Senin, 22 Maret 2010

XL Serahkan 4 Perpustakaan Keliling

PT XL Axiata Tbk kembali memberikan donasi berupa empat unit Motor Perpustakaan Keliling bagi anak–anak usia sekolah di empat wilayah gempa Jawa Barat. Perpustakaan Keliling ini dilengkapi koleksi buku bacaan fiksi dan nonfiksi, alat permainan edukatif dan media pendidikan lain yang dikemas secara menarik.

“Dampak gempa Tasikmalaya yang terjadi tahun lalu ternyata masih dirasakan anak–anak sekolah di lokasi gempa. Saat ini mereka masih merasa kesulitan dalam mendapatkan buku–buku berkualitas untuk menunjang proses belajar mengajar mereka di sekolah,” ujar General Manager Network XL Central Region Robert Dedy Purwanto.

Melalui bantuan Motor Perpustakaan Keliling ini XL berharap dapat meningkatkan ketertarikan anak–anak untuk membaca demi menambah ilmu pengetahuan.



Lanjut ah...

Telkom Hanya Fasilitator Wartel

PT TELEKOMUNIKASI Indonesia Tbk (Telkom) bukan penjamin pembayaran hak airtime Wartel kepada penyelenggara wartel melainkan hanya sebagai fasilitator. Telkom hanya membantu menyiapkan data wartel dan data panggilan dari wartel ke operator seluler.

Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, sebagai fasilitator, Telkom juga melakukan proses splitting untuk mengetahui jumlah panggilan dari wartel ke tiap operator seluler. Dengan demikian, jumlah hak airtime yang semestinya dibayarkan oleh para operator seluler kepada para penyelenggara wartel bisa diketahui.

“Telkom sudah memberikan laporan hasil splitting tersebut kepada Dirjen Postel selaku Ketua BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia),” ujar Eddy Kurnia di Jakarta, Kamis (18/3).

Kesediaan Telkom menjadi fasilitator penyelesaian hak airtime Wartel itu semata-mata sebagai itikad baik untuk membantu penyelesaian masalah tersebut. Telkom mendorong regulator (BRTI dan Ditjen Postel) untuk menegaskan/menetapkan periodisasi kewajiban pembayaran airtime wartel berdasarkan ketentuan yang berlaku.


Lanjut ah...

Indosat Tawarkan SkyBee Bundling IM3

INDOSAT bekerja sama dengan SkyBee menghadirkan dua ponsel Chat-Mobile Lifestyle Phone dengan fitur berkualitas yang dapat memenuhi gaya hidup masyarakat dengan harga terjangkau. Ponsel SkyBee ini di-bundling dengan layanan kartu IM3 yang memberikan berbagai layanan menarik serta variasi bonus bagi para pengguna.

“Layanan yang bervariasi, inovatif dan terjangkau merupakan upaya kami untuk memberi manfaat lebih kepada pelanggan. Salah satunya adalah program bundling IM3 Indosat dan juga SkyBee,” kata Chief Sales Officer PT Indosat Syakieb A Sungkar di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pada peluncuran perdana ini, SkyBee memperkenalkan dua seri ponsel andalannya, yakni SkyBee 83 AT dan 80 SS. Ponsel seri 80SS dibanderol Rp 799 ribu (harga promo) menyasar pengguna dari kalangan Business Entertainment Phone, sedangkan seri 83AT seharga Rp 499.000 (harga promo) untuk pengguna yang menyukai Chat Entertainment Phone.

“Kami berharap kehadiran ponsel SkyBee ini makin memperkaya pilihan masyarakat akan kebutuhan ponsel mereka serta memberi nilai tambah dengan hadirnya paket bundling kartu IM3 dari Indosat,” kata Chief Commercial Officer Mobile Phones and Operator Products Division Sung Khiun.

Ponsel SkyBee ini tidak sekadar ponsel biasa, tetapi merupakan ponsel dengan perpaduan layanan fitur maksimal. Dengan ponsel SkyBee, pelanggan baru mendapatkan manfaat layanan komunikasi dari kartu perdana IM3 Indosat dengan paket khusus bundling, antara lain Gratis Pulsa Perdana IM3 sebesar Rp 5.000 dengan voucher pulsa Rp 10.000 sekaligus bonus 100 SMS tiap hari.

