medan, Sumatera Utara diadakan di Hotel Aryaduta dan kantor Telkomsel di Jalan Amir Hamzah pada frekuensi 2100 MHz. Hasilnya adalah kecepatan akses internet rata-rata 42,3 Mbps.

Pada kesempatan itu, Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, uji coba LTE ini membuktikan keseriusan operator terbesar di Indonesia dan terbesar keenam di dunia itu untuk memandu industri telekomunikasi seluler menghadapi evolusi teknologi terkini. “Kesiapan dalam menguji coba teknologi LTE ini makin menguatkan komitmen Telkomsel dalam berinvestasi, sekaligus memandu perkembangan industri seluler di Indonesia memasuki era baru layanan mobile broadband,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Telkomsel juga menjalin kerja sama riset dengan tiga perguruan tinggi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Institus Teknologi Telkom (ITT).

Dalam uji coba LTE ini, Telkomsel melakukan pengkajian teknis maupun bisnis, terutama kebutuhan akan sumber daya, seperti alokasi frekuensi guna menggelar LTE, kebutuhan investasi baru, serta pendayagunaan investasi yang ada untuk pengembangan implementasi LTE. Telkomsel ingin menghadirkan layanan mobile broadband berkecepatan hingga 150 Mbps (downlink) dan 50 Mbps (uplink) untuk mendukung high definition streaming video, Voice over Internet Protocol (VoIP), dan aplikasi lain.

Sarwoto menjelaskan, Telkomsel saat ini memiliki pelanggan 86 juta, dengan jumlah pelanggan data (internet) sebanyak 16 juta. Saat ini Telkomsel memiliki 30 ribu lebih base transceiver station (BTS), dengan lebih dari 5.000 Node-B atau BTS 3G di 150 kota. Telkomsel adalah operator pertama yang menggelar layanan mobile broadband berteknologi high speed packet access plus (HSPA+) dengan kecepatan 21 Mbps di 24 kota. Yakni, pada 4 November 2009.

Kali ini, Telkomsel memelopori uji coba LTE. Pada 2005, operator ini juga yang pertama menguji coba teknologi generasi ketiga (3G), dan menjadi operator pertama menghadirkan layanan 3G secara komersial (2006), dan menghadirkan layanan mobile broadband Flash dengan teknologi HSDPA pada 2007, dan Next Generation Flash pada 2009 dengan teknologi HSPA+.

Teknologi HSDPA dan HSPA+ sejatinya masih berbasis 3G yang masih terus berevolusi ke Dual Carrier HSPA+ yang mampu mengantarkan data berkecepatan 42 Mbps, Multi Carrier (84Mbps), dan Multi Carrier dengan didukung antena Multiple Input Multiple Output (MIMO) 2x2 (168 Mbps). Sedangkan LTE adalah teknologi 4G yang menjanjikan kecepatan 172 Mbps. Teknologi ini akan berevolusi ke LTE Advance yang menawarkan kecepatan hingga 300 Mbps, 600 Mbps atau bahkan 1 Gbps dengan teknologi Multi Carrier dan MIMO 4x4.



Lanjut ah...

Tarif BlackBerry XL Kini Rp99 Ribu Per Bulan

PT XL Axiata Tbk (XL) mulai merespons kompetisi layanan BlackBerry Internet Service (BIS) dengan meluncurkan program XL BlackBerry One dengan tarif Rp 99 ribu per 30 hari. Program yang berlaku secara nasional mulai 21 Juni 2010 ini akan memaksimalkan layanan BIS kepada 400 ribu pelanggan BlackBerry XL saat ini.

“BlackBerry banyak dicari karena kualitas layanan dan besarnya manfaat yang dibawanya. Untuk memaksimalkan manfaat bagi pelanggan, XL tidak ragu untuk memberikan penawaran tarif berlangganan BlackBerry One bulanan menjadi hanya Rp99 ribu per 30 hari,” kata Direktur Marketing XL Nicanor V Santiago, dalam keterangan resminya, Senin (21/6).

Tarif BlackBerry XL ini makin menyemarakkan persaingan pada layanan BlackBerry. Pekan lalu, Telkomsel menghadirkan paket unlimited BlackBerry dengan tarif Rp 70 ribu per bulan. Pelanggan dapat menikmati tarif layanan BlackBerry ini dengan membeli paket bundling BlackBerry Bold 9700 White Edition seharga Rp 4,899 juta.

Vice President Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo menjelaskan, paket BlackBerry Unlimited (full services) Rp 70.000 per bulan diperoleh pada bulan kedua, ketiga, dan keempat setelah berlangganan paket Rp 120 ribu pada di bulan pertama. Kini, jumlah pelanggan BlackBerry Telkomsel telah mencapai 480 ribu.

Sebelumnya, XL dan Telkomsel juga bersaing dalam memberikan kapasitas jaringan bagi layanan BlackBerry dan kini telah sama-sama menjadi 400 megabit per detik (Mbps). Dengan peningkatan bandwitch itu, XL dan Telkomsel menjadi operator di Indonesia yang terkoneksi dengan Research In Motion (RIM) dengan dual-carrier partner.

Nicanor menjelaskan, tarif BlackBerry XL itu untuk layanan penuh BlackBerry, termasuk untuk browsing, email, chating, serta akses jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Tarif murah ini sebelumnya sudah dikenakan bagi pelanggan baru XL BlackBerry.

