Selasa, 23 Maret 2010

Inti dan Icon+ Protes ke Kemenkominfo

PEMERINTAH telah mengumumkan para pemenang tender Internet Kecamatan. Namun, dua peserta yang tidak menang, PT Inti dan PT Icon+, protes dan menyatakan negara bisa rugi Rp 117 miliar.

PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) adalah BUMN, sedangkan PT Indonesia Comnets Plus (Icon+) adalah anak usaha PT PLN (Persero). Dengan demikian keduanya adalah perusahaan negara. Keduanya membentuk konsorsium dalam tender pembangunan akses internet di 5.748 kecamatan di Indonesia itu.

Namun konsorsium ini gagal memenangi tender proyek bernilai Rp 370,57 miliar itu. Salah satu alasannya adalah karena PT Icon+ dianggap 'kurang berhasil' dalam menggarap proyek pemerintah (Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kemenkominfo) sebelumnya. Yakni, PT Inco salah satu pemenang tender pembangunan telepon perdesaan dalam rangka Universal Service Obligation (USO).

Direktur Utama Icon+ Mulyo Adjie mengatakan, Kemenkominfo dianggap melakukan penilaian di luar ketentuan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) peserta tender. Kemenkominfo menilai performansi Icon+ pada proyek pengerjaan lainnya yang tidak memenuhi syarat.

“Sayangnya poin penilaian tersebut secara legal aspect tidak disebutkan dalam RKS. Jadi, kami menduga pemerintah melakukan post-bidding,” kata Mulyo Adjie, Minggu (21/3).

Protes peserta tender memang dimungkinkan selama dalam masa sanggah yang disediakan pemerintah. Surat sanggahan dari PT Inti dan PT Icon+ itu telah dikirimkan ke Kemenkominfo.

Intinya, surat sanggahan itu menyebutkan keputusan pemenang lelang dianggap menyimpang dari ketentuan yang diatur dalam dokumen pemilihan, mengabaikan kaidah-kaidah pengadaan barang dan jasa pemerintah sesuai Keputusan Presiden (Keppres) nomor 80 tahun 2003. Bahkan, putusan Panitia Lelang Kemenkominfo mengarah pada tindakan diskriminatif sehingga berpotensi merugikan keuangan negara. Konsorsium meminta pemerintah membatalkan pemenang tender Internet Kecamatan.

Mulyo menyayangkan sikap pemerintah yang menyamakan konsorsium PT Inti dan PT Icon+ dengan PT Icon+ sebagai perusahaan yang berdiri sendiri. “Secara legal formal, prosedurnya jelas berbeda,” kata dia.

Dalam proyek universal service obligation (USO) desa pinter yang dikenal dengan Internet Kecamatan ini, konsorsium Icon+ dan PT Inti mengajukan enam paket pengerjaan, antara lain paket 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Bahkan, menurut Direktur Utama PT Inti Irfan Setiaputra, konsorsium PT Inti dan PT Icon+ memeroleh nilai bobot total paling tinggi dibanding peserta tender yang lain.

Irfan menyayangkan, Kemenkominfo telah menggelar tender secara transparan dan bersikap terbuka terhadap peserta. Namun, pemerintah akhirnya dinilai tidak fair dalam menentukan pemenang tender.

“Kami mencatat selisih atau potensi kerugian negara sebesar Rp 116,99 miliar pada paket 1-6,” kata Irfan. Nilai potensi kerugian ini disertakan dalam surat sanggahan Konsorsium Icon+ dan PT Inti. Masa sanggah yang diberikan pemerintah kepada peserta tender akan berakhir hari ini

Mulyo juga menyebut tentang potensi kerugian negara akibat mengalahkan konsorsium PT Inti dan PT Icon+. “Ada potensi kerugian negara ketika pemerintah menyerahkan tender paket 1-6 kepada perusahaan lain yang memiliki nilai teknis di bawah kami,” jelas Mulyo.