Jika pelanggan mengisi ulang voucher akumulasi Rp 20.000 (tidak berlaku kelipatan), pelanggan IM3 memperoleh Bonus Isi Ulang yang terdiri dari Gratis 50 menit Internet, Gratis 10 menit menelepon dan Gratis 10 SMS yang berlaku maksimal 12x dalam setahun.



Lanjut ah...

HP dan Canon Bersaing di Pasar Printer

DOMINASI Hewlett Packard (HP) di pasar printer laser tidak membuat Canon sebagai pemain utama di pasar ini ketar-ketir. Vendor printer asal Jepang itu justru fokus menggarap segmen printer inkjet.

Pasalnya, menurut perkiraan International Data Coorporation (IDC), pasar printer inkjet pada tahun ini volumenya di atas dua juta unit. Sedangkan market size printer laser menurut perkiraan firma riset itu sekitar 191 ribu unit.

"Kami akan serius menggarap printer inkjet, apalagi tahun lalu kami kuasai 55% market share pasar printer tersebut," kata Senior Marketing Manager PT Datascrip Canon Division Monica Aryasetiawan di Jakarta, belum lama ini.

Sebelumnya, HP mengklaim, produk printer laser miliknya merupakan printer laser dengan penerimaan pasar paling tinggi di Indonesia. Mengutip data dari IDC per kuartal IV 2009, untuk pertumbuhan per kuartal, LaserJet HP mengalami peningkatan menjadi 62,78 % dari kuartal sebelumnya yang hanya 50,93%. Sedangkan pertumbuhan pangsa pasarnya secara tahunan meningkat menjadi 54,35% terhadap tahun 2008.

"Kuartal IV 2009, total pangsa pasar produk ini di Indonesia naik menjadi 62,78% ," kata Director Enterprise Sales and Services, Imaging and Printing Group HP Indonesia Astri R Dharmawan, saat peluncuran printer LaserJet terbaru HP belum lama ini.

Monica menyatakan, penjualan printer Canon pada kuartal IV cukup baik. Untuk printer inkjet multifungsi, kata dia, Canon menguasai pasar dengan pangsa 46% pada 2009, bersaing ketat dengan HP. Khusus pada kuartal IV, market share Canon 49%.

Untuk pasar printer fungsi tunggal, kata dia, Canon menguasai pasar dengan pangsa 59% selama 2009. Sedangkan kuartal IV/2009, Canon menguasai pangsa pasar 64%.

"Meningkatnya penjualan printer Canon didukung kondisi politik dan ekonomi yang stabil sehingga mendorong peningkatan belanja TI," katanya.

Monica menilai, pasar di Indonesia masih dominan menyukai produk-produk yang murah. Untuk itu, pihaknya akan berkonsentrasi menghadirkan produk printer di kelas entry level. Dia juga memperkirakan, pertumbuhan printer inkjet tahun ini sekitar 10%, di mana printer multifungsi menjadi salah satu primadona tahun ini.

"Kami bersaing ketat dengan HP di pasar printer inkjet. Pertumbuhan printer fungsi tunggal sudah minus, yang mungkin masih tumbuh hanya printer multifungsi," kata dia.

Pasar Printer Laser

Astri menyebutkan, pertumbuhan pangsa pasar printer LaserJet terus mengalami pertumbuhan, baik dalam skala per kuartalan maupun tahunan. Secara keseluruhan, pertumbuhan per kuartal printer LaserJet HP mencapai 205%, sedangkan pertumbuhan tahunannya sebesar 157%. "Melihat perkembangan ini, kami optimistis akan terjadi peningkatan pula pada tahun ini," ujar Astri.

Menurut dia, posisi kepemimpinan HP Laser Jet secara keseluruhan di Indonesia mendominasi hampir semua segmen printer dengan pangsa pasar di atas 50 %.

