Jumat, 25 Juni 2010

Tri Hadirkan Paket Internet Enam Bulanan

PT HUTCHISON CP Telecom (HCPT), operator Tri, menghadirkan layanan internet unlimited terjangkau mulai dari Rp 25 ribu per bulan. Selain itu, mereka juga menyediakan layanan lain bagi pengguna yang membutuhkan akses internet dalam jangka waktu lebih panjang.

“Selain internet unlimited bulanan, kami juga mengeluarkan paket perdana yang sudah termasuk paket internet sepuasnya selama 1 bulan, 3 bulan dan 6 bulan,” kata Chief Commercial Officer PT HCPT Suresh Reddy pada keterangan persnya, Kamis (24/6).

Adapun harga masing-masing paket adalah Rp 99 ribu untuk paket satu bulan, Rp 250 ribu untuk paket tiga bulan, dan Rp 420 ribu untuk paket enam bulan. Selain pilihan layanan internet tersebut, Tri juga menyediakan paket modem HSDPA yang di-bundling dengan kartu Tri khusus data. Paket ini dilepas seharga Rp 680 ribu (termasuk PPN).

“Pengguna yang memilih paket tersebut sudah dapat menikmati internet tanpa batas selama tiga bulan, yang dapat langsung digunakan setelah pelanggan mengaktifkan kartunya,” kata Suresh.
Setelah tiga bulan, Suresh menyebutkan, pelanggan dikenakan tarif akses Rp 99 ribu per bulan (belum termasuk PPN). Modem HSDPA ini tersedia di 3Store dan mitra penjualan Tri. Adapun untuk isi ulang, pelanggan dapat melakukannya menggunakan voucher isi ulang reguler Tri.



Lanjut ah...

XL Jalin Kemitraan dengan Pertamina

PT XL Axiata Tbk (XL) menjalin kemitraan dengan PT Pertamina (Persero) untuk menjamin penyediaan suplay bahan bakar minyak (BBM) dalam rangka menunjang kegiatan operasional XL di seluruh Indonesia. Penandatangan kerjasama dilakukan Direktur Network XL Dian Siswarini dan Vice President Pemasaran BBM Industri & Marine Pertamina Hariyoto Saleh.

Dian Siswarini mengatakan, kemitraan ini memiliki nilai strategis bagi XL. Melalui kemitraan ini, Pertamina menjamin tersedianya suplay BBM bagi XL untuk menunjang kegiatan operasional sehari-hari, khususnya untuk mendukung tetap beroperasinya infrastruktur Base Transceiver System (BTS) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

“Kami juga berharap dengan adanya kemitraan ini akan dapat menjaga dan meningkatkan kenyamanan pelanggan dalam menggunakan layanan telekomunikasi yang disediakan oleh XL,” kata Dian di Jakarta, Kamis (24/6).

Melalui kerja sama ini, kata Dian, XL mendapat fasilitas untuk menggunakan sistem pembayaran terpusat melalui interactive-reserve system. Dengan kerja sama ini, XL bisa memesan, memonitoring dan membayar BBM secara lebih cepat, mudah dan dengan harga industri yang lebih pasti.

Terhitung hingga kuartal I 2010, XL telah memiliki 32,6 juta pelanggan. Untuk menjamin kenyamanan pelanggan dalam berkomunikasi, jaringan XL saat ini telah didukung infrastruktur BTS lebih dari 20 ribu yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.


Lanjut ah...

BConnect Jadi Andalan Bakrie Telecom

ANAK usaha PT Bakrie Telecom Tbk yang baru saja didirikan, PT Bakrie Connectivity (BConnect), langsung menjadi andalan pendapatan di masa mendatang. Dengan investasi US$ 100 juta atau sekitar Rp 900 miliar, BConnect ingin andil dalam bisnis layanan data, yang pada 2014 diperkirakan ada 230 juta pengguna internet di Indonesia.