Seperti diketahui Kemenkominfo telah mengumumkan empat perusahaan pemenang tender Internet Kecamatan. Yakni, PT Telkom, PT Jastrindo Dinamika, PT Sarana Insan Muda Selaras, serta PT Aplikanusa Lintas Arta sebagai pemenang tender Internet Kecamatan

Telkom akan mengerjakan paket 1 (Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara), paket 10 (Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah), dan paket 11 (Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara). Kemitraan Jastrindo Dinamika mendapat porsi paket 2 (Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Riau), paket 3 (Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau), dan paket 6 yang menaungi Jawa Timur.

Lintas Arta yang merupakan anak perusahaan PT Indosat terpilih sebagai pelaksana pekerjaan paket 7 (Bali, Nusa tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur), paket 8 (Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur), serta paket 9 (Maluku, Maluku Utara, Irian Jaya Barat, dan Papua).

Sedangkan, paket 4 (Jawa barat dan Banten) dan paket 5 (Jawa Tengah dan DI Yogyakarta) menjadi wilayah pekerjaan Sarana Insan Muda Selaras.


Lanjut ah...

IM2 Inside Bisa Telepon dan SMS

INDOSAT bersama anak usahanya, PT Indosat Mega Media (IM2), meluncurkan IM2 Inside. Ini inovasi layanan data yang memungkinkan pelanggan kartu prabayar Mentari dan IM3 menggunakan layanan data internet broadband unlimited IM2. Inovasi ini dikembangkan sehingga memungkinkan untuk panggilan telepon dan SMS melalui internet.

”Kini, pelanggan kartu prabayar Mentari dan IM3 bisa menikmati layanan data internet tanpa batas dari IM2 dan menggunakan fungsi panggilan telepon dan SMS secara bersamaan,” ujar General Manager Marketing & Channel Management IM2 Rahmat Halomoan Rambe di Jakarta, akhir pekan lalu.

Penggabungan fungsi internet, panggilan telepon dan SMS pada IM2 Inside semakin meningkatkan aksesibilitas bagi pelanggan Mentari dan IM3. ”Peningkatan layanan yang kami lakukan juga karena banyaknya masukan serta ide dari pelanggan dan masyarakat soal IM2 Inside ini,” kata Rahmat.



Lanjut ah...

Telkomsel Bantu Korban Banjir Karawang

TELKOMSEL mendirikan Posko Peduli Banjir dan memberikan bantuan berupa telepon gratis serta 1.000 nasi bungkus bagi korban bencana banjir di Karawang dan sekitarnya. Telkomsel juga telah mengamankan jaringan infrastrukturnya dari banjir yang berlangsung sejak Minggu (21/03) dan telah menenggelamkan sekitar 6.000 rumah di tujuh kecamatan.

Manager Branch Telkomsel Karawang Maryanto mengatakan, pihaknya telah mengambil langkah pengamanan maupun antisipasi terhadap infrastruktur jaringan telekomunikasi di Karawang sejak awal terjadi bencana, termasuk memobilisasi genset. “Dari 805 BTS dan 224 Node B (BTS 3G) yang melayani Karawang, Purwakarta, dan sekitarnya semua berada dalam kondisi normal tanpa gangguan sehingga para relawan, pekerja LSM, tim Rescue maupun masyarakat tetap dapat berkomunikasi dengan nyaman,” kata dia di Karawang, Senin (22/3).

Tim Telkomsel belajar dari pengalaman penanganan akibat bencana dan percepatan pemulihan pelayanan sebagaimana bencana yang kerap terjadi di Tanah Air. Dengan pengalaman itu, semua elemen di Telkomsel memiliki expertise untuk melakukan tindakan pemulihan serta aksi kepedulian.



Lanjut ah...