Pada 2009, kata dia, nilai pasar printer laser untuk monokrom (hitam putih) pangsa psarnya sangat dominan yaitu 81%, sedangkan untuk warna mencapai 53,83%. Segmen lainnya yaitu volume laser segmen di tahun yang sama meraih pangsa pasar 64,73% untuk mono dan 60,79% untuk warna. Adapun segmen printer laser multifungsi, sambung Astri, HP meraih pangsa pasar 63,39% untuk monokrom dan 31,54 % untuk warna.

Namun Astri enggan menyebutkan target pertumbuhan yang akan dicapainya pada 2010. "Yang jelas, kami terus berupaya melakukan berbagai inisiatif dan inovasi baru dan meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan agar pertumbuhan produk ini bisa terus berkembang," tandasnya.


Lanjut ah...

Frekuensi BWA Masih Kotor

PEMENANG tender broadband wireless access (BWA) telah membayar lisensi BWA. Hanya saja, kanal frekuensi yang dijanjikan pemerintah itu ternyata masih ‘kotor’ alias dipakai pihak lain secara legal maupun ilegal. Meski Depkominfo menyatakan kanal 2,3 GHz sudah dibersihkan, pemilik lisensi khawatir para pengguna liar itu akan kembali lagi.

Para pemenang tender menuntut Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) agar segera membersihkan kanal untuk BWA itu. Dengan demikian, para pemilik lisensi BWA yang telah mengeluarkan uang banyak untuk membayar lisensi itu bisa segera menggelar jaringan Wimax.

Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Investor Daily dari Presdir PT Jasnita Telekomindo Sammy Pangerapan, wakil dari Konsorsium Wimax Indonesia (KWI) Roy Raharja Yamin dan Ketua Wimax Forum Chapter Indonesia Sylvia Sumarlin. Mereka dihubungi di Jakarta, pekan lalu.

Sammy Pangerapan mengatakan, berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatikan (Kemenkominfo), frekuensi yang masih kotor itu sebenarnya telah disampaikan Kemenkominfo dalam dokumen tender. Frekuensi masih kotor itu di antaranya ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Balikpapan, Aceh, Medan, dan Jatim.

“Namun, di zona yang kami miliki (Sulawesi bagian utara, red) belum ditemukan adanya kanal yang kotor,” kata Sammy, pekan lalu.

Meski demikian, lanjut Sammy, pihaknya sangat berkeinginan untuk menguji kesiapan kanal frekuensi sehingga bisa segera di gelar jaringan Wimax di zona yang dikuasai Jasnita. Untuk uji coba di lapangan itu, pihaknya masih menunggu kesiapan alat pengujian kanal frekuensi.

“Laporan dari Kemenkominfo, sejauh ini di wilayah Manado, di tempat zona kami, belum ditemukan frekuensi kotor. Tetapi, terus terang kami belum uji lapangan untuk membuktikannya,” kata dia.

Hasil observasi Balai Monitoring (Balmon) Spektruk Frekuensi Radio Kelas I Jakarta menyebutkan, kanal frekuensi di Jakarta ditemukenali adanya beberapa pengguna frekuensi radio lain. Namun, Balmon Kelas I Jakarta telah melakukan penertiban untuk pengguna frekuensi radio lain pada pita frekuensi yang telah dialokasikan untuk para pemenang lisensi BWA.

Meski telah ditertibkan, pemilik lisensi BWA masih khawatir para pengguna kanal itu akan kembali lagi memakai kanal frekuensi semula. “Dalam laporan Balmon itu kami mencatat ada banyak pengguna ‘liar’ pada kanal frekuensi 2,3 GHz di Jakarta itu,” kata seorang eksekutif perusahaan yangbaru saja memenangi lisensi BWA.

Masih kotornya kanal frekuensi itulah, menurut sumber tadi, yang membuat para pemilik lisensi BWA menunda penggelaran jaringan Wimax. Bila pembersihan kanal itu berlarut-larut, apalagi ada ancaman kembalinya para pengguna kanal itu secara liar, jelas akan merugikan para pemilik lisensi yang telah melunasi kewajibannya.