Demikian dikatakan Komisaris Utama BConnect Anindya N Bakrie dan Presiden Direktur Bconnect Erik Meijer di sela peluncuran layanan data Bconnect yang diberi nama Affordable High-speed Access (AHA). Peluncuran itu diluncurkan di Jakarta, Kamis (24/6).

“Kami berharap dalam tiga sampai lima tahun ke depan, BConnect dapat memberikan kontribusi 30% terhadap keseluruhan pendapatan Bakrie Telecom,” kata Anindya Bakrie.

Saat ini, Bakrie Telecom masih mengandalkan layanan suara dan SMS melalui produk Esia. Total pelanggan Esia hingga saat ini hampir 11 juta. “Kontribusi data termasuk value added service (VAS) terhadap pendapatan perseroan baru sebesar 10%,” kata Erik Meijer.

Investasi melalui Bconnect diharapkan dapat memaksimalkan layanan data yang memiliki potensi pasar yang menggiurkan. BConnect akan mengandalkan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) generasi ketiga, yakni Evolution Data Optimize (EVDO) Revolution A.

“Pemain data di Indonesia cukup banyak, tetapi penetrasi internet masih kecil. Faktanya, pelanggan layanan internet baru sekitar 8,5 juta dan baru 35 juta pengakses internet atau 15% dari populasi di Indonesia,” kata Erik.

Namun, dia memperkirakan jumlah pengakses internet pada 2014 akan meningkat mencapai 230 juta pengguna atau mencapai 90% dari populasi. BConnect mencoba mengambil peluang dari potensi pasar untuk data dengan meluncurkan layanan AHA yang memanfaatkan teknologi CDMA Rev-A.

“Berbeda dengan pemain lain yang memulai layanannya di Jakarta, kami akan meluncurkan layanan AHA perdana di Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, disusul Bogor dan kota-kota lain secara bertahap,” jelas Erik. Bconnect menargetkan layanan internet AHA dapat menjangkau lebih dari 10 kota di Indonesia hingga akhir 2010.

Penetrasi AHA diharapkan dapat menggenapkan jumlah pelanggan Esia menjadi 14 juta pada akhir 2010. Pada kuartal I 2010, Bakrie Telecom mampu menggaet sekitar 500 ribu pelanggan baru sehingga totalnya sekarang mencapai 11 juta pelanggan.

Bakrie Telecom menginvestasikan dana sebesar US$100 juta untuk mengoperasikan BConnect. Dana tersebut berasal dari anggaran belanja modal perseroan tahun ini sebesar US$200 juta.

Beberapa waktu lalu, Bakrie Telecom telah mendapatkan kucuran dana sebesar US$250 juta dari investor internasional melalui global bond. Dana ini akan dimanfaatkan untuk refinancing maupun pengembangan usaha di layanan data broadband.

Wakil Presdir Bakrie Telecom Muhammad Buldansyah memaparkan investasi BConncect dicurahkan untuk menambah modul teknologi Rev-A pada base transceiver station (BTS) sebesar US$30 juta, untuk membangun backhaul sebesar US$30 juta, serta sisanya digunakan untuk membangun backbone dan sistem Internet Protocol (IP).

“Begitu kami menambah kanal untuk BConnect, kami mulai fokus menggarap layanan data karenan peluangnya sangat bagus,” kata Buldansyah.

Dalam menawarkan layanan AHA yang dikemas dengan modem Huawei, BConnect menggandeng Google yang menyajikan aplikasi browser Chrome terbaru. Aplikasi ini diklaim memiliki akses tercepat dan antarmuka yang intuitif dengan fitur Ekstensi.

"Kami sangat bersemangat untuk bekerjasama dengan Bakrie Connectivity menghasilkan suatu model distribusi yang unik dan inovatif sehingga masyarakat dapat menjangkau web browser Google Chrome dengan mudah,” sambut Emmanuel Sauquet, Direktur Pengembangan Google Asia Pasifik.