Telkom Sumbang 85 PC untuk Pendidikan

PT TELEKOMUNIKASI Indonesia Tbk (Telkom) menyumbang sedikitnya 85 komputer dan dana masing-masing sebesar Rp 125 juta untuk membantu pengembangan program pendidikan dan kesehatan di wilayah Bekasi. Bantuan ini diserahkan Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah kepada Kepala Dinkes dan Kepala Diknas Bekasi dalam rangkaian kunjungan kerja Wakil Presiden Boediono ke Bekasi yang didampingi beberapa anggota Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia menjelaskan, terkait program pendidikan, bantuan yang diberikan Telkom meliputi 50 komputer (PC) yang akan didistribusikan ke beberapa sekolah (SMA, SMKN) di sekitar Bekasi. Komputer ini dalam rangka menunjang laboratorium ICT (Information and Communication Technology) sekolah. Selain komputer, bantuan yang termasuk dalam program CSR Internet Goes to School (IG2S) Telkom ini juga mencakup aplikasi sistem informasi administrasi pendidikan serta pembebasan biaya akses internet cepat Speedy selama tiga bulan.

Sedangkan untuk program kesehatan, Telkom menyerahkan bantuan 35 PC berikut aplikasi kesehatan serta pembebasan dari biaya akses Speedy selama tiga bulan kepada Dinas Kesehatan Bekasi. Di Bekasi terdapat 31 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). “Ini merupakan kepedulian Telkom untuk mewujudkan program e-Health nasional,” kata Eddy Kurnia di Jakarta, akhir pekan lalu.



Lanjut ah...

Mig33 Optimistis Jaring Pelanggan di Indonesia

PENYEDIA konten perangkat bergerak Mig33 optimis menjadikan layanan hiburan sosial (social entertainment) sebagai bisnis yang menguntungkan di tahun 2010. Indonesia menjadi salah satu negara berkembang yang memiliki potensi terbesar untuk meningkatkan pendapatan Mig33.

“Mig33 memiliki lebih dari 40 juta pengguna di seluruh dunia, dan hampir separuhnya berada di Indonesia,” ungkap Doug Bewsher, Chief Marketing Officer Mig33 kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (18/3). Budaya masyarakat yang gemar bersosialisasi dan berinteraksi di ranah maya menjadi alasan utama pertumbuhan pengguna Mig33 yang cukup pesat.

Saat ini, populasi Mig33 di Indonesia mencapai 15 juta pengguna dengan 4 juta pengguna aktif. Pengguna aktif tersebut menjadi tumpuan Mig33 untuk mendongkrak pendapatan.

Bewsher mengatakan layanan konten mobile merupakan bisnis yang menggiurkan di negara-negara berkembang. Perusahaan yang berdiri tahun 2005 ini mencatat bahwa penggunanya kini mengirim lebih dari 1 juta hadiah virtual setiap bulan dan mengirimkan sekitar 100 juta pesan setiap hari, atau 1 ribu pesa setiap detiknya.

“Indonesia dan Tiongkok menjadi pasar terbesar untuk industri mobile,” jelas Bewsher. Mig33 saat ini tengah gencar mendongkrak popularitas komunitas mobile chat menjadi sebuah layanan social entertainment yang masif, sekaligus menancapkan pondasi untuk menjaring pendapatan dari dunia virtual.

Model bisnis Mig33 mengadopsi layanan bergerak Tencent QQ (QQ) dari Tiongkok yang sukses menggaet 500 juta pengguna hanya di satu negara, melebihi pengguna Facebook yang memiliki 320 juta pengguna di seluruh dunia. 8% dari pengguna QQ membelanjakan sekitar US$2 per bulan.

QQ yang hanya populer di Tiongkok kini melesat menjadi perusahaan terbuka dengan nilai bisnis US$38 miliar. “Pendapatan miliaran dolar perusahaan tersebut hanya mengandalkan penjualan fitur avatar di satu negara. Sedangkan kami memiliki pengguna di negara-negara berkembang seperti Indonesia, India, Afrika Selatan, dan Bangladesh,” terang Bewsher.

Untuk itu, Mig33 meluncurkan fitur avatar yang memungkinkan pengguna menampilkan profilnya dengan karakter yang variatif. Layanan yang bernilai ekonomi seperti hadiah virtual dan mobile games juga digarap oleh Mig33. Untuk mempermudah transaksi virtual, Mig33 menyediakan layanan pembayaran untuk pengguna melalui merchant resmi Okeshop.