Pelanggan XL saat ini mencapai 33 juta, dan 400 ribu di antaranya adalah pelanggan BlackBerry. Saat ini, kata Nicanor, XL didukung dengan jaringan 3G dengan lebih dari 20 ribu base transceiver station (BTS), di antaranya 2.225 NodeB/BTS 3G di Jawa, Sumatera, Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sebanyak 50% dari NodeB yang ada tersebut menggunakan teknologi HSDPA yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia, terutama Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar.

Sementara itu, untuk mendukung pelayanan bagi pelanggan BlackBerry, XL menyediakan 24 Xperience Land di 14 kota, antara lain di Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, Medan, Pekanbaru, Lampung, Palembang, dan Jambi. “Kami berharap tarif berlangganan yang semakin terjangkau ini akan meringankan masyarakat luas yang ingin menikmati layanan handal XL BlackBerry,” tutup Nicanor.


Lanjut ah...

Senin, 21 Juni 2010

Lintasarta Incar Petumbuhan Pendapatan 20%

PT APLIKANUSA Lintasarta (Lintasarta) menargetkan pendapatan perusahaan tumbuh 15-20% pada 2010. Target tersebut dicanangkan setelah perusahaan meraih pendapatan sektiar Rp 1,25 triliun pada tahun lalu.

“Kami ingin pertumbuhan pendapatan di atas rata-rata pasar, sekitar 15-20%,” kata Direktur Utama Lintasarta Samsriyono Nugroho kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (18/6).

Untuk mencapai target itu, Lintasarta mulai membidik wilayah di luar Pulau Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan. Daerah di luar Jawa ini memiliki potensi pasar, khususnya untuk microbanking.

“Kalau dilihat tren layanan telekomunikasi dan data di Pulau Jawa mulai stagnan. Sementara itu kebutuhan di daerah seperti Sumatera dan Kalimantan mulai tumbuh besar,” jelas Samsriyono, yang baru saja dilantik menjadi dirut Lintasarta menggantikan Noor SDK Devi.

Lintasarta masih mengandalkan layanan jaringan data dan telekomunikasi untuk korporasi, khususnya di sektor perbankan dan multifinance sebagai pendulang pendapatan. Sektor itu, kata Samsriyono, masih menyumbangkan sekitar 50-60% dari total pendapatan kepada perusahaan.

Sementara itu, Lintasarta juga menargetkan bisa membangun jaringan internet kecamatan yang baru dimenangkannya dalam tender belum lama ini. Seluruh paket pengerjaan Internet Kecamatan dalam kerangka Universal Service Obligation (USO) itu diharapkan rampung pada November 2010.

“Kami sudah meresmikan internet kecamatan di So'e, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai kecamatan pertama. Sekarang kami menargetkan paket pengerjaan 7 selesai pada Agustus 2010,” tegas dia.

Anak perusahaan PT Indosat ini mendapat mandat dari pemerintah untuk pengerjaan paket 7, 8, dan 9. Paket 7 mencakup 90 Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) di Bali, 125 PLIK di Nusa Tenggara Barat, dan 213 PLIK di Nusa Tenggara Timur. Paket 8 terdiri atas 173 PLIK di Kalimantan Barat, 156 PLIK di Kalimantan Selatan, 132 PLIK di Kalimantan Tengah, dan 158 PLIK di Kalimantan Timur. Lintasarta juga mengerjakan paket 9 yang meliputi 84 PLIK di Maluku, 74 PLIK di Maluku Utara, 103 PLIK di Irian Barat, serta 207 PLIK di Papua.

Adapun nilai kontrak empat tahun yang diberikan untuk paket pekerjaan 7 sebesar Rp92,05 miliar, paket pekerjaan 8 senilai Rp143,86 miliar, dan paket pekerjaan 9 dengan nilai kontrak Rp116,90 miliar. Lintasarta akan menyediakan total 1.515 PLIK di tiga lokasi itu.

“Kami melihat proyek ini untuk jangka panjang dimana masyarakat di daerah dapat melek internet. Kalau industri di daerah tumbuh, bank dapat melakukan penetrasi, dan kami bisa mengambil peluang dari situ,” kata Samsriyono.

Pergantian Dirut

Pada 27 Mei 2010, manajemen Lintasarta menyelesaikan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan yang menyetujui perubahan susunan Dewan Direksi Perseroan. Samsriyono Nugroho yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Usaha dipercaya menjadi dirut Lintasarta menggantikan Noor SDK Devi. Sedangkan Dido Priyadi yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Perseroan dipercaya untuk menggantikan posisis Samsriyono.

Samsriyono berharap Lintasarta tidak hanya dikenal masyarakat sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi data dan internet untuk korporasi, melainkan sebagai penyedia solusi terhadap kebutuhan korporasi melalui produk value added service (VAS) seperti Data Center, Video Conference, VSAT IP, Frame Relay, Managed Service, Corporate Mailer, sampai SMS Corporate.

“Saya ingin membuat Linasarta menjadi perusahaan yang lebih adaptable terhadap kebutuhan pelanggan, mulai dari jaringan hingga aksesorisnya,” ungkap Samsriyono.

Lintasarta mulai mengembangkan portofolio layanan dengan masuk sebagai pemain konten. Saat ini, layanan konten mulai dikembangkan oleh anak perusahaan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa).



Lanjut ah...