Seperti diketahui, ada 30 lisensi BWA pada frekuensi 2,3 GHz yang diberikan pemerintah kepada delapan perusahaan pada November 2009. Yakni, PT Berca Hardaya Perkasa memenangi 14 lisensi, PT Telkom (5), PT Konsorsium Wimax Indonesia (3), PT First Media (2), Konsorsium PT Comtronic System (3) , PT Indosat Mega Media (1), PT Internux (1), dan PT Jasnita Telekomundo (1).

Tuntutan yang Wajar

Menurut Sammy, pembersihan frekuensi merupakan kewajiban Kemenkominfo. Dengan begitu, tuntutan dari pemenang lisensi BWA untuk mempercepat pembersihan frekuensi dinilainya harus direspon cepat oleh Kemenkominfo. Apalagi, pemenang lisensi BWA sudah menuntaskan kewajiban pembayaran Up front fee dan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi.

“Kami menilai tuntutan itu wajar. Kalau kita contohkan orang beli rumah, sebagai pembeli, maka tentunya kita ingin surat-suratnya sudah ada, dan kondisi rumahnya juga sudah baik dan siap huni,” kata Sammy.

Pendapat senada diutarakan Roy Raharja Yamin. Menurut Roy yang juga ketua umum Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), tuntutan para pemilik lisensi BWA agar pemerintah segera membersihkan frekuensi BWA yang akan digunakan merupakan suatu kewajaran. “Permintaan itu sesuatu yang wajar sekali. Kemenkominfo harus segera meresponsnya,” ujar Roy.

Dia menjelaskan, Konsorsium Wimax yang memiliki zona di Riau, Maluku, dan Papua tidak menemukan adanya persoalan frekuensi kotor. Kebanyakan yang menemukan persoalan frekuensi kotor, umumnya berada di Pulau Jawa. Sedangkan di luar Jawa, kebanyakan tidak mengalaminya.

Roy memaklumi, bila sampai sekarang masih ditemukan persoalan tersebut, karena untuk membersihkannya membutuhkan waktu. “Biarkan Kemenkominfo bekerja. Yang kami dengar mereka (Kemenkominfo) sudah mulai bekerja sejak dua bulan lalu,” ujar Roy.

Ketua Wimax Forum Chapter Indonesia, Sylvia Sumarlin juga menilai, permintaan pembersihan frekuensi dari pemenang lisensi BWA merupakan sesuatu yang wajar. “Mereka beli, tentu menginginkan semuanya sudah siap. Saya kira itu permintaan yang wajar, “ ujarnya.

Segera Dibersihkan

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, pemenang lisensi BWA sejak awal sudah mengetahui persoalan frekuensi kotor. Hal ini sudah diinformasikan sejak mengambil dokumen lelang dan dicantumkan dalam penjelasan teknis. Kemenkominfo berkomitmen untuk segera mengatasi persoalan ini secara bertahap.

“Kalau masih ada frekuensi kotor, mohon dimaklumi karena masih masa transisi. Tetapi, persoalan itu sebenarnya sudah dijelaskan sejak awal. Kami tidak ingin pemenang lisensi BWA memiliki perasaan seperti membeli ‘pepesan kosong’. Jadi, berikan kami waktu untuk membersihkannya,” kata Gatot di Jakarta, pekan lalu.

Pemerintah, kata dia, memiliki asumsi setelah mendapatkan ijin prinsip BWA masih butuh waktu enam bulan hingga satu tahun untuk ke tahap operasional. Tenggang waktu itu dimanfaatkan untuk membersihkan frekuensi.

“Kami harap persoalan ini tidak dibesar-besarkan, karena ini semata-mata masalah waktu saja. Kami akan teliti siapa saja penghuni yang masih berada di frekuensi BWA ini. Kalau sudah tak punya ijin pasti akan kami bersihkan,” tegas dia.

Lanjut ah...

Jumat, 19 Maret 2010

Perbankan Nasional Siap Danai Menara

PERBANKAN nasional menyatakan siap dan sanggup mendanai kebutuhan pengusaha lokal membangun menara telekomunikasi. Bahkan, sektor telekomunikasi menjadi pilihan favorit perbankan nasional dalam mengucurkan kreditnya.

Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengemukakan saat ini sudah banyak pembangunan menara yang dibiayai bank-bank nasional. Bank-bank besar, seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank BNI sudah menunjukkan ketertarikannya menopang pembiayaan bagi investasi menara.

“Perbankan menganggap sektor telekomunikasi memiliki persepsi risiko rendah. Jadi, sektor ini menjadi salah satu primadona,” jelas Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono di Jakarta, Rabu (17/3).

Pernyataan Ketua Umum Perbanas ini sekaligus menampik keraguan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan yang menganggap perbankan nasional belum terbukti mampu menopang pembangunan infrastruktur telekomunikasi, khususnya menara telekomunikasi.

Group Head Syndicated Loan Bank BNI M Yudayat membenarkan keterlibatan bank nasional dalam pendanaan pembangunan menara di Indonesia. “Kami sudah membiayai beberapa proyek pembangunan menara yang dikerjakan oleh kontraktor-kontraktor lokal,” jelas Yudayat.

Perbankan menilai, selama ini menara telekomunikasi bukan bisnis negatif. Perbankan menilai, pembiayaan menara layak untuk didukung.

Direktur Bisnis Kelembagaan BRI Asmawi Syam mengatakan, perbankan nasional siap mendanai kebutuhan investasi menara karena sektor telekomunikasi merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional.

Asmawi mengatakan selama ini pembiayaan telekomunikasi sudah didukung bank nasional. Jika ada kebutuhan yang demikian besar, pendanaan bisa dibagi-bagi ke bank lain.

“Kalau ada proyek besar yang masuk seperti pembangunan menara, kita akan lihat kelayakannya,” kata dia.

BRI sudah terlibat dalam pendanaan di sektor telekomunikasi sejak 2007. Dukungan pendanaan itu disalurkan kepada sesama perusahaan BUMN, yaitu Telkom dan anak usahanya, Telkomsel.

Sigit menjelaskan, pendanaan untuk sektor telekomunikasi bisa dicari dari dalam maupun luar negeri. “Tapi, kalau konteksnya operator menara asing yang ingin masuk, BKPM harus berdiskusi lagi dengan Aspimtel (Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi, red),” kata Sigit.

BKPM harus mengkaji persoalan dan kebutuhan pemain lokal di sektor telekomunikasi untuk menghasilkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak. “Kalau mereka masih mampu, kenapa mesti ngotot? Jangan sampai kebijakan bertentangan dengan keadaan industri supaya tidak menjadi persepsi buruk,” tutur Sigit.


Pengusaha Lokal Mampu

Sementara itu, pengusaha nasional Sandiaga Uno masih yakin industri menara dapat dikerjakan oleh perusahaan lokal. Selama ini perbankan nasional juga sudah sangat mendukung untuk pembiayaannya.

“Pengusaha nasional sudah sangat mampu mengembangkan industri menara. Oleh karena itu, pemerintah mesti memberi peluang agar mereka bisa menumbuhkembangkan industri menara di dalam negeri,” tegas dia.

Namun, dia tidak menutup kemungkinan bila asing tetap masuk ke sektor menara. “Kalau asing tetap diizinkan masuk, mereka harus masuk lewat perusahaan yang sudah go public. Ini sesuai dengan aturan pasar modal,” kata Sandiaga.

Dia juga mendukung keputusan Menkominfo Tifatul Sembiring dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang ingin memagari industri menara hanya untuk pemain lokal. “Pemerintah harus memperhatikan bahwa banyak pelaku UKM yang hidup di sektor menara. Sehingga, pemerintah perlu berpihak pada mereka,” tandasnya.

Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno juga tidak mempersoalkan apakah asing boleh atau tidak masuk dalam bisnis menara. “Yang kami, dunia usaha, inginkan adalah pemerintah memberikan kepastian berusaha. Jangan sampai aturan itu selalu berubah-ubah,” kata dia.


Lanjut ah...

Pasar Komputer Tablet Belum Menjanjikan

POTENSI bisnis komputer tablet belum menjanjikan di Tanah Air. Hal ini terkait dengan masih tingginya harga komputer tablet itu. Para peminatnya pun masih terbatas.

Oleh karena itu, banyak vendor komputer (PC) masih menunggu respons pasar sebelum menggelontorkan produk komputer tablet terbarunya.

Demikian rangkuman pendapat dari Sekjen Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Setyo Handono Singgih, Marketing Manager Zyrex Rendy Mulyono, dan IT Store Sales Division PT Sony Indonesia Wilsam Tanto yang dihubungi terpisah di Jakarta, pekan lalu.

Komputer tablet adalah pengembangan notebook dan netbook. Ciri utama dari komputer tablet adalah layarnya yang memiliki kemampuan touch screen. Komputer ini juga bisa difungsikan sebagai ‘kertas digital’ sehingga bisa menuliskan sesuatu di atas layarnya. Hal itu dimungkinkan karena tablet PC dilengkapi teknologi hand recognizing.

“Fasilitas hand recognizing membuat komputer tablet mampu mengenali tulisan tangan penggunanya. Selain itu dengan touchscreen, akses ke menu yang ada di layar menjadi lebih cepat,” kata Setyo.

Dia mengatakan, pasar komputer tablet masih terbatas di Tanah Air. Penjualan komputer jenis ini masih untuk kalangan tertentu, yakni kalangan gadget freak, seperti desainer dan arsitek. "Pasarnya ada, cuma masih terbatas. iPad keluaran Apple, misalnya, hanya orang-orang yang fanatik sama produk Apple," kata dia.

Pasar yang masih terbatas, kata dia, membuat banyak vendor PC tidak terburu-buru meluncurkan komputer tablet. Selain itu, harganya juga masih cukup mahal karena masih diatas US$ 700. “Sepertinya banyak yang masih melihat respons pasar, kalau bagus mereka (vendor) baru berani meluncurkan produknya,” ujarnya.

Pendapat senada diutarakan Marketing Manager Zyrex Rendy Mulyono, dia mengatakan, pasar kompter tablet masih kecil di Indonesia. Konsumen juga lebih memilih notebook atau netbook untuk mengerjakan tugasnya. Kebanyakan konsumen belum familiar dengan komputer tablet, dan cenderung menggunakan laptop yang biasa.

“Pasar belum terlalu siap dengan teknologi ini. Di sisi lain, konsumen masih melihat harga sebagai pertimbangan utama,” ujarnya.

Meski demikian, dia mengaku, Zyrex sudah menjual notebook tablet seri Wakatobi Mini963 pada Agustus tahun lalu. "Produk ini memang bukan unggulan kami," kata dia. Pihaknya membuat gadget tersebut bekerja sama dengan Intel.

Menurut Rendy, komputer tablet berukuran 8,9 inci dirancang untuk dunia pendidikan. Dengan teknologi Intel Atom N270 1,6 GHz, komputer tablet belum didesain untuk komputasi yang berat. "Belum bisa multitasking. Peranti lunaknya pun hanya untuk edukasi dengan Windows XP," ujarnya.

Zyrex belum memutuskan apakah terus memproduksi komputer tablet berlayar sentuh. "Kita lihat dan tunggu pasar dulu," kata Rendy.

Sementara itu, Sony juga belum berencana menjual komputer tablet di Indonesia. IT Store Sales Division PT Sony Indonesia Wilsam Tanto mengatakan, pasar komputer tablet masih kecil. "Minat tablet ini sangat segmented, jadi kami harus melihat dulu tanggapan pasar," ujarnya.

Saat ini Sony terus mendorong penjualan notebook dan netbook. Jika nanti pihaknya harus mengeluarkan produk komputer tablet di Indonesia, kata Wilsam, produk itu harus mempunyai keunggulan dan keunikan dibanding keluaran kompetitor.



Lanjut ah...