Sudah Lapor Kemenkominfo

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewa Broto mengatakan, pihak Bakrie Telecom telah melaporkan rencana pendirian anak usaha baru itu, termasuk pengalihan frekuensi yang sedianya (lisensinya) diberikan kepada Bakrie Telecom ke anak usahanya, BConnect.

"Mereka (Bakrie Telecom) juga sudah menginformasikan kepada Kemenkominfo terkait peluncuran layanan BConnect," kata Gatot, Kamis (24/6).

Dia mengatakan, penggunaan frekuensi tersebut masih dalam koridor layanan Bakrie Telecom, meski frekuensi itu dialihkan ke anak usahanya, BConnect. Anak usaha itu hanya pengembangan unit usaha. “Pemerintah hanya akan mengkaji izin penggunaan frekuensi dan jaringan apabila perusahaan tersebut dijual atau bergabung dengan perusahaan telekomunikasi lain,” kata Gatot.

Manajemen Bakrie Telecom menjelaskan, layanan ini masih baru dan BConnect masih menggunakan satu kanal sebesar 1,25 MHz untuk layanan data. Sedangkan, dua sampai tiga kanal lainnya masih digunakan untuk layanan suara, Esia.

Kanal yang dimiliki BConnect per BTS mampu melayani 50-60 pengguna data dengan akses downlink sekitar 500-600 Kbps per pengguna. Teknologi EVDO Rev-A secara umum mampu memberikan akses data berkecepatan unduh maksimum 3,1 Mbps. Saat demonstrasi, layanan data AHA yang menggunakan modem Huawei VME-110 mampu mengakses data dengan kecepatan hingga 2,6 Mbps.

AHA merupakan layanan akses internet berkecepatan tinggi berbasis jaringan CDMA menggunakan teknologi EVDO Rev-A. Kecepatan yang diperoleh dengan teknologi ini setara dengan akses internet 3,7G pada operator seluler GSM.

Lanjut ah...

Kamis, 24 Juni 2010

Bakrie Telecom Pisahkan Bisnis Broadband

PT BAKRIE Telecom Tbk meresmikan kehadiran anak usaha baru yang akan fokus memasarkan layanan internet nirkabel berkecepatan tinggi berbasis CDMA teknologi EVDO. Anak perusahaan itu adalah PT Bakrie Connectivity dan direktur utamanya adalah Erik Meijer.

”Kehadiran Bakrie Connectivity akan menjawab sekaligus memenuhi keinginan para pengguna internet broadband di Indonesia. Hal ini disebabkan karena potensi internet broadband sangat luar biasa di Indonesia,” kata Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk Anindya N Bakrie di Jakarta, Rabu (23/6).

Anindya menjelaskan, data International Telecommunication Union (ITU) menunjukkan, pada 2009 ada 30 juta pengguna internet di Indonesia atau penetrasinya baru mencapai 12,5%. Sedangkan data sebuah lembaga konsultan dan riset bisnis internasional menyatakan akan ada 234 juta pelanggan selular di Indonesia atau 90% dari populasi penduduk pada 2014. Dari jumlah tersebut 20% diproyeksikan menjadi pelanggan 3G dan kontribusi pendapatan mobile data akan tumbuh 40%.

Demikian pula pertumbuhan distribusi komputer tumbuh antara 25-30% setiap tahun. Data IDC memperlihatkan, pada 2009, distibusi komputer ada 2,5 juta dan diperkirakan naik menjadi 3,5 juta pada tahun ini. Pertumbuhan distribusi komputer itu turut mendukung perkembangan penggunaan internet di Indonesia.

“Kami yakin kehadiran anak usaha baru (Bakrie Connectivity) ini dapat menjawab keinginan pengguna internet broadband untuk tetap up to date dan exist di media-media pertemanan sosial, seperti Facebook, Twitter, Myspace dan lainnya,” kata Anindya.

Bakrie Connectivity ada untuk masyarakat yang bermobilitas tinggi, di mana kebutuhan untuk dapat mengakses internet broadband menjadi gaya hidup masyarakat saat ini. Bakrie Connectivity tidak hanya akan mendorong tumbuhnya akses internet, tapi juga menciptakan positive consumer experience.

Anindya menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan layanan akses internet terjangkau, mudah, serta keinginan untuk berkontribusi pada kemajuan telekomunikasi nasional. ”Kami berupaya untuk menjauhkan kesan rumit ketika pengguna mulai mengakses internet. Mulai dari koneksi pertama hingga surfing ke berbagai website akan kami permudah. Tinggal pasang alatnya”, kata Anindya.

Investasi US$ 100 Juta

Sementara itu, Direktur Utama PT Bakrie Connectivity Erik Meijer mengatakan, untuk mengembangkan Bakrie Connectivity, PT Bakrie Telecom Tbk merencanakan investasi senilai US$ 100 juta pada tahun ini. Nilai investasi ini diperhitungkan sebagai upaya membesarkan penetrasi pasar dalam bisnis layanan data yang baru berkisar 10%.

Dia mengakui, penetrasi tersebut terbilang kecil di tengah pertumbuhan teknologi digital yang pesat di seluruh dunia. Sebagai perbandingan, di Amerika dan Eropa penetrasi pasar bisnis serupa sudah lebih dari 40%.

”Itu sebabnya terbuka peluang bagi Bakrie Connectivity untuk memperbesar raihan penetrasi pasar (market share) di dalam negeri. Apa dan bagaimana strategi produk, pemasaran dan jenis layanannya akan disampaikan dalam peluncuran produk Bakrie Connectivity yang akan kami gelar dalam satu dua hari ke depan,” kata Erik.

Disamping itu Bakrie Connectivity juga berhasil menggandeng sebuah perusahaan berkelas internasional. Kerja sama ini akan memberikan pengalaman baru untuk para pengguna internet di Indonesia. Sayangnya Erik masih enggan menjelaskan siapa mitra internasionalnya tersebut.

”Tunggu 1 hari lagi ketika kami perkenalkan produk baru Bakrie Connectivity. Yang pasti pelanggan akan mengalami sensasi yang jauh berbeda dibanding pengalaman berinternet selama ini. Ini ciri khas Bakrie Connectivity dan akan kami pertahankan sebagai nilai lebih kepada pelanggan,” ujar dia.

Erik menekankan, kehadiran Bakrie Connectivity akan semakin memperkuat komitmen Bakrie Telecom dalam membuka akses telekomunikasi yang handal dan terjangkau. ”Keyakinan kami tetap tak berubah bahwa komunikasi adalah hak dasar setiap manusia Indonesia. Tugas kami memfasilitasinya dan untuk itulah kami hadir,” tegasnya.


Lanjut ah...

Pengguna Internet RI 45 Juta

PENGGUNA internet di Indonesia tahun ini diperkirakan telah mencapai 45 juta, padahal 10 tahun lalu jumlahnya baru mencapai lima juta. Namun penggunaan internet di Indonesia dinilai kurang produktif dan tidak tepat sasaran, karena sebagian besar memanfaatkannya untuk maingames online dan akses jejaring sosial.

Demikian rangkuman pendapat dari Wakil Presiden Pasar Regional Iklan Yahoo! di Asia Pasifik Ken Mandel, Wakil Ketua Bidang TIK Dewan Riset Nasional Kemenristek Agus Haryanto, danGeneral Manager Product Development First Media Dedy Handoko dalam kesempatan terpisah di Jakarta, belum lama ini.

Ken Mandel mengatakan, berdasarkan survei Net Index Study yang diselenggarakan oleh Yahoo, saat ini di Indonesia ada 48% pengguna internet aktif. Jumlah itu naik 26% dibandingkan pada 2009. Kenaikan itu didukung dengan tren pengguna internet melalui ponsel atau internetmobile, serta untuk kegiatan akses media online.

"Tarif dan ekspansi 3G di Indonesia rupanya memainkan peran penting dalam pertumbuhan internet. Pengguna jaringan sosial juga mencapai hingga 77%, naik sekitar 19% dari tahun lalu," kata dia.

Hasil studi tersebut juga menyoroti tiga perubahan utama pada tahun ini. Pertama, pengguna di daerah kini lebih banyak mengkonsumsi media online untuk mencari tahu informasi terbaru. Kedua, meningkatnya pengguna dalam keterlibatan di media sosial internet, baik dari segi kontribusi maupun dalam mendistribusikan informasi di internet. Terakhir, meningkatnya konsumsi para pengguna pada konten berisi hiburan, gosip dan game.

Sementara itu, Agus Haryanto menyayangkan, jika internet hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan personal, tidak untuk menunjang produktivitas. Akibatnya, budaya konsumtif justru berkembang subur. "Saya tidak mengatakan bahwa social media dan games online 100% tidak baik, namun hendaknya dapat diimbangi dengan kegiatan lain yang bisa mendukung kegiatan produktif," kata Agus.

Menurut dia, penyediaan akses broadband sebenarnya bertujuan untuk mendukung produktivitas. Untuk itu, vendor ponsel sebaiknya menyediakan handshet yang sudah ditanamkan aplikasi untuk menunjang kegiatan produktif seperti pendidikan.

"Pelajar paling banyak menggunakan internet melalui ponsel tetapi masih untuk sekedar Facebook, dan chating. Mereka mungkin bosan dengan pelajaran di sekolah sehingga memilih untuk lebih banyak menggunakan dua kegiatan tersebut. Sayangnya, keduanya berpotensi menjadi candu, sehingga mereka tidak sempat lagi berupaya mencoba aspek-aspek positif dari internet," ujarnya.

Di sisi lain, tren masyarakat untuk mengakses internet untuk kebutuhan personal, seperti situs jejaring sosial atau hiburan, seperti Youtube, sebenarnya bisa menjadi pasar potensial bagi operator atau industri kreatif untuk mengembangkan aplikasi buatan dalam negeri sehingga lebih produktif dan lebih menguntungkan ekonomi Indonesia.

Dedy Handoko mengatakan, penggunaan internet di Tanah Air masih digunakan untuk social media, audio/video streaming , online games, dan file sharing. Hal ini sejalan dengan rating 10 peringkat website di Indonesia, tidak ada yang tergolong situs pengetahuan dan pendidikan.

"Pengguna Facebook di Indonesia tumbuh sangat signifikan, Maret 2009 baru sekitar 2,3 juta tetapi Maret 2010 sudah capai 20 juta," ucap dia.

Menurut Dedy, pengguna internet di Indonesia yang saat ini berjumlah 45 juta, seharusnya bisa tumbuh lebih cepat lagi jika pengguna m bisa mengakses lebih cepat dengan biaya yang tetap terjangkau.

"Menurut kami broadband yang the real true broadband itu paling minim 1 Mbps. Itu sudah standardisasi internasional di era konten internet berbasis video saat ini," kata Dedy.

Dia juga menambahkan, First Media melalui program FatsNet Kid telah memblokir hampir sejuta alamat situs internet yang dinilai tak layak dikonsumsi anak-anak. Menurut riset First Media, sejauh ini ada lebih dari 50% anak punya ketertarikan untuk mengkonsumsi konten yang sarat pornografi di Internet.

Namun sayangnya, hanya 25% anak yang melapor ke orang tuanya terkait pelecehan seksual di dunia maya tersebut.

"Itu sebabnya kami membatasi akses internet dengan menyaring dan memblokir situs-situs yang tidak perlu lewat program ini," kata dia.

Lanjut ah...

Tarif Internet Masih Mahal

COUNTRY Manager Dell Indonesia Pieter Lydian mengatakan, tarif internet yang masih tergolong mahal masih menjadi hambatan akselerasi penetrasi komputer di Tanah Air.

Di Tiongkok, dengan membayar US$20-30 (sekitar Rp190-285 ribu), pelanggan bisa menggunakan internet dengan kecepatan 2 megabit per detik (Mbps). Adapun di Indonesia dengan harga yang sama, pelanggan hanya dapat mengakses internet berkecepatan 384-512 kilobit per detik (Kbps).

Tidak hanya mahal, jaringan internet yang kualitasnya memadai pun baru bisa dirasakan oleh kota-kota yang tergolong sebagai tier I (Jabodetabek) dan tier II (Semarang, Solo, dan Yogyakarta). Di kota-kota lainnya, kualitas internet boleh dikata masih jauh dari baik.

"Padahal kalau internet bisa dibuat lebih murah dan mampu menjangkau hingga kecamatan-kecamatan di luar Pulau Jawa, penetrasi komputer pasti bisa jauh lebih tinggi," terangnya.

Sementara itu, Dedy Handoko berpendapat, kecepatan akses internet di Indonesia makin tinggi dan tarifnya juga kian terjangkau. "Jika kualitas dan harganya bisa terus lebih baik, maka jurang pemisah antara internet di Indonesia dan internet negara tetangga, seperti Singapura akan semakin dekat," ujar dia.

Dia mengklaim, tarif internet yang ditawarkan perusahaannya sudah cukup murah dibanding penyelenggara jasa internet lainnya di Indonesia. Untuk akses hingga 1,5 Mbps melalui jaringanhybrid fiber optic yang ditawarkannya ke pelanggan, misalnya, tarif yang dikenakan First Media hanya Rp 333 ribu.

"Kalau kita lihat dari sisi kualitas kecepatan akses dan serta tarif yang kami tawarkan, saya rasa kita sudah cukup dekat dengan Singapura," kata Dedy.

Dia membandingkan dengan tarif yang ditawarkan Starhub dari Singapura yang menawarkan akses mulai dari 3 Mbps dengan tarif Sin$ 27 atau hampir Rp 200 ribu. "Bedanya kini tak jauh-jauh amat dengan kita. Kalau tren peningkatan bandwidth dengan harga terjangkau bisa terus diperbaiki, saya rasa satu-dua tahun lagi kami bisa kejar mereka," papar Dedy.



Lanjut ah...

Rabu, 23 Juni 2010

2011, Malaysia Gelar Tender LTE

TELKOMSEL telah menguji coba teknologi telekomunikasi seluler GSM generasi keempat (4G) atau Long Term Evolution (LTE) secara indoor. Pada bulan ini juga operator terbesar di Indonesia itu menguji coba secara outdoor teknologi yang diklaim mampu mengantarkan data berkecepatan hingga 172 Mbps itu, yakni di Garut, Jawa Barat.

Vice President Technology Masterplan Telkomsel Siswanto Dasijo menjelaskan, penerapan teknologi LTE saat ini bagi konsumen di Indonesia belum terlalu mendesak. Hingga saat ini, Telkomsel yakin bahwa lalu lintas data (mobile broadband) masih bisa dibawa oleh teknologi dual carrier high speed packet access plus (DC-HSPA+), yang mampu mengantarkan data berkecepatan hingga 42 megabit per detik (Mbps).

“Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun yang akan datang, teknologi LTE dibutuhkan, bila teknologi HSPA+ tidak mampu lagi membawa data trafik secara efisien dan cost effective,” kata Siswanto di Jakarta, Senin (21/6).

Siswanto mengatakan, hingga saat ini baru ada enam operator telekomunikasi di dunia yang telah mengimplementasikan LTE secara komersial. Yakni, Telia Sonera, AT&T (Amerika Serikat/AS), Verizon (AS), KDDI Corp (Jepang), NTT DoCoMo (Jepang), CSL (Hong Kong), dan Telenor (Spanyol). Mereka meluncurkan layanan LTE ini secara komersial pada tahun ini.

“Saya dengar, tahun depan Malaysia menggelar tender lisensi LTE pada frekuensi 2600 MHz sehingga pada tahun berikutnya layanan LTE sudah komersial di Malaysia,” kata Siswanto.

Di luar negeri, lanjut dia, frekuensi yang digunakan untuk LTE bervariasi, yakni 700, 1800, 2100, dan 2600 MHz. Di Indonesia, frekuensi-frekuensi tersebut sudah digunakan oleh operator seluler dan penyiaran sehingga saat ini tidak ada alokasi frekuensi yang kosong atau tersedia untuk LTE. Beberapa waktu lalu, Ditjen Postel Kemenkominfo berniat menggusur Indovision dari frekuensi 2500 MHz untuk diplot bagi LTE.

Siswanto menjelaskan, LTE adalah teknologi radio yang dapat memberikan data rate lebih dari 100 Mbps dengan bandwidth 20 MHz dan Multiple Input Multiple Output (MIMO) 2x2. Throughput maksimum yang dapat dihasilkan mencapai 172 Mbps. “Pada uji coba ini, Telkomsel menggunakan bandwidth 10 Mhz sehingga throughput yang dihasilkan sekitar 70 Mbps,” kata dia.

Teknologi HSDPA dan HSPA+ sejatinya masih berbasis 3G yang masih terus berevolusi ke Dual Carrier HSPA+ yang mampu mengantarkan data berkecepatan 42 Mbps, kemudian ke Multi Carrier (84Mbps), dan Multi Carrier dengan didukung antena Multiple Input Multiple Output (MIMO) 2x2 (168 Mbps). Sedangkan LTE adalah teknologi 4G yang menjanjikan kecepatan 172 Mbps. Teknologi ini akan berevolusi ke LTE Advance yang menawarkan kecepatan hingga 300 Mbps, 600 Mbps atau bahkan 1 Gbps dengan teknologi Multi Carrier dan MIMO 4x4.

Handset LTE 2013

Siswanto mengatakan, bila LTE jadi digelar, Telkomsel akan memprioritaskan layanan LTE ini untuk daerah-daerah bisnis yang membutuhkan akses mobile broadband sangat tinggi, seperti di Central Business District (CBD). Sedangkan layanan HSPA+ yang 42 Mbps akan digelar di kota-kota besar sehingga memungkinkan seamless mobility antara LTE dan HSPA+ yang 42 Mbps.

Hingga saat ini, kata Siswanto, belum ada handset yang support LTE dan masih sedikit USB dongle yang tersedia di pasaran untuk mengakses layanan LTE. Perangkat penerima yang kini tersedia itu antara lain produksi LG dan Samsung, namun harganya masih amat mahal, yakni masih di atas 2.000 euro atau sekitar Rp 30 juta.

“Namun, LTE high end akan tersedia pada akhir 2010, sedangkan handset yang low end (dengan harga di bawah US$ 100) akan mulai tersedia pada 2013,” kata dia.

Telkomsel Memandu Teknologi Seluler di Indonesia

Tahun

2002

2004

2006

2007

2009

2010

???

Teknologi

GPRS

EDGE

3G/UMTS

HSDPA

HSPA+

DC-HSPA+

LTE

Data Rate

64Kbps

256Kbps

384Kbps

3,6Mbps

21Mbps

42Mbps

150Mbps

Cakupan Layanan

Seluruh Indonesia

Seluruh kabupaten

150 kota

150 kota

24 kota

24 kota

???

Sumber : Telkomsel

Lanjut ah...