Perusahaan yang berdomisili di San Fransisco, Amerika Serikat, ini juga terus berupaya menjadikan layanan Mig33 semakin massal. “Kami akan terus melakukan penetrasi melalui operator telekomunikasi, pabrikan ponsel, dan menggandeng mitra,” kata Kiki Rizki, Country Manager Mig33 Indonesia.

Saat ini, Mig33 telah menjalin kerja sama dengan dua operator besar, yaitu Telkomsel dan Indosat (IM3). “Pelanggan IM3 yang menjadi pengguna Mig33 mencapai 1,6 juta users,” ungkap Bewsher.

Dia juga mengungkapkan aplikasi Mig33 yang mulanya berjalan di atas platform Java akan segera hadir pada sistem operasi terbaru Android dan juga ponsel-ponsel Tiongkok. Saat ini, aplikasi Mig33 dapat berjalan di lebih dari 2 ribu ponsel. “Kami juga tetap gencar menjalin kerja sama dengan partner untuk meningkatkan pertumbuhan pengguna,” tambah Kiki.

Mig33 merupakan komunitas mobile yang menyediakan layanan komunikasi interaktif seperti chat, SMS, telpon VoIP, avatar, games, dan hadiah virtual. Mig33 telah digunakan di lebih dari 200 negara.

Lanjut ah...

Flexi Siap Hadirkan EVDO

FLEXI Indonesia, anak usaha PT Telkom Tbk serius membangun jaringan infrastruktur untuk layanan data di Jawa Timur. Perusahaan ini juga siap menghadirkan teknologi EVDO , jika mendapatkan tambahan satu kanal. Dengan begitu, Flexi akan mengikuti jejak operator berbasis CDMA lainnya seperti Fren dan Smart yang kini bergabung menjadi SmartFren dalam penggunaan teknologi EVDO.

"Sangat mungkin Flexi area Timur (Jatim, Bali Nusra) yang mendapatkan tambahan satu kanal tersebut. Bulan April mendatang paling cepat ada satu tambahan kanal (carrier) dari tiga carrier yang ada saat ini bisa diaplikasikan,” kata GM Network Telkom Flexi area Jatim, Bali,Nusra, I Ketut Budi Utama di Surabaya, Kamis (18/3).

Ketut menyatakan, penggunaan tekhnologi EVDO akan meningkatkan kecepatan akses data Flexi. Meski demikian, untuk menerapkannnya diakuinya tidak mudah.

Hal ini tergambar dari evaluasi Flexi terhadap penerapan teknologi tersebut pada operator CDMA lainnya seperti Smart dan Fren menemukan kenyataan hasilnya belum maksimal.

Untuk itu, pihaknya sementara ini masih menggunakan teknologi 1X. Dari kecepatan data, kata Ketut, perbandingan antara 1X dibanding EVDO sangat jauh. Tekhnologi 1X memiliki kecepatan maksimal 153 kbps, sementara menggunakan EVDO bisa sampai 3 mbps.

Meski teknologi 1X tergolong tidak baru, sambung dia, namun masih sesuai dengan target utama Flexinet yaitu pengguna pemula. Saat ini, hampir 80% dari 5 juta user internet di Jatim Bali Nusra merupakan pelanggan pemula.

“Kami sekarang masih melakukan kajian terhadap teknologi EVDO. Kalau ada tambahan kanal, belum diputuskan apakah digunakan untuk voice, data atau EVDO,” ujarnya.

Ketika disinggung soal lonjakan trafik data di Jawa Timur, Ketut menjelaskan, pihaknya sudah melakukan langkah antispasi dengan memperlebar gateway international dan meningkatkan kapasitas data. Dari sisi network data, kata Ketut, Flexi telah mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas alat produksi. Saat ini tersedia 6000 IP pool yang memungkinkan 48 ribu pelanggan dapat mengakses data secara bersamaan.

Dalam waktu dekat IP pool akan segera ditingkatkan menjadi 18000 IP atau sekitar 144 ribu pelanggan. ”Saat ini kami sedang melakukan tes interoperasional untuk penambahan perangkat tersebut,” ujar Ketut.

Ketut menjelaskan, dalam bisnis layanan data, setidaknya ada empat critical point. Yang pertama adalah terminal, di mana alat yang digunakan oleh pelanggan sangat berpengaruh. Misalnya, antara processor Intel Core 2 Duo dan Intel Core Duo berbeda kecepatannya dalam memproses akses yang diinginkan pelanggan.

Kedua, sambung Ketut, adalah soal BTS. Saat ini total BTS Flexi di Jatim mencapai 1.300 buah. Dari angka itu, 500 di antaranya berada di Surabaya dan 200 unit di Malang. ”Memang di dua kota itu paling banyak, menyesuaikan dengan kondisi pasar dan permintaan Flexi di sana yang sangat besar,” tuturnya.

Critical point yang ketiga adalah soal kapasitas router. Ketut mengatakan, bandwidth menuju gateway internasional juga diperlebar menjadi 512 Mbps dari posisi saat ini sebesar 120 Mbps. ”Sebenarnya mudah saja untuk menambah lebih besar lagi, tapi kami mengiringi respons pasar saja. Saat ini pendudukan rata-rata saat peak hour mencapai 110 Mbps,” terang Ketut.


Pelanggan Flexinet Naik

GM Commerce Divisi Telkom Flexi Area Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara, Suparwiyanto optimistis 20 ribu modem Olive akan terserap pasar dalam waktu sebulan. Optimisme ini didukung kenaikan data pengguna mobile communication dalam beberapa bulan terakhir yang berdampak positif pada peningkatan pelanggan FlexiNet.

Sejak Oktober 2009, setelah peluncurkan FlexiNet unlimitted, pelanggan naik 200% dan trafik FlexiNet naik 4 kali lipat. “Kenaikan ini dipicu murahnya tarif paket FlexiNet unlimitted. Dan modem Olive dengan harga Rp 449 ribu, bisa jadi pilihan pelanggan akses murah dan cepat lewat PC atau laptop," ujar Suparwiyanto.

Olive adalah brand produk data dan merupakan produk middle up dari group Haier Mobile. Keunggulan Olive sudah support OS (operating system) seperti Windows XP all varians, Windows Vista, Mac, dan Linu. Selain itu, modem OLIVE juga plug and play - auto install, expandable memory up to 2 GB, juga message and phone book support. Karena sudah comply dengan jaringan data FlexiNet, OLIVE bisa digunakan langsung pada saat COMBO via SMS.


Lanjut ah...

Operator BWA Ingin Gelar Wimax Mobile

PARA pemenang tender broadband wireless access (BWA) masih menunggu kepastian pembersihan kanal pada frekuensi 2,3 GHz. Selain itu, para pemenang tender BWA juga mengharapkan bisa segera menggelar jaringan Wimax teknologi terkini agar bisa segera dijual kepada masyarakat.

Ketika tender BWA digelar dua tahun lalu, pemerintah berkeputusan untuk mulai mengembangkan industri telekomunikasi dalam negeri. Bukan hanya mengembangkan industri telekomunikasi, tapi juga industri pendukungnya, termasuk industri perangkat telekomunikasi. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan dana puluhan miliar rupiah untuk penelitian dan pengembangan teknologi Wimax lokal bersama perguruan tinggi dan dunia usaha swasta.

Keinginan itu dilandasi oleh kenyataan bahwa industri telekomunikasi nasional membelanjakan Rp 70-80 triliun per tahun untuk membeli perangkat telekomunikasi dari luar negeri. Sedangkan industri dalam negeri hanya kebagian sedikit dari total belanja industri telekomunikasi nasional yang mencapai Rp 90 triliun per tahun. Perkembangan industri telekomunikasi nasional indentik dengan kemakmuran bagi perusahaan asing yang menjadi penyedia perangkat telekomunikasi.

“Saat ini sudah ada dua perusahaan nasional yang berhasil memproduksi perangkat Wimax lokal standar 16d. Yakni, PT TRG dan Harriff,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto di Jakarta, pekan lalu. Karena PT Teknologi Research Group (TRG) dan PT Harriff Daya Tunggal Engineering adalah perusahaan lokal, otomatis keduanya juga telah memenuhi syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Sebelum tender BWA digelar, salah satu klausul yang menjadi syarat yang diajukan pemerintah kepada peserta tender adalah keharusan menggunakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) minimal 35% dan teknologi Wimax 16d. Peserta pun berbondong-bondong mendaftarkan diri mengikuti tender BWA, dan tentu saja menyetujui semua syarat yang diajukan pemerintah, termasuk syarat TKDN dan penggunaan Wimax standar 16d.

Berharap Gunakan 16e

Namun, ketika proses tender BWA pada frekuensi 2,3 GHz selesai dan para pemenangnya telah diumumkan. Beberapa pemenang lisensi BWA mengharapkan pemerintah mengizinkan penggunaan teknologi Wimax standar 16e. Salah satu alasan yang dikemukakan adalah teknologi Wimax kini telah berkembang dari 16d (nomadic) ke 16e (mobile), bahkan sudah mulai ke 16m.

Wimax standar 16d adalah teknologi Wimax nomadik yang memungkinkan pelanggannya hanya bisa mengakses internet dari satu tempat tertentu dan tidak bisa mobile (bergerak dari satu tempat ke tempat lain). Modem penerima akses internetnya pun sebesar piring. Sedangkan Wimax standar 16e memungkinkan pelanggannya mengakses internet secara mobile (bergerak) layaknya telepon seluler (ponsel), dengan modem sebesar flashdisk USB.

Seperti diketahui, ada 30 lisensi BWA pada frekuensi 2,3 GHz yang diberikan pemerintah kepada delapan perusahaan pada November 2009. Yakni, PT Berca Hardaya Perkasa memenangi 14 lisensi, PT Telkom (5), PT Konsorsium Wimax Indonesia (3), PT First Media (2), Konsorsium PT Comtronic System (3) , PT Indosat Mega Media (1), PT Internux (1), dan PT Jasnita Telekomundo (1).

Ketua Wimax Forum Chapter Indonesia Sylvia W Sumarlin mengharapkan, pemerintah memberikan dukungan kepada industri telekomunikasi nirkabel sepenuhnya. BWA adalah akses internet nirkabel, dan oleh karena itu harus diberikan kebebasan kepada pemilik lisensi BWA untuk menggelar teknologi nirkabel.

Puteri mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin itu bukan salah satu pemenang tender BWA. Dia disebut-sebut tengah menjalin kerja sama dengan Huawei, penyedia perangkat telekomunikasi asal Tiongkok, untuk memproduksi perangkat Wimax 16e. Ia menyayangkan keputusan pemerintah yang mengharuskan para pemenang lisensi BWA untuk menggelar jaringan Wimax berteknologi nomadik alias fixed atau yang umum dikenal dengan istilah 16d.

“Jika pemerintah bersikeras dengan standar 16d, industri Wimax kita akan terus ketinggalan. Karena tidak ada yang beli, di luar sana semua sudah memakai standar 16e," ujar Sylvia, pekan lalu.

Dengan mengizinkan pemegang lisensi BWA menggunakan perangkat Wimax standar 16e, Sylvia yakin, pemasarannya bisa lancar. Dia juga optimistis target 50 juta pengguna Wimax pada 2015 bisa terwujud. Dengan demikian, para penyedia konten lokal juga bisa bersiap menyediakan konten. “Konten lokal itu termasuk aplikasi, dan bukan hanya hardware atau software saja,” kata dia.

Permintaan yang Fair

Sementara itu, Presdir PT Jasnita Telekomindo Sammy Pangerapan bisa memahami sikap pemerintah yang ngotot menggunakan teknologi Wimax standar 16d. Yakni, alasan memenuhi prasyarat kandungan lokal. “Memenuhi kandungan lokal itu wajib. Itu permintaan yang fair, apalagi populasi Indonesia terbesar keempat di dunia,” ujar Sammy.

Namun demikian, lanjut dia, pemerintah tetap harus mempertimbangkan kemungkinan penggunaan teknologi lain, agar pemegang lisensi BWA tidak merugi dari sisi bisnis di kemudian hari. “Kalau hanya pakai Wimax 16d, itu namanya tidak ada future roadmap buat teknologi ini,” ujar dia.

Sammy juga mengkritisi tentang jatah kanal frekuensi bagi para pemenang tender BWA, yang sebesar 15 MHz. Dengan demikian, kanal ini akan dibagi empat dengan masing-masing kanal sebesar 3,5 MHz dan menyisakan 1MHz sebagai kanal mubazir. Bila kanal frekuensi dibagi menjadi 5MHz, itu akan lebih efisien.

“Teknologi Wimax jilid pertama, yaitu 16d, bisa tetap diaplikasikan. Namun harus ada penambahan kanal sebagai suatu alternatif solusi. Melalui solusi itu, jika ada perubahan teknologi, kami tidak perlu melakukan perubahan total dan menambah investasi,” kata dia.

Sementara itu, perwakilan Konsorsium Wimax Indonesia, Roy Raharja Yamin mengatakan, penggunaan teknologi 16d tidak pernah disebutkan dalam dokumen tender BWA. Meski demikian, dia tak mempersoalkan jika pemenang tender harus menggunakan teknologi standar 16d itu.

“Yang saya pahami di dalam dokumen teknologi yang digunakan itu nomadic atau fix. Tidak disebutkan secara pasti 16d atau 16e. Tetapi spesifikasi teknis yang nomadic atau fix itu memang seolah-olah mengarah ke 16d,” kata Roy.

Saat ini, dia mengakui, belum ada kesepahaman antara pemenang lisensi BWA dan pemerintah untuk membahas persoalan ini. “Semuanya masih wacana, saya kira perlu diagendakan pertemuan lagi untuk membahas persoalan ini,” usulnya.

Kemenkominfo Tetap 16d

Pada prinsipnya, pemerintah telah mengumumkan para pemenang tender BWA. Sebagian pemegang lisensi BWA juga telah melunasi kewajibannya berupa up front fee dan biaya hak penggunaan (BHP) dan ingin segera menggelar jaringan Wimax. Mengenai tuntutan para pemegang lisensi BWA agar pemegang lisensi BWA bisa menggelar jaringan Wimax standar 16e, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) belum mengizinkannya.

“Kami belum bisa memberikan izin penyelenggaraan layanan saat ini karena memang industri perangkat Wimax yang sudah memenuhi syarat dan tersedia sekarang adalah Wimax 16d,” jelas Gatot Dewa Broto.

Gatot menyebutkan, Wimax standar 16e bukannya belum bisa digunakan. Sejak dua tahun lalu, pemerintah telah menyiapkan industri perangkat Wimax dengan standar 16d. “Ini pilihan yang harus diambil. Tidak mungkin kami harus menyenangkan semua pihak,” tegasnya.

Dia menyebutkan, penggelaran WiMax sudah sesuai jadwal, setelah pemenang lisensi BWA mendapatkan ijin prinsip pada Oktober tahun lalu. Perusahaan yang menang tender BWA saat ini masih melakukan persiapan teknis untuk untuk tender perangkat, setelah itu menuju tahapan operasional. Yang terakhir, kata dia, para pemegang tender BWA masih harus mendapat izin penyelenggaraan.

“Kami mendapatkan informasi dua pemenang lisensi BWA sedang ‘ngebut’ mengejar target layanan komersial pada Juni tahun ini. Waktu transisi sebenarnya masih satu tahun, tapi mungkin karena tuntutan mereka ingin mempercepatnya,” kata Gatot. Ia tak menyebutkan siapa dua pemegang lisensi BWA yang ngebut itu.



Lanjut ah...