PT Indosat Tbk berhasil meluncurkan satelit Palapa-D dari Xichang, Tiongkok, Senin (31/8). Peluncuran berlangsung pada pukul 17:28 waktu setempat atau 16:28 WIB dalam kondisi cuaca yang sangat mendukung sehingga proses peluncuran berjalan lancar.
”Peluncuran Satelit Palapa-D ini kami persembahkan bagi bangsa dan seluruh masyarakat Indonesia, sebagai wujud dan semangat menyatukan cinta kepada negeri melalui teknologi dan layanan telekomunikasi satelit, yang akan menjamin keterhubungan antar wilayah di seluruh Indonesia dan menghubungkan Indonesia ke berbagai penjuru dunia,” kata President Director & CEO Indosat Harry Sasongko usai menyaksikan peluncuran di Xichang, Tiongkok, Senin (31/8).
Satelit Palapa-D diproduksi Thales Alenia Space France (TAS-F) yang ditunjuk Indosat sebagai mitra pengadaan. Dengan menggunakan platform TAS Spacebus 4000B3, Satelit Palapa-D digaransi beroperasi selama 15 tahun dan memiliki kapasitas lebih besar dibandingkan Palapa-C2, yaitu 40 transponder yang terdiri atas 24 standar C-band, 11 extended C-Band serta 5 Ku-band. Jangkauannya mencakup Indonesia, negara-negara Asean, Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.
”Satelit Palapa-D ini juga merupakan wujud komitmen kami dalam memberikan pelayanan terbaik dan berkesinambungan bagi pelanggan layanan satelit. Seperti halnya Satelit Palapa-C2, Satelit Palapa-D juga akan kami manfaatkan sebagai backbone untuk mendukung layanan Indosat lainnya seperti seluler, telepon tetap dan data tetap,” ujar Harry.
Segmen pelanggan yang memanfaatkan layanan ini antara lain broadcaster televisi/radio baik lokal, nasional dan internasional, penyedia jasa VSAT lainnya, ISP, dan korporasi sebagai pengguna langsung, serta Indosat Grup sendiri (seluler, fixed telecommunication dan anak perusahaan).
Telah dimuat di Investor Daily edisi Selasa 1 September 2009
Selasa, 01 September 2009
Indosat Sukses Luncurkan Satelit Palapa-D
Senin, 31 Agustus 2009
GANDENG HUAWEI
Telkomsel Tawarkan Gratis Internet 6 Bulan
Telkomsel menggelar program bundling USB modem Huawei seri terbaru E-1750 dan E-1550 dengan layanan mobile broadband Telkomsel Flash. Paket bundling ini dilengkapi fasilitas gratis internet 300 MB per bulan selama enam bulan dengan kecepatan download hingga 7,2 Mbps.
Untuk paket bundling Telkomsel Flash-Huawei E-1750 yang dijual seharga Rp 900.000 ini memiliki kecepatan download hingga 7,2 Mbps dan upload mencapai 5,76 Mbps. Modem ini terintegrasi dengan PC-Voice yang memungkinkan menerima telepon ketika sedang berinternet.
Sementara itu, USB Modem Huawei E-1550 seharga Rp 700.000 dengan kemampuan kecepatan download hingga 3,6 Mbps dan didesain bagi kalangan muda yang trendi dan fashionable.
Vice President Channel Management Telkomsel Gideon Edie Purnomo mengatakan, peluncuran paket bundling untuk Telkomsel Flash ini merupakan salah satu wujud apresiasi atas tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan mobile broadband Telkomsel. “Saat ini pengguna Telkomsel Flash mencapai satu juta atau meningkat 400% dibanding jumlah pada akhir 2008 yang hanya 200.000 pelanggan,” kata Gideon di Jakarta, akhir pekan lalu.
Telkomsel kini melayani 78 juta pelanggan. Pada 2010, jumlah pelanggan mobile selular di Indonesia diperkirakan menembus angka 150 juta dan pengguna internet 35 juta. Mobile selular dan internet akan berkonvergensi sehingga kehadiran mobile wireless internet broadband manjadi solusi para pengguna internet yang mempunyai tingkat mobilitas tinggi. “Potensi pengguna mobile broadband akan mencapai lima juta pada akhir 2010,” kata dia.
Sementara itu, Deputi Presiden Direktur Huawei James Zhao bangga dapat bekerja sama dengan Telkomsel. “Dengan adanya kerjasama dengan operator terbesar yang memiliki jaringan terluas dan pertumbuhan pelanggan yang tinggi, kami berharap produk ini mendapat respon positif dari pelanggan Telkomsel,” kata dia.
Paket bundling ini, menurut Zhao, merupakan sinergi layanan berkualitas dengan kecanggihan modem Huawei berbiaya rendah. Sebelumnya Huawei juga telah mendukung Telkomsel dalam mengembangkan jaringan GSM dan UMTS dalam upaya memenuhi kebutuhan seiring pesatnya pertumbuhan pelanggan Telkomsel yang meningkat rata-rata 1,7 juta pelanggan per bulan.
Telah dimuat di Investor Daily edisi Senin 31 Agustus 2009
Minggu, 30 Agustus 2009
Mobi Blok 2 Juta Konten Porno
PT Mobile-8 Telecom Tbk meluncurkan layanan data ‘Internet Sehat Mobi’. Layanan ini memblok sekitar dua juta konten negatif berupa website porno. Ini sebagai jawaban atas keluhan para orang tua terhadap ancaman situs-situs berbau pornografi dan kekerasan yang merusak moral anak-anak.
“Paket modem Mobi yang dipaketkan bersama jajaran notebook yang dikeluarkan oleh PT Masterdata ini memberikan sebuah ‘keamanan’ untuk keluarga dalam berselancar di dunia maya,” kata Presiden Direktur Mobile-8 Merza Fachys dalam acara peluncuran Internet Sehat Mobi di Mall Artha Gading Jakarta, Kamis (27/8).
Layanan ini sebenarnya adalah bentuk dukungan Mobile-8 terhadap program yang dicanangkan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) yaitu Internet Sehat Aman (Insan). Program yang diresmikan pada 23 Februari 2009 ini bertujuan memberikan perlindungan kepada generasi muda terhadap konten-konten negatif serta melakukan penetrasi terhadap tumbuhnya konten-konten lokal yang positif.
“Saat ini, kami baru memblok konten-konten porno. Tahap berikutnya kami akan membatasi konten-konten negatif lainnya seperti yang mengandung kekerasan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang,” kata Merza.
Depkominfo memang sedang menyosialisasikan Insan kepada masyarakat serta para pengusaha warnet. “Sejak tahun 2008, pemerintah sudah memberikan payung hukum terhadap berbagai bentuk transaksi elektronik. Selain itu, inisiatif Insan ini sudah diakui dunia,” kata Sekretaris Ditjen Aplikasi dan Telematika Depkominfo Joko Agung.
Mobi ‘sehat’ ini adalah prototype lanjutan dari modem Mobi yang telah diluncurkan pada Juni 2009. Paket ‘sehat’ ini memiliki tanda pengenal stiker pita berwarna oranye. Harga Rp 499 ribu yang sangat terjangkau membuat Mobi sekarang dilirik banyak pengguna internet yang mobile. Solusi komunikasi data dari Mobile-8 ini telah melayani lebih dari 35.000 pelanggan. Kali ini, Mobile-8 melepas 20.000 unit Mobi ‘sehat’.
Teknologi CDMA EVDO rev.A yang ditawarkan Mobile-8 ini menghasilkan kecepatan hingga 3,1 Mbps, yang biasa diakses di daerah Jakarta dan Bandung. Untuk daerah lain, pengguna juga dapat menikmati layanan ini di area Mobile-8 lainnya dengan kecepatan data 153Kbps atau setara GPRS. Selain itu pelanggan dapat menikmati paket internet unlimited yang dijual mulai dari Rp 50 ribu/bulan sampai dengan Rp 250 ribu/bulan.
Dalam memasarkan produk ini, Mobile-8 menggandeng Masterdata yang menyediakan berbagai notebook terkenal seperti Acer, Asus, Compaq/HP, Lenovo, dan Sony Vaio. “Secara tidak langsung, kami memiliki kewajiban dalam menawarkan media yang sehat dan aman untuk melakukan akses ke dunia maya,” sambung Soegiharto Santoso, Direktur Masterdata yang sekaligus menjadi Tim Sosialisasi Insan Depkominfo.
Selain itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi ikut memberikan dukungannya terhadap program Internet sehat. “Mudah-mudahan pemenuhan hak anak untuk mendapat informasi positif dari internet dapat berjalan lebih baik,” harap Kak Seto, panggilan akrabnya.
Telah dimuat di Investor Daily edisi Sabtu, 29 Agustus 2009
Kamis, 27 Agustus 2009
Penyelenggara IPTV Harus Konsorsium
Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) menegaskan, penyelenggara Internet Protokol TV (IPTV) atau layanan televisi protokol internet di Indonesia diwajibkan berbentuk konsorsium yang anggotanya minimal terdiri atas dua badan hukum Indonesia dan memiliki izin untuk penyelenggaraan layanan IPTV.
Demikian penegasan Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewa Broto berkaitan dengan telah dirilisnya Peraturan Menkominfo No 30/2009 tentang Penyelenggaraan Layanan Televisi Protokol Internet (Internet Protocol Television/IPTV) di Indonesia pada 19 Agustus lalu. Pernyataan itu dikeluarkan di Jakarta, Selasa (25/8).
Gatot menjelaskan, dalam peraturan ini di antaranya disebutkan, penyelenggaraan layanan IPTV bertujuan untuk mendorong investasi untuk memacu penggelaran infrastruktur jaringan telekomunikasi pita lebar secara luas. Selain itu, penyelenggaraan layanan IPTVuntuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan jaringan tetap lokal yang menggunakan jaringan kabel yang sudah ada, serta memacu pertumbuhan industri konten, perangkat keras, dan perangkat lunak dalam negeri.
"Di samping tujuan-tujuan tersebut di atas, peraturan ini juga menyebutkan beberapa hal yang menarik di antaranya tentang penyelenggara IPTV yang harus berupa konsorsium," kata dia.
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) adalah perusahaan yang siap menggelar layanan IPTV. BUMN ini sudah lama menanti aturan mengenai IPTV. Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, kesiapan Telkom tersebut didukung tersedianya infrastruktur Telkom untuk menyelenggarakan akses Triple Play. Yakni, layanan suara, data broadband dan multimedia, termasuk TV internet.
“Telkom menyambut baik permen itu. Mengenai persyaratan-persyaratan, seperti konsorsium dan konten, kami akan mendalaminya dulu agar comply terhadap aturan tersebut,” kata Eddy Kurnia.
Telkom, kata Eddy, memiliki anak perusahaan yang bisa menyediakan konten IPTV, yakni PT Telkom Vision atau Yes TV, yang akan diposisikan sebagai konten agregator. “Kami yakin dengan regulasi yang jelas, bisnis IPTV akan tumbuh dengan baik seiring dengan kebutuhan masyarakan yang haus akan informasi dan hiburan,” kata dia.
Menurut Gatot, Permen tentang IPTV itu mensyaratkan penyelenggaranya konsorsium, yang minimal terdiri atas dua badan hukum Indonesia. Kepemilikan saham oleh pihak asing pada Penyelenggara Jaringan Tetap Lokal, Penyelenggara Jasa Multimedia Jasa Akses Internet ( Internet Service Provider/ISP), dan Lembaga Penyiaran Berlangganan, yang tergabung dalam konsorsium harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Peraturan itu juga menetapkan untuk layanan penyiaran (pushed services), penyelenggara harus menyediakan sekurang-kurangnya sebesar 10% dari kapasitas saluran untuk menyalurkan konten produksi dalam negeri," kata Gatot.
IPTV adalah teknologi yang menyediakan layanan konvergen dalam bentuk siaran radio dan televisi, video, audio, teks, grafik dan data yang disalurkan ke pelanggan melalui jaringan protokol internet yang dijamin kualitas layanannya, keamanannya, kehandalannya, dan mampu memberikan layanan komunikasi dengan pelanggan secara dua arah atau interaktif dan real time dengan menggunakan televisi standar.
Dalam bahasa lain, IPTV tak ubahnya layanan TV berbayar yang ditransmisikan melalui jaringan Internet Protocol (IP). Siarannya dapat ditonton di rumah melalui peralatan penerima TV dengan tambahan sebuah Set Top Box (IP-STB). Berbeda dengan TV Internet yang biasa kita saksikan di situs-situs seperti YouTube, IPTV merupakan jaringan tertutup yang hanya dapat diakses oleh mereka yang berlangganan.
IPTV menyediakan konten program televisi ( sport, news, film , dan lain-lain) dan konten hiburan interaktif lainnya (musik, game, advertising) melalui suatu jaringan broadband IP network yang aman (secure ) dan dikelola secara akurat/end to end oleh service provider. Sedangkan pada sisi client atau user layanan yang bersifat multicast (dari satu sumber untuk banyak pengakses) ini dapat diakses menggunakan terminal PC/desktop maupun pesawat televisi dengan tambahan perangkat yang disebut IP Set Top Box (IP-STB). Layanan akses "triple play" yang telah cukup lama berkembang pesat di negara-negara maju dan sejumlah negara berkembang, diharapkan bisa menjadi peluang bisnis baru di Indonesia.
Penyelenggaraan IPTV saat ini berkembang cepat dan merupakan potensi bisnis yang cukup prospektif. Layanan ini sedang berkembang pesat di kawasan Eropa Barat dan Amerika. Ragam layanan IPTV di antaranya Electronic Program Guide, Broadcast/Live TV, Pay Per View, Personal Video Recording, Pause TV, Video on Demand, Music on Demand (Walled Garden), Gaming, Interactive advertisement, dan T-Commerce.
Di Indonesia ada beberapa penyelenggara telekomunikasi yang sudah sangat berminat dan siap untuk menyediakan layanan tersebut. "Ini menunjukkan, rancangan peraturan ini dibuat bukan karena latah mengikuti negara lain, tetapi lebih karena kecenderungan internasional cukup potensial dan kesiapan penyelenggara di Indonesia juga sudah memungkinkan kelayanan layanannya," kata dia.
Telah dimuat di Investor Daily edisi Kamis, 27 Agustus 2009
Pemerintah Setujui Service Centre BlackBerry
Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) bersama Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akhirnya memberikan persetujuan kepada Research In Motion (RIM) untuk membuka pusat perbaikan resmi BlackBerry di Indonesia atau RIM-Authorized Repair Facility.
Persetujuan ini didapat setelah BRTI menggelar rapat pleno dan memutuskan, BRTI secara prinsip dapat menerima kelengkapan, mekanisme, dan prosedur yang dimiliki RIM-Authorized Repair Facility di Indonesia. Namun, BRTI tetap meminta RIM membuat surat pernyataan di atas materai yang ditandatangani pejabat RIM dari kantor pusat Kanada dan yang mewakili atau bertanggung-jawab dan diberi kuasa secara hukum atas operasional RIM di Indonesia.
“Kami juga meminta agar RIM memberikan sejumlah pernyataan di antaranya RIM telah berusaha memenuhi persyaratan yang diminta BRTI. Surat itu ditujukan kepada penyelenggara telekomunikasi dan vendor/para importir terkait dengan tindak lanjut komitmen service centre RIM untuk BlackBerry,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot Dewa Broto di Jakarta, Rabu (26/8).
Menurut Gatot, keberadaan surat pernyataan itu penting, karena dapat berfungsi sebagai salah satu alat kontrol Depkominfo dan BRTI seandainya dalam proses pengawasannya terdapat hal-hal yang bertentangan dengan yang telah dijanjikannya kepada BRTI.
"Seandainya surat pernyataan tersebut sudah diserahkan kepada Depkominfo dan BRTI, secepat itu pula RIM akan memperoleh hak-haknya bagi keperluan RIM untuk segera mungkin mengajukan permohonan sertifikasi yang sempat ditangguhkan/dibekukan oleh Ditjen Postel," ujarnya.
Importir Blackberry
Gatot menjelaskan, importir, vendor, dan distributor ponsel pintar BlackBerry yang tidak berafiliasi dengan RIM diminta menyediakan layanan purna-jual bagi keperluan perlindungan konsumen di Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha dan Importir Telepon Genggam (Aspiteg) Nadham Yusuf mengatakan, pihaknya sudah mendirikan lebih dari lima service center BlackBerry. Karena itu, pihaknya tidak merasa keberatan jika ada aturan BRTI yang mewajibkan tersedianya service center bagi importir, vendor, dan distributor.
“Kalau sudah ada kesepahaman antara Pemerintah dengan RIM terkait pemberian sertifikasi, kami siap mendatangkan produk-produk terbaru,” ujar Nadham.
Telah dimuat di Investor Daily edisi Kamis, 27 Agustus 2009
Esia Bispak Memulai ‘Perang’ Promosi
Perang tarif telekomunikasi berlanjut ke perang promosi. Bakrie Telecom membuka dengan promosi “Esia Bispak: Bisa Pake Tarif Manapun” untuk menghantam lima produk GSM paling populer yang ditawarkan tiga operator besar, Telkomsel, Indosat, dan XL.
Vice President PT Bakrie Telecom Tbk Erik Meijer mengatakan, dengan program itu, pelanggan Esia bisa membandingkan tarif Esia dengan tarif seluler GSM. Bakrie Telecom tidak langsung menyebut nama produk GSM yang dimaksud, namun diplesetkan sehingga jelas arahnya. Bahkan, operator Esia itu mengakronimkan lima produk GSM itu dengan BASMI.
B adalah akronim dari Bablas, yang mengarah ke produk XL Bebas. A sebagai Asal dan S sebagai Simpatik yang merujuk ke dua produk keluaran Telkomsel, yakni Kartu As dan Simpati. Sedangkan M dan I adalah initial dari Matahari yang mengarah ke Mentari dan I’m Sri yang menjurus ke IM3 –yang keduanya adalah produk Indosat.
Untuk membandingkan tarif Esia dan lima produk GSM itu, pelanggan Esia bisa mengetikkan produk GSM yang diinginkan dari lima produk itu, yakni berupa inisialnya saja. Misalnya, untuk membandingkan tarif Esia dengan XL Bebas, pelanggan cukup mengetik huruf B dan dikirim ke 212, dengan tarif Rp 2.000 per SMS.
"Kami hanya ingin memberitahukan kepada masyarakat. Dibanding GSM manapun, tarif Esia jauh lebih murah. Klaim ini bukan hanya dari Esia, tapi dibuktikan sendiri oleh konsumen dengan mencobanya secara langsung," kata Erik Meijer saat peluncuran Esia Bispak di Jakarta, Rabu (26/8).
Bukan hanya itu. Operator Esia itu juga membayar artis-artis ibukota yang pernah dipakai operator GSM itu. Ivan Gunawan dan Titi Kamal yang pernah mempromosikan produk Indosat digaet Esia. Sedangkan Luna Maya yang karena masih dikontrak XL, diganti dengan topeng monyet.
"Dulu gue masih pakai Matahari untuk nelpon ke mana-mana. Tapi ya ampun, sebagai Miss Ring-ring, mahalnya minta ampun. Jadilah gue pindah ke Esia, karena nelpon lama atau sebentar tetap murah," kata Ivan Gunawan.
Titi Kamal mengeluarkan testimoni yang tak kalah heboh. Mengenakan baju warna kuning khas Indosat, istri Christian Sugiono mengutarakan alasannya beralih ke Esia sebagai operator termurah, ketimbang providernya dulu.
Division Head Public Relations Indosat Adita Irawati mengatakan, cara-cara promosi seperti itu sebenarnya lumrah, tetapi sejatinya ada kode etik juga dalam berpromosi. Pun begitu dengan cara-cara para mantan artis yang pernah menjadi ikon Indosat yang kemudian ‘menjatuhkan’ Indosat. “Silahkan saja berpromosi, yang penting dalam koridor etika,” kata Adita.
Adita mengakui mendapatkan informasi dari berbagai sumber tentang program promosi yang siap diiklankan itu menyudutkan atau melecehkan produk dari perusahaannya. Meski informasi tentang materi iklan tersebut sudah cukup bagi Indosat untuk melayangkan protes atau keberatan, pihaknya tidak akan memperpanjangnya sampai tuduhan pencemaran nama baik.
“Nah, semua yang terlibat dan menyetujui materi iklan itu harus bisa memahami kode etiknya agar orang lain tidak tersinggung,” kata Adita.
Sementara itu, Manager PR Corporate Communication PT Excelcomindo Pratama (EP) Febrianti Nadira mengatakan, XL menyesalkan iklan yang akan dirilis Esia itu. Namun, polemik tersebut tidak akan diperpanjang. “Biarkan saja karena masing-masing perusahaan punya cara berbeda untuk berpromosi,” kata dia.
Menanggapi kritik dari Indosat dan XL tersebut, Erik menilai apa yang dilakukan perusahannya masih dalam taraf wajar. Mengingat di dunia telekomunikasi, saling serang sesama operator, sebagai hal lumrah.
"Saya kira, operator saling menyerang satu sama lain, itu suatu hal yang wajar di dunia telekomunikasi. Malahan, kami pun sering diserang operator lain," kata Erik.
Erik juga tidak peduli dengan nama ‘Bispak’ dalam program itu yang berkonotasi wanita murahan yang idektik dengan wanita tuna susila (WTS). Pria Belanda yang menikahi artis Maudy Koesnaidi itu mengatakan, pihaknya sudah memikirkan hal itu masak-masak. "Itu tergantung dari pikiran orang masing-masing," kata Erik.
Telah dimuat di Investor Daily edisi Kamis, 27 Agustus 2009
Rabu, 26 Agustus 2009
XL Tunda Ambil Frekuensi 3G Tambahan
Setelah PT Telkomsel dan PT Indosat Tbk menyatakan siap mengambil frekuensi tambahan 3G, PT Excelcomindo Pratama Tbk (EP) juga menyatakan berminat mengambil hak. Hanya saja, untuk saat ini, operator XL itu belum berani menawar sesuai harga yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 160 miliar.
Dirut PT EP Hasnul Suhaimi mengatakan, untuk saat ini operator yang mayoritas sahamnya dikuasai Malaysia itu belum berani mengambil hak itu. Ia mengatakan, untuk mengembangkan layanan data sebagai layanan masa depan, pihaknya sangat membutuhkan tambahan frekuensi 3G.
“Untuk saat ini kami tidak mengambil hak kami atas second carrier 3G itu. Mudah-mudahan, tahun depan kami akan pertimbangkan lagi apakah hak kami itu akan kami ambil atau tidak,” kata Hasnul Suhaimi sebelum menerima penghargaan sebagai Top 10 Figures in Technology Industry di Jakarta, pekan lalu.
Dia menjelaskan, persoalannya masih soal harga. Menurut perhitungan tim XL, harga frekuensi sebesar Rp 160 miliar terlalu mahal. Oleh karena itu, bila pemerintah tetap berkukuh pada harga itu, pihaknya menyatakan tidak sanggup. “Nggak tahu kalau tahun depan,” kata dia.
Beberapa waktu lalu anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, operator yang telah mendapat lisensi 3G berhak atas tambahan frekuensi 3G masing-masing sebesar 5 MHz. Bila satu tahun setelah lelang dibuka, ada operator yang tidak mengambil haknya, frekuensi 3G itu akan dilelang kepada pihak lain.
Lima operator yang telah memiliki lisensi 3G adalah PT Telkomsel, PT Indosat, PT EP, PT Natrindo Telepon Seluler (operator Axis), dan PT Hutchison CP Telecom Indonesia (operator 3). Operator yang telah menyatakan bersedia membayar tambahan frekuensi 3G dengan harga Rp 160 miliar adalah Telkomsel dan Indosat.
Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, pihaknya telah menyatakan kesediaan membayar frekuensi 3G tambahan itu dengan harga Rp 160 miliar. Pihaknya juga telah mengirim surat resmi kepada pemerintah dan meminta invoice dari pemerintah untuk pembayarannya.
Sedangkan Indosat yang sebelumnya menawar frekuensi 3G tambahan itu di bawah Rp 100 miliar, menurut untuk Group Head Corporate Communication Indosat Adita Irawati, telah menyatakan siap membayar frekuensi 3G tambahan itu. Indosat akan menggunakan tambahan frekuensi 3G ini untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas kepada pelanggannya.
“Sebagai pelopor komunikasi data broadband untuk layanan 3G di Indonesia, Indosat terus berupaya untuk mewujudkan komitmennya,” kata Adita dalam keterangan resminya beberapa waktu lalu.
Meski Hasnul Suhaimi menyatakan tidak mengambil haknya itu pada saat ini, Direktur Commerce PT EP Joy Wahjudi menyatakan, operator XL pasti akan mengambil frekuensi 3G tambahan itu. Hanya saja, pengambilannya menunggu momentum yang tepat, terutama saat trafik data dan internet sudah tidak bisa ditangani dengan frekuensi yang tersedia.
“Tambahan frekuensi 3G itu pasti kami butuhkan. Tapi, kami sudah melaporkan ke Ditjen Postel untuk (pengambilannya) tidak sekarang. Kan kami diberi waktu satu tahun,” kata Joy Wahjudi pekan lalu.
Menurut Joy, operator XL harus memperkuat jaringan untuk layanan data menyusul peningkatan penggunaan layanan data melalui ponsel maupun modem. Terlebih lagi, penggunaan layanan data XL terus meningkat seiring dengan bertambahnya pelanggan BlackBerry.
Perbandingan Performansi Tiga Operator 3G
|
| Telkomsel | Indosat | XL |
| Pelanggan | 77 juta | 28,9 juta | 24,7 juta |
| BTS | 27.800 | 14.162 | 18.128 |
| Node-B (BTS 3G) | 4.500 | 1.400 | 1.840 |
| Pelanggan 3G | 9,2 juta | 4 juta | 6 juta |
| Pelanggan BlackBerry | 135 ribu | 120 ribu | 114 ribu |
Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Dia menyebutkan, hingga Juni 2009, pelanggan XL saat ini mencapai 24,7 juta yang dilayani sebanyak 18.128 base transceiver station (BTS), termasuk 1.840 unit node B (BTS 3G). Pelanggan 3G XL saat ini sebanyak enam juta. “Tapi, tidak semuanya aktif. Maksud saya, di antara mereka ada yang sesekali memakainya,” kata dia.
Kenaikan trafik yang terjadi masih bisa diakomodasi oleh frekuensi yang sudah ada. Selain memakai frekuensi yang tersedia, menurut Joy, XL melakukan penambahan node B untuk memperkuat kualitas layanan 3G bagi pelanggannya, terutama yang berada di Jabodetabek. Dalam tiga bulan terakhir sudah digelontorkan dana US$30 juta.
“Saya nggak tahu berapa tambahan node B-nya, tapi dananya sebanyak US$ 30 juta,” kata